Padang (ANTARA) - Pascabanjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Departemen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Negeri Padang (UNP) hadir melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Berbasis pendanaan nasional DPPM Kemdikti Saintek, PGPAUD UNP meluncurkan program SMART-KIDS atau Smart Media for Recovery and Technology-Based Kids Learning Support di Komunitas Belajar Gugus IVa TK-PAUD Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.

Kegiatan pengabdian dilaksanakan selama dua hari, Jumat-Sabtu, 4-5 September 2026. Program ini menyasar langsung para guru dan komunitas belajar anak usia dini yang terdampak bencana.

Fokus pada media digital adaptif

Ketua tim pelaksana, Dr. Vivi Anggraini,M.Pd., menyampaikan bahwa SMART-KIDS dirancang sebagai jawaban atas tantangan pembelajaran pascabencana.

"Kami mendampingi pendidik untuk mengembangkan media digital yang adaptif. Tujuannya agar pembelajaran anak usia dini tetap berjalan, meskipun kondisi pascabencana," kata Vivi di Salareh Aia, Sabtu (5/9/2026).

Ia menjelaskan tim pelaksana terdiri atas Prof. Dr. Dadan Suryana,M.Pd., Dr. Widya Parikeslan,S.Si.,M.Si., dan Tia Novela,M.Pd. Selain dosen, program ini juga melibatkan empat mahasiswa, yaitu Insaniliah Audia Fajar,S.Pd. (S2 PGPAUD), Dinda Aulia (S1 PGPAUD), Renal Marfireno (KTP), dan Maulian Fadli (S1 PGSD).

Materi pendampingan mencakup pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis teknologi yang interaktif, kreatif, aman, dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini.

"Teknologi di sini bukan untuk menggantikan guru. Guru tetap menjadi pusat pembelajaran. Teknologi hanya sebagai sarana pendukung proses bermain dan belajar anak," katanya.

Bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi

Vivi menambahkan kehadiran SMART-KIDS merupakan bentuk nyata kontribusi PGPAUD UNP melalui skema pengabdian nasional DPPM Kemdikti Saintek. Program ini menjawab kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana, khususnya dalam aspek pemulihan psikososial dan pendidikan anak.

Menurutnya, penguatan kapasitas guru dan komunitas belajar tidak berhenti pada kegiatan dua hari tersebut. Pihaknya berharap pendampingan ini dapat berlanjut menjadi praktik pembelajaran digital yang berkelanjutan di Salareh Aia.

"Kami berharap apa yang dimulai di Salareh Aia ini bisa menjadi praktik baik. Ke depan bisa dikembangkan juga di satuan PAUD lain di wilayah terdampak bencana," ujarnya.

Salah satu guru TK-PAUD di Salareh Aia Timur mengaku sangat terbantu dengan adanya pendampingan ini. Selama ini mereka kesulitan membuat media belajar karena keterbatasan sarana pascabanjir.

Dengan adanya SMART-KIDS, para guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak, sekaligus membantu proses pemulihan trauma pascabencana melalui aktivitas bermain yang edukatif.

Program SMART-KIDS ditutup dengan penyerahan contoh media digital sederhana dan sesi diskusi bersama guru. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan hingga akhir.