asiawebawards.com
  • 2026-08-07 04:41:23 +0000 UTC

    Aug 07, 2026

    Piala Presiden 2026 tinggalkan warisan fair play dari stadion para pejuang - ANTARA News Megapolitan

    Surabaya (ANTARA) - Peluit panjang mengakhiri adu penalti di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Kamis (6/8) malam. Para pemain Persebaya Surabaya berhamburan ke tengah lapangan merayakan keberhasilan menjuarai Piala Presiden 2026.

    Tangis haru pecah di kubu "Bajul Ijo" setelah Gledson Paixsao Da Silva memastikan kemenangan 6-5 dalam adu penalti, seusai kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit.

    Namun, di tengah luapan emosi itu, ada pemandangan lain yang tak kalah menarik. Kiper Persebaya Reza Arya bersama Ernando Ari lebih dulu berjalan menghampiri pemain-pemain Persib Bandung. Satu per satu mereka menyalami lawan yang baru saja dikalahkan.

    Tak lama kemudian, pelatih, ofisial, hingga pemain kedua tim saling berpelukan dan berbincang. Sebagian masih menyeka air mata, sebagian lain tersenyum. Malam itu, tidak ada lagi sekat antara pemenang dan yang kalah. Barangkali, itulah penutup yang paling tepat bagi perjalanan Piala Presiden 2026.

    Turnamen yang mengusung slogan "Bertanding untuk Juara, Bersatu untuk Indonesia" tidak hanya menghadirkan persaingan antarklub, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sportivitas tetap hidup di tengah tensi pertandingan yang tinggi.

    Menjaga permainan

    Perjalanan Piala Presiden 2026 seolah melintasi jejak perjuangan bangsa. Fase grup dimainkan di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, yang mengambil nama julukan Pahlawan Nasional Otto Iskandardinata.

    Sehari setelahnya, turnamen juga dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya, yang mengabadikan nama pengobar semangat Pertempuran 10 November 1945.

    Puncaknya berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, yang mengambil nama seorang pejuang muda Bali yang gugur mempertahankan kemerdekaan pada usia 20 tahun.

    Di stadion-stadion yang mengabadikan nama para pejuang itu, sepak bola Indonesia kembali mengingatkan bahwa persaingan tidak harus menghilangkan rasa hormat.

    Nilai itu dijaga sejak awal turnamen, salah satunya melalui penggunaan video assistant referee (VAR) secara penuh.

    Pada semifinal antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta, VAR memastikan pelanggaran handball yang dilakukan Kerim Memija di dalam kotak penalti. Keputusan tersebut mengukuhkan hadiah penalti bagi Persib yang sukses dikonversi menjadi gol oleh Balsa Sekulic.

    Di semifinal lainnya, teknologi yang sama justru mengoreksi keputusan wasit. Pemain Arema FC, Matheus Blade, semula diganjar kartu merah langsung saat menghadapi Persebaya.

    Setelah meninjau tayangan ulang melalui monitor VAR, wasit membatalkan kartu merah dan mengubahnya menjadi kartu kuning.

    Satu keputusan dikuatkan, satu keputusan diperbaiki. Keduanya lahir dari tujuan yang sama, memastikan pertandingan berlangsung secara adil.

    Semangat serupa kembali terlihat pada perebutan peringkat ketiga antara Persija Jakarta dan Arema FC.

    Gol Salim yang membawa Arema FC unggul lebih dulu dipastikan melalui pemeriksaan VAR, sebelum disahkan. Tidak lama berselang, gol Joel Vinicius justru dianulir, setelah tayangan ulang menunjukkan adanya handball dalam proses terciptanya gol.

    Persija pun mengalami situasi serupa ketika gol Victor Dethan pada masa tambahan waktu dianulir karena posisi offside yang dipastikan melalui VAR.

    Proses pemeriksaan itu memang membuat pertandingan berlangsung lebih lama. Namun, tambahan waktu yang diberikan wasit menjadi bagian dari upaya memastikan kedua tim memperoleh waktu bermain yang adil. Teknologi menjaga keputusan. Sementara para pemain menjaga nilai permainan.

    Di tengah pertandingan yang berlangsung keras, Gustavo Almeida terlihat membantu pemain Arema FC, Franca, berdiri setelah terjatuh akibat pelanggaran. Pada momen lain, pelatih Persija Shin Tae-yong meminta anak asuhnya mengembalikan penguasaan bola kepada Arema, setelah Hansamu Yama lebih dahulu membuang bola keluar karena melihat rekannya membutuhkan perawatan.

    Peluit panjang laga perebutan tempat ketiga pun ditutup dengan saling berjabat tangan. Para pelatih, ofisial, dan pemain kedua tim saling berpelukan, berbincang, bahkan melempar candaan.

    Menurut pemain Persija Arlyansyah Abdulmanan, pertandingan perebutan peringkat ketiga berlangsung dengan tensi tinggi karena kedua tim sama-sama mengincar kemenangan, namun Persija bersyukur mampu mengakhiri laga dengan hasil positif.

    Adegan-adegan kecil seperti itulah yang membuat fair play tidak berhenti sebagai slogan.
     

    Lorong hormat

    Nilai yang sama kembali hadir pada partai final. Persib Bandung dan Persebaya Surabaya sama-sama datang dengan ambisi mengangkat trofi.

    Selama 120 menit pertandingan, tensi tidak pernah benar-benar turun. Benturan demi benturan tak terhindarkan, tetapi rasa hormat tetap terjaga.

    Ketika Luciano Guaycochea tergeletak sambil memegangi kakinya, Francisco Rivera menjadi pemain pertama yang membantu membangunkannya.

