REPUBLIKA.CO.ID, BANJARBARU, – Balai Pengelolaan Air Minum (BPAM) Banjarbakula tengah menangani kebocoran pipa transmisi utama air baku berdiameter 1.200 milimeter di wilayah Sei Landas, Desa Mandikapau, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Proses perbaikan diperkirakan memakan waktu hingga 10 hari, dengan mengandalkan intake darurat berkapasitas 120 liter per detik untuk menjaga pasokan.
Kepala BPAM Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas, di Banjarbaru, Ahad, mengatakan bahwa pihaknya segera mematikan pompa Intake Mandikapau dan menutup katup-katup yang terhubung dengan jalur pipa untuk menghentikan aliran air menuju titik kebocoran. Langkah ini diambil untuk mencegah kerusakan yang lebih parah dan memudahkan proses perbaikan.
"Saat ini, petugas melanjutkan penanganan melalui survei kondisi lapangan, pemeriksaan pipa, serta persiapan alat berat dan material perbaikan, termasuk ripper clamp," ujar Wahyu. Ia menambahkan, kedatangan ekskavator masih ditunggu untuk mendukung pekerjaan teknis di lokasi kebocoran.
Target Perbaikan dan Pemulihan Pasokan
BPAM Banjarbakula memperkirakan proses perbaikan membutuhkan waktu sekitar 5–10 hari, dengan mempertimbangkan tahapan pekerjaan teknis hingga sistem transmisi dinyatakan aman untuk kembali dioperasikan. "Setelah perbaikan selesai, pasokan air baku melalui jalur utama dapat dipulihkan secara bertahap," jelas Wahyu.
Untuk mengatasi dampak gangguan ini, BPAM Banjarbakula mengoperasikan intake darurat dengan kemampuan debit sekitar 120 liter per detik. Langkah sementara ini dioptimalkan untuk membantu mempertahankan pasokan air baku di tengah gangguan pada jalur transmisi utama. "Kami berupaya agar pengoperasian tetap berjalan melalui intake darurat. Memang ada gangguan karena kebocoran terjadi pada pipa utama, tetapi kami terus mengoptimalkan sistem yang tersedia agar pasokan air baku tetap dapat berjalan selama perbaikan," tambahnya.
Usulan Revitalisasi Jangka Panjang
Sebagai tindak lanjut jangka panjang, BPAM Banjarbakula telah mengusulkan revitalisasi pipa air baku kepada Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Program ini diharapkan dapat direalisasikan pada tahun 2027 untuk mengurangi risiko kebocoran berulang pada jalur transmisi utama.
Wahyu menegaskan, revitalisasi diperlukan untuk membenahi infrastruktur yang rawan mengalami kebocoran sekaligus meningkatkan keandalan sistem transmisi air baku. Dengan demikian, risiko gangguan serupa dapat diminimalkan dan operasional penyaluran air baku lebih terjaga di masa mendatang.
BPAM Banjarbakula menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan yang ditimbulkan akibat kebocoran tersebut. Pihaknya memastikan pemantauan dan upaya perbaikan terus dilakukan agar sistem transmisi utama dapat kembali beroperasi secara normal setelah pekerjaan dinyatakan aman.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara