PLTS Sembur diBatam buka potensi ekonomi baru di pulau kecil

Senin, 21 September 2026 19:05 WIB

Image Print

Gudang pendingin (cold storage) untuk ikan yang menggunakan energi listrik dari PLTS di Pulau Sembur Batam, Kepri, Senin (21/9/2026). (ANTARA/Amandine Nadja)

Batam (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) menyebut Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur, Batam, dapat membuka potensi pengembangan ekonomi baru di pulau-pulau kecil yang selama ini menghadapi keterbatasan akses energi.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Kepri Riki Rionaldi mengatakan pendekatan yang diterapkan di Pulau Sembur relevan dengan kondisi Kepri yang memiliki banyak pulau kecil dengan potensi ekonomi, namun belum seluruhnya memiliki akses listrik memadai.

“PLTS Pulau Sembur ini menjadi percontohan untuk pulau-pulau lainnya di Kepulauan Riau yang masih belum teraliri listrik,” kata Riki di Batam, Senin.

Menurut dia, keterkaitan antara potensi ekonomi lokal dan penyediaan energi membuat pengembangan PLTS berpeluang direplikasi di pulau-pulau lainnya di provinsi itu.

Koperasi Desa Merah Putih di wilayah tersebut juga dapat memulai untuk memetakan potensi ekonomi, kebutuhan energi, hingga peluang kerja sama dengan penyedia teknologi dan investor.

Untuk tahap pertama ini, proyek PLTS diiringi dengan dukungan sarana dan prasarana kegiatan perikanan, seperti mesin pembuat es (ice maker), gudang pendingin (cold storage), serta kapal listrik.

Direktur Energi Terbarukan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tony Susandy mengatakan penyediaan listrik berbasis energi terbarukan di wilayah pesisir dan kepulauan perlu ditempatkan sebagai katalisator kegiatan ekonomi masyarakat.

“PLTS Pulau Sembur ini pembuktian bagaimana Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) dilaksanakan untuk kesejahteraan rakyat,” kata Tony.

Ia mengatakan Kementerian ESDM telah mendukung perencanaan PLTS Pulau Sembur sejak tahap awal di akhir tahun 2025, termasuk melalui koordinasi dengan Kementerian Koperasi dan Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), serta mendukung sertifikasi tenaga operator yang akan mengelola PLTS di bawah koperasi kelurahan Merah Putih Galang Baru.

PLTS Pulau Sembur memiliki kapasitas sekitar 0,92 MWp dan menjadi salah satu proyek awal Program PLTS 100 GWp pemerintah pusat. Pada tahap awal, pemerintah meluncurkan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan kapasitas gabungan sekitar 5,3 GWp.

Wakil Ketua III Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) sekaligus Chief of Operation Apollo Solar Indonesia Hengky Witarsa mengatakan pengembangan PLTS Pulau Sembur menunjukkan bagaimana potensi energi surya dapat diarahkan menjadi produktivitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GW. Menurut Hengky, potensi tersebut perlu dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber energi konvensional.

“Energi surya tidak cukup hanya menghasilkan listrik. Nilai strategisnya muncul ketika listrik tersebut dapat menjaga nilai hasil produksi masyarakat, membuka kegiatan usaha baru, meningkatkan pendapatan, dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.

Ia mengatakan pemanfaatan energi dapat disesuaikan dengan karakteristik ekonomi masing-masing wilayah, seperti untuk gudang pendingin dan pengolahan hasil laut, pertanian, koperasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga kegiatan produktif lainnya.

Model Pulau Sembur diharapkan menjadi pembelajaran dalam mempertemukan penyediaan energi, teknologi, investasi dan kelembagaan koperasi untuk membangun kegiatan ekonomi produktif di pulau-pulau kecil.

Pewarta : Amandine Nadja
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.