asiawebawards.com
  • 2026-08-10 15:08:57 +0000 UTC

    Aug 10, 2026

    PIER: Konsumsi domestik perkuat ekonomi RI di tengah tekanan global

    Jakarta (ANTARA) - Permata Institute for Economic Research (PIER) menilai ekonomi Indonesia perlu semakin mengandalkan kekuatan domestik, terutama konsumsi masyarakat, di tengah meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global.

    Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan sejumlah lembaga internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada tahun ini, namun di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia dinilai masih cukup resilien karena memiliki basis permintaan domestik yang kuat.

    "Kalau lembaga-lembaga dunia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap resilien, artinya ini cukup banyak ditopang oleh ekonomi domestik,” kata Josua dalam pemaparan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 (2Q26) yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

    PIER mencatat adanya pergeseran dinamika mesin pertumbuhan pada kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi, meski perannya sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya seiring normalisasi belanja pascalebaran, dari 5,52 persen year-on-year (YoY) menjadi 5,06 persen YoY.

    Di sisi lain, kontribusi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami peningkatan yang didorong oleh akselerasi pertumbuhan dari 5,96 persen YoY pada kuartal sebelumnya menjadi 6,87 persen YoY.

    Kendati demikian, peningkatan tersebut belum menggantikan posisi konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

    Ia mengatakan penguatan daya beli masyarakat dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ketika permintaan dari pasar eksternal menghadapi tekanan.

    Josua mengatakan Indonesia sendiri masih berada dalam fase recovering, dengan indeks PMI manufaktur berada di atas level 50. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas industri nasional masih berada dalam zona ekspansi, meskipun penguatan ke depan perlu terus dicermati.

    Perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta perang dagang berpotensi membatasi dukungan dari pasar ekspor terhadap perekonomian Indonesia. Perlambatan ekonomi China juga menjadi perhatian mengingat besarnya hubungan perdagangan kedua negara.

    “Memang ini kita perlu cermati lagi, dan apalagi karena ada gejolak dari geopolitik, lalu juga dengan perang dagang, dengan perlambatan Tiongkok, sehingga memang ini menjadi salah satu hal yang perlu kita cermati bahwa dorongan ataupun dukungan dari pasar ekspor, pasar eksternal itu memang akan cukup terbatas,” kata Josua.

    Selain tekanan terhadap ekspor, Josua juga menyoroti kenaikan harga energi sejak Maret 2026 yang menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi global, terutama di negara berkembang yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor minyak mentah.

    Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi yang kemudian berdampak terhadap harga barang dan jasa. Kondisi ini pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat apabila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

    Dalam kondisi tersebut, penguatan konsumsi domestik menjadi semakin penting bagi Indonesia. Pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menciptakan iklim yang mendukung investasi dan aktivitas dunia usaha sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada belanja masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan.

    Baca juga: Qodari nilai pertumbuhan ekonomi 5,29 persen semakin berkualitas

    Baca juga: Roadmap perbankan dan Prabowonomics dalam bingkai komunikasi kritis

    Baca juga: Ekonom: Daya beli kelas menengah bawah kunci ekonomi semester II

    Pewarta: Fitra Ashari
    Editor: Faisal Yunianto
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-10 15:08:57 +0000 UTC