Polda NTT resmikan sekolah yang direvitalisasi di pulau terpencil
Rabu, 2 September 2026 13:03 WIB
Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Pol. Rudi Darmoko berbincang-bincang dengan pelajar di salah satu sekolah yang direvitalisasi. ANTARA/Ho-Humas Polda NTT.
Kupang (ANTARA) - Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Pol. Rudi Darmoko meresmikan sekolah yang sudah direvitalisasi oleh Polda NTT di pulau Kukusan sekaligus menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Kukusan, Kabupaten Manggarai Barat yang terpencil.
Kabid HUmas Polda NTT Kombes Pol Hendry Novika Chandra dihubungi dari Kupang, Rabu, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari kepedulian Polda NTT terhadap masyarakat terdampak gempa Flores, sekaligus memperkuat perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan fasilitas.
"MI Al-Hidayah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan di Pulau Kukusan yang berdiri sejak 2001. Sebelum dilakukan revitalisasi, kondisi sekolah tersebut cukup memprihatinkan karena hanya dua ruang kelas yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar," katanya.
Direktorat Polairud Polda NTT kemudian membantu melakukan revitalisasi terhadap dua ruang kelas pada Juni 2026 sehingga saat ini seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran di empat ruang kelas.
Hendry mengatakan Kapolda NTT mengakui masih terdapat sekolah di wilayah NTT yang membutuhkan perhatian dan dukungan bersama.
"Kami memohon maaf. Ternyata masih ada sekolah-sekolah yang kondisinya seperti ini," ujarnya mengutip penegasan Kapolda NTT.
Menurut Kapolda, revitalisasi ruang kelas di MI Al-Hidayah diharapkan dapat memberikan tempat belajar yang lebih layak dan nyaman bagi anak-anak di Pulau Kukusan.
Selain meresmikan revitalisasi sekolah, Kapolda NTT menyerahkan bantuan berupa sembako, susu, mainan anak, dan perlengkapan sekolah kepada masyarakat serta tenaga pendidik.
Polda NTT juga menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak untuk membantu mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami bencana gempa bumi.
Anak-anak diajak bermain dan berinteraksi dalam suasana yang menyenangkan sebagai bagian dari dukungan pemulihan psikososial pascabencana.
"Harapan kami, pascagempa ini anak-anak tidak lagi trauma dan bisa kembali hidup normal sehingga bisa bersekolah lagi," ujar Rudi.
Rangkaian revitalisasi sekolah, penyaluran bantuan kebutuhan pokok dan perlengkapan pendidikan serta trauma healing diharapkan dapat mendukung masyarakat Pulau Kukusan dalam menjalani proses pemulihan pascagempa.
Polda NTT menegaskan bahwa penanganan dampak bencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memastikan anak-anak tetap memperoleh hak atas pendidikan dan dukungan untuk memulihkan kondisi psikologis mereka.
Kepala MI Al-Hidayah Husen mengatakan keterbatasan fasilitas sebelumnya membuat sebagian siswa harus belajar di ruang terbuka.
"Dulu sebelum direnovasi pada Juni 2026 oleh Direktorat Polairud Polda NTT, hanya dua ruangan yang difungsikan untuk belajar. Lainnya belajar di bawah pohon dan selalu terganggu oleh kambing," katanya.
Saat ini, MI Al-Hidayah memiliki 46 siswa dan empat orang tenaga guru.
Husen mengatakan keterbatasan tidak menyurutkan semangat para guru untuk tetap memberikan pendidikan kepada anak-anak di Pulau Kukusan.
"Kualifikasi pendidik di sini masih di bawah standar semua. Di mana saya sebagai kepala madrasah pun sampai hari ini masih kualifikasi non-S-1, namun itu tidak membuat saya merasa bahwa saya tidak bisa, karena memang kalau tidak kami yang berjuang sebagai pendidik di sini, siapa lagi," ujarnya.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.