Perempuan merajut harmoni di tanah nikel

Rabu, 26 Agustus 2026 20:39 WIB

Image Print

Pekerja perempuan yang ada di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP). ANTARA/HO/Dokumentasi Imip

Morowali (ANTARA) - Sore di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, Lisnawati sibuk menata kemasan oleh-oleh khas Morowali. Sesekali gawai di tangannya bergetar. Menandakan pesanan masuk. “Alhamdulillah, sekarang saya bisa beli makanan yang enak untuk keluarga,” katanya.

Bagi perempuan 43 tahun itu, notifikasi bukan sekadar transaksi. Tapi, tanda bahwa perjuangannya membuahkan hasil.

Beberapa tahun lalu hidupnya jauh berbeda. Penghasilannya sebagai tenaga honorer di Kantor Desa Labota hamper selalu habis sebeum akhir bulan. Tiga cicilan yang harus dibayar, buat setiap lembar rupiah terasa begitu berharga. Tuntutan ekonomi yang dorong saya berani mulai usaha,” ujarnya.

2019, Lisnawati memulai usaha dengan modal Rp2 juta dari tabungannya sebagai tenaga honorer. Usaha itu kemudian dikenal dengan nama ‘Oleh-Oleh Khas Morowali-Lis Andi Sompo’.

Lisnawati, pelaku UMKM yang ada di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Foto : ANTARA/HO/ (Dokumentasi Pribadi)

Jalannya tidak mudah. Merintis usaha tidak pernah semudah membayangkan.

Produk sebagian besar berasal dari Wosu, Kecamatan Bungku Barat, yang diproduksi orang tuanya. Untuk mengambil stok, ia harus menempuh perjalanan sekitar 86 kilometer. Biaya bahan bakar kerap menggerus keuntungan. “Bensin menjadi tantangan terbesar saat itu,” Kenangnya.

Ada kala keuntungan yang diperoleh nyaris habis untuk menutup biaya transportasi. Bahkan, modalnya pernah ludes hanya karena ia terlalu dermawan membagikan sampel produk kepada kawan-kawannya. “Kalau ingin maju, jangan takut memulai,” begitu prinsip yang terus ia pegang.

Seiring megahnya PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berdiri, Jalanan yang dulu sepi, kini riuh oleh lalu lalang pekerja. Warung, rumah kontrakan, toko, hingga berbagai usaha baru tumbuh.

Perlahan, roda kehidupannya berputar ke arah yang berbeda. Pesanan bertambah. Usaha kecil Lisnawati ikut tumbuh.

Pagi hingga siang ia menjadi tenaga honorer. Sore dan malam digunakan untuk mengurus usaha, melayani pesanan hingga menyiapkan stok. Ia juga mengikuti bimbingan teknis yang diselenggarakan IMIP untuk pelaku UMKM. “Semoga IMIP sering buat kegiatan seperti itu,” harapnya.

Kini omzet usahanya rata-rata mencapai sekitar Rp500 ribu per hari. Namun, yang paling berarti baginya bukan angka, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil usahanya sendiri.

“Harus optimis, jangan pesimis. Kalau ingin maju, jangan takut memulai dan terus semangat menjalankan usaha,”pesannya kepada perempuan lain yang ingin mengikuti jejaknya.

Ia masih menyimpan mimpi. Punya toko oleh-oleh, agar produk khas Morowali semakin dikenal.

Hasil riset Tim Research and Support PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) menunjukkan jumlah UMKM di Kecamatan Bahodopi meningkat dari 5.034 unit pada 2022 menjadi 7.643 unit pada 2025, tumbuh sekitar 51,9 persen dalam tiga tahun.

Data jumlah UMKM di Kecamatan Bahodop oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) Data : PT IMIP, Grafik : Kecerdasan buatan (AI)

Dari ruang kelas ke riuh industri nikel

Lisnawati menyerap berkah dari luar pagar industri adalah satu sisi mata uang. Di sisi lain, di balik gerbang kokoh PT IMIP, ada jemari perempuan lain yang memutar roda takdirnya sendiri. Perempuan itu bernama Busra.

Jauh sebelum menjabat sebagai Senior Staff Administrasi di Departemen External Affairs PT IMIP, Busra adalah seorang guru honorer.

Lulusan Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar tahun 2006 itu pulang ke Morowali membawa cita-cita sederhana. Mengajar dan melihat murid-muridnya di Madrasah Aliyah tumbuh. Hampir empat tahun ia mengabdi. “Senang melihat perkembangan murid. Dari tidak tahu menjadi tahu,” kata Busra.

