Rabu, 23 September 2026, 18:09 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Mantan Anggota Ketua Komisi III DPR dan eks anggota DPD RI Gede Pasek Suardika, melontarkan kritik tajam terhadap sikap kubu Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya terlalu pasif dalam menghadapi polemik gugatan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK).
Pasek menduga adanya motif politik terselubung berupa perebutan kekuasaan dan skenario suksesi di balik pembiaran tersebut.
Menurut Pasek, terdapat ironi besar antara agresivitas Prabowo saat menggandeng Gibran pada masa pencalonan dengan sikap apatis timnya saat ini.
Ia mengingatkan bahwa Prabowo sempat merayu Gibran hingga empat kali demi mendapatkan tuah politik dari Jokowi, setelah sebelumnya berulang kali gagal dalam kontestasi pilpres.
"Kini setelah Gibran resmi menjadi Wapres lalu diserang balik soal ijazah sampai ke MK, kubu Prabowo terkesan cuek dan tidak mau tahu. Seharusnya tim pemenangan totalitas ikut 'berperang' melawan serangan ini, bukan malah jadi penonton dan membiarkan pencalonan Wapres diobok-obok," ujar Pasek dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Pasek turut meluruskan wacana ketatanegaraan yang belakangan berkembang mengenai mekanisme penggantian wakil presiden jika MK mengabulkan gugatan. Ia menolak keras narasi yang memisahkan legitimasi Prabowo dan Gibran.
Ia menegaskan bahwa konstitusi mengatur presiden dan wakil presiden dipilih sebagai satu kesatuan pasangan. Jika syarat awal pendaftaran salah satu kandidat terbukti bermasalah atau cacat administrasi, maka pencalonan keduanya harus dinyatakan gugur secara bersamaan.
"Logika mengganti Wapres dengan menyiapkan dua calon untuk dipilih di MPR itu hanya berlaku jika wakil presiden menjabat meninggal dunia, sakit permanen, atau melakukan tindak pidana. Jika syarat awal pendaftaran yang bermasalah, ya satu pasangan gugur. Waktu dicoblos juga fotonya berpasangan," urai Pasek.
Aroma Pengkhianatan dan Suksesi Terselubung
Lebih jauh, Pasek mencium indikasi kuat adanya pengkhianatan dari internal koalisi pemerintahan. Ia mengibaratkan dinamika saat ini seperti pihak-pihak yang berebut makanan, namun melupakan proses panjang saat mengumpulkan bahan dan memasak bersama.
Serangan masif terhadap posisi Gibran yang tidak dibarengi perlawanan maksimal dari internal koalisi dinilai sebagai bagian dari manuver yang dikendalikan oleh elite ambisius pengincar kursi RI-2. Pasek menyinggung mulai maraknya kandidat potensial yang melakukan manuver "tebar pesona" ke publik.
Sekan-akan menggoyang Gibran ditujukan untuk menyiapkan suksesi di tengah jalan. Bahkan manuver tebar pesona telah diproduksi para calon pengganti dengan beebagai kemasan. Opini penjatuhan Wapres terus diproduksi tetapi perlawanan tidak berjalan secara maksimal.
"Kalau mau dilihat secara kasatmata, sangat terlihat dari kutub mana permainan ini dijalankan. Urut saja latar belakang para pentolannya yang bergerak, publik akan tahu dari mana sebenarnya pemegang remote permainannya dan bagaimana guratan lukisan skenario itu diawali, Kalau saya sih hapal" pungkas Pasek.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat