Petani di Cirebon sebut harga gabah masih menguntungkan usai panen - ANTARA News Jawa Barat
Bandung (ANTARA) - Sejumlah petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyebutkan harga gabah kering panen (GKP) saat ini masih menguntungkan berkat kebijakan pemerintah dalam menjaga harga di tingkat petani, meski telah turun dari puncaknya menjadi sekitar Rp7.200-Rp7.300 per kilogram.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Rojai di Cirebon, Selasa, mengatakan harga gabah sempat mencapai Rp8.000 per kilogram saat puncak panen musim tanam pertama (MT1), sebelum kembali stabil.
"Pas puncak-puncaknya Rp8.000. Sekarang sekitar Rp7.200 sampai Rp7.300," katanya.
Menurut dia, harga saat ini masih memberikan keuntungan bagi petani sekaligus menjaga semangat mereka untuk kembali menanam setelah panen pertama berakhir.
Setelah gabah diangkut, kata dia, petani mulai membajak kembali lahan untuk memasuki musim tanam kedua (MT2).
Rojai menyebut hasil panen tetap baik meski pada awal tahun tanaman padi sempat diserang hama tikus, dengan produktivitas rata-rata mencapai 6-7 ton gabah per hektare.
"Walaupun sempat ada serangan tikus, hasil panen masih sekitar enam sampai tujuh ton per hektare," ujarnya.
Ia mengatakan Gapoktan Makmur menaungi enam kelompok tani dengan total lahan sekitar 125,5 hektare, sedangkan sebanyak 208 petani menggantungkan mata pencaharian dari areal persawahan tersebut.
Selain harga gabah yang dinilai menguntungkan, Rojai mengatakan petani juga tidak mengalami kendala memperoleh pupuk bersubsidi karena penyalurannya berjalan sesuai kebutuhan.
Ia menjelaskan alokasi pupuk bersubsidi diajukan melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) setiap tahun, dengan kuota satu ton per hektare per tahun yang disesuaikan berdasarkan rencana dua atau tiga kali musim tanam.
Menurut dia, tantangan yang mulai dihadapi petani saat ini ialah berkurangnya pasokan air di sejumlah wilayah saat musim kemarau, meski lahan yang memperoleh suplai dari Daerah Irigasi Rentang masih relatif aman.
"Yang tidak aman daerah selatan. Hampir tiap petak itu pakai pompa semua," ujarnya.
Senada dengan itu, petani asal Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Surwadi, mengatakan harga gabah saat ini masih menguntungkan bagi petani meski tidak lagi berada di level tertinggi seperti saat puncak panen.
"Harga sekarang masih menguntungkan dan sangat membantu petani. Dengan harga seperti ini, kami masih bisa menutup biaya produksi sekaligus menjadi modal untuk kembali menanam pada musim berikutnya," kata Surwadi.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya mengatakan produksi gabah kering giling (GKG) pada panen pertama periode Januari-April 2026 mencapai 139.811 ton atau setara 89.633 ton beras berkat pendampingan petani, percepatan masa tanam, dan penguatan koordinasi dengan kelompok tani.
Pihaknya mendata produksi beras Kabupaten Cirebon sepanjang 2025 mencapai 296.416 ton atau melampaui kebutuhan masyarakat sebesar 229.310 ton, sehingga daerah tersebut masih mencatat surplus sekitar 67.106 ton untuk menjaga ketahanan pangan dan stabilitas pasokan beras.
Pewarta: Fatnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.