    Yuran Fernandes yang diganjar kartu kuning karena dianggap melanggar Teja Paku Alam langsung menunjukkan gestur meminta maaf sambil mengulurkan tangan.

    Ramadhan Sananta pun menerima kartu kuning yang diberikan wasit tanpa protes dan menyalami wasit sebelum pertandingan kembali dilanjutkan.

    Begitu pula Adzikry Fadlillah. Sesaat setelah mendapat kartu kuning akibat melanggar Gledson, pemain Persib itu langsung membantu lawannya berdiri.

    Di sisi lain, ketika Rivera terjatuh kesakitan setelah mendapat tekel keras, beberapa pemain Persib turut menghampiri untuk memastikan kondisinya.

    Puncak ujian sportivitas datang pada menit ke-112. Wasit memanggil tim VAR untuk meninjau pelanggaran yang dilakukan Mariano Peralta. Setelah melihat tayangan ulang, wasit memutuskan mengeluarkan kartu merah untuk pemain asal Argentina itu.

    Tak ada protes berkepanjangan. Peralta menerima keputusan itu dengan senyuman, sebelum meninggalkan lapangan.

    Mungkin, di situlah makna fair play paling sederhana terlihat. Bukan ketika keputusan selalu menguntungkan, melainkan ketika keputusan diterima dengan lapang dada.

    Laga akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti setelah skor tetap 1-1, hingga babak tambahan waktu usai.

    Sebelum tendangan pertama dilakukan, dua penjaga gawang, Fitrah Maulana dan Reza Arya, saling berjabat tangan dan berpelukan. Sebuah gestur sederhana yang mengingatkan bahwa lawan tidak selalu berarti musuh.

    Adu penalti berlangsung menegangkan. Reza Arya menggagalkan eksekusi pertama Uilliam Barros. Di kubu Persebaya, Yuran Fernandes juga gagal menjalankan tugasnya. Ketegangan terus berlangsung, hingga Gledson Paixsao Da Silva menjadi penendang terakhir yang memastikan kemenangan Persebaya 6-5. Tangis haru pun pecah di kubu "Bajul Ijo".

    Dengan mata berkaca-kaca, Reza Arya mengaku bersyukur Persebaya akhirnya mengakhiri penantian panjang untuk meraih gelar juara Piala Presiden 2026. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Tuhan, keluarga, calon istrinya, serta Bonek dan Bonita yang terus memberikan doa dan dukungan.

    Reza Arya mengatakan dirinya hanya berusaha tampil percaya diri saat menghadapi adu penalti. Menurut dia, hasil pertandingan telah menjadi ketetapan Tuhan dan ia bersyukur dapat menggagalkan dua tendangan penalti Persib.

    Bahkan, sebelum selebrasi juara benar-benar dimulai, Reza Arya bersama Ernando Ari lebih dahulu menghampiri para pemain Persib untuk berjabat tangan.
    Gestur itu kemudian diikuti para pemain, pelatih, dan ofisial kedua tim.

    Mereka saling berbincang, berpelukan, dan tersenyum, meski sebagian masih menyimpan air mata, setelah pertandingan yang menguras tenaga selama dua jam.
    Pemandangan yang lebih menghangatkan kemudian tersaji saat prosesi pengalungan medali.

    Para pemain Persebaya yang baru memastikan gelar juara, berdiri membentuk lorong penghormatan (guard of honour). Tepuk tangan mereka mengiringi langkah para pemain Persib menuju podium untuk menerima medali sebagai runner-up.

    Satu per satu pemain Maung Bandung melintasi lorong penghormatan itu. Meski raut kecewa masih tergambar di wajah mereka, para pemain Persib tetap melangkah tegak menuju podium.

    Di sisi lain, para pemain Persebaya memilih merayakan kemenangan dengan memberikan penghormatan kepada lawan yang telah memaksa mereka bertarung hingga adu penalti.

    Rivalitas yang selama 120 menit begitu terasa seolah berhenti sejenak, dengan menyisakan tepuk tangan, jabat tangan, pelukan, dan penghormatan kepada sesama pesepak bola.

    Trofi Piala Presiden 2026 akhirnya menjadi milik Persebaya Surabaya. Namun, perjalanan turnamen ini meninggalkan cerita yang lebih panjang daripada sekadar siapa yang menjadi juara.

    Dari Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung, Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya, hingga Stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar, Piala Presiden 2026 melintasi stadion-stadion yang mengabadikan nama tokoh-tokoh perjuangan bangsa.

    Delapan puluh tahun setelah I Wayan Dipta gugur mempertahankan kemerdekaan, stadion yang menyandang namanya kembali menjadi saksi sebuah perjuangan yang berbeda. Bukan lagi mengangkat senjata, melainkan menjaga agar persaingan tetap berlangsung dengan rasa hormat.

    Teknologi membantu memastikan keputusan berlangsung adil. Namun, yang membuat sepak bola tetap indah adalah sikap para pelakunya.

    Para pemain menerima keputusan wasit tanpa protes berlebihan, meminta maaf setelah melakukan pelanggaran, membantu lawan yang terjatuh, hingga berdiri memberikan penghormatan kepada tim yang baru saja mereka kalahkan.

    Di stadion-stadion yang mengabadikan nama para pejuang bangsa, fair play tidak berhenti sebagai slogan. Ia hidup dalam setiap uluran tangan, setiap pelukan, setiap tepuk tangan, dan setiap langkah yang mengiringi lawan menuju podium.

    Itulah warisan yang ditinggalkan Piala Presiden 2026. Sebuah pengingat bahwa pada akhirnya sepak bola Indonesia akan selalu lebih besar daripada sekadar menang atau kalah. Selamat untuk kemenangan sepak bola Indonesia.

    Uploader : Naryo

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-07 04:41:23 +0000 UTC