Pelajar Prancis memasuki minggu keempat protes menuntut perbaikan sekolah di tengah pemotongan anggaran dan kekurangan guru.
Para siswa sekolah menengah di Prancis terlibat ketegangan dengan polisi antihuru-hara CRS saat menggelar aksi duduk untuk memblokir jalan di dekat SMA Hélène-Boucher, Paris, Jumat (16/10/2026). Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang protes yang menuntut perbaikan kondisi sekolah dan mendesak pemerintah mengambil langkah konkret. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)
Aksi yang kini memasuki minggu keempat tersebut berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Sejumlah mahasiswa turut bergabung untuk menyuarakan kekecewaan terhadap sistem pendidikan yang dinilai tidak berfungsi dengan baik. Situasi ini semakin diperburuk oleh pemotongan anggaran di tengah krisis keuangan yang dialami Prancis. Pemerintah pun menghadapi tantangan untuk memenuhi tuntutan peningkatan belanja pendidikan sekaligus mengendalikan utang publik. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)
Gelombang protes tersebut juga memunculkan kekhawatiran akan kembali terjadinya demonstrasi besar di jalanan. Dalam sejarah Prancis, aksi massa kerap memberikan tekanan kepada para pemimpin negara hingga mendorong pembatalan kebijakan penghematan. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)
Polisi antihuru-hara Prancis menangkap seorang pengunjuk rasa saat berhadapan dengan siswa sekolah menengah, orang tua, dan guru yang memblokir jalan di dekat SMA Hélène-Boucher, Paris. Menurut data Kementerian Pendidikan Prancis, hampir 10% jam pelajaran di SMA negeri tidak memiliki pengajar. Kekurangan tenaga pendidik tersebut menjadi salah satu persoalan yang disoroti dalam tuntutan perbaikan sistem pendidikan. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)
Kondisi tersebut turut mendorong semakin banyak orang tua dari kalangan mampu meninggalkan sekolah negeri dan memilih pendidikan swasta bagi anak-anak mereka. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)