Namun, idealisme berhadapan dengan kebutuhan hidup. Honor Rp350 ribu per bulan, yang kerap diterima terlambat, membuatnya harus menimbang antara kecintaan pada profesi dan kebutuhan keluarga.

“Semuanya saya syukuri karena itu adalah awal perjalanan karier saya,” ujarnya.

Tahun 2010 menjadi titik balik. Sebuah kabar hinggap di telinganya. PT Bintangdelapan Mineral (BDM), cikal bakal kawasan IMIP, membuka lowongan dengan tawaran gaji lebih dari Rp3 juta. Busra memberanikan diri meninggalkan ruang kelas.

Ia memutus urat ragunya. Melangkah melintasi pintu pabrik tanpa syarat. “Yang penting diterima dulu, apa saja pekerjaannya asal halal,” pikirnya saat itu. Ia kemudian bergabung dan diterima berkerja sebagai staf administrasi di bagian Humas dan Community Development.

Lima tahun kemudian, seiring berkembangnya kawasan industri, Busra bersama sejumlah rekan dialihkan ke PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang berfokus pada industri pengolahan nikel.

“Pada awal bergabung saya bekerja di PT BDM yang berfokus pada industri pertambangan. Setelah tahun 2015 kami dialihkan ke PT IMIP yang berfokus pada industri nikel hingga sekarang,” tuturnya.

Perpindahan itu bukan sekadar perubahan nama perusahaan. Ia jadi saksi bagaimana sebuah kawasan industri tumbuh dari tahun ke tahun menarik ribuan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia dan mengubah wajah Bahodopi jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Peralihan dari ruang kelas ke tengah hiruk-pikuk industri bukan tanpa tantangan. Busra harus beradaptasi dengan budaya kerja baru, alur pekerjaan, serta lingkungan yang didominasi laki-laki.

Alih-alih mundur, Busra memilih belajar dan beradaptasi.

“Tantangannya adalah penyesuaian budaya di kantor, memahami alur kerja dan membangun komunikasi dengan rekan kerja, apalagi pada saat itu posisi saya hanya sendiri perempuan yang dominan karyawannya laki-laki khusus di ruangan Humas,” ceritanya.

Busra, Senior Staff Administrasi di Departemen External Affairs PT IMIP saat berada di ruang kerjanya. Foto : ANTARA/HO/ (Dokumentasi Pribadi)


Kerja keras itu kemudian berbuah kepercayaan. Busra dua kali meraih penghargaan sebagai karyawan terbaik. Ia dipercaya menangani administrasi strategis, menjadi pembawa acara dalam agenda perusahaan, hingga menjadi juri berbagai kegiatan.

Lebih dari itu, perubahan tersebut juga membawa dampak besar bagi keluarganya. Dari hasil kerjanya, Busra mampu memiliki rumah sendiri, membeli kendaraan, membangun usaha rumah kos, hingga menyekolahkan anaknya ke luar daerah.“Alhamdulillah,” ucapnya bersyukur. Impian yang dahulu terasa jauh kini perlahan menjadi kenyataan.

Namun, bagi Busra, keberhasilan itu bukan sekadar tentang jabatan, penghargaan, ataupun aset yang berhasil dimiliki.

“Menjadi perempuan bukanlah penghalang untuk berkarier. Kesuksesan bukan datang karena kita menunggu, tetapi karena kemauan, tekad, konsisten, ikhtiar, dan doa,” pesannya.

Perempuan bukan penonton

Hingga Juli 2026, sebanyak 8.092 perempuan bekerja di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), atau sekitar 8,3 persen dari total 94.890 tenaga kerja.

Mereka hadir bukan hanya di ruang administrasi. Sebagian berada di posisi yang selama ini lekat dengan laki-laki, termasuk mengoperasikan hoist crane dan memimpin tim kerja.

Bagi Direktur Komunikasi PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Emilia Bassar, jawabannya terletak pada satu kata, ‘kesempatan’. Menurutnya, perempuan tidak lagi dipandang sebagai pelengkap dalam industri berbasis mineral.

"Perempuan di kawasan industri berbasis mineral tidak hanya menembus batas, tetapi juga menciptakan standar baru dalam profesionalisme dan kepemimpinan," ujarnya.

639 perempuan dipercaya menjadi foreman, supervisor hingga manajer, sementara sekitar 280 lainnya bekerja sebagai operator hoist crane. Mengendalikan alat berat yang menjadi bagian penting dalam rantai produksi industri nikel. “Tiga tahun lalu, hampir tidak ada perempuan yang mengoperasikan alat berat di kawasan ini,” katanya.

Jalur karier di kawasan IMIP juga terbuka bagi seluruh karyawan, termasuk perempuan.

Sepanjang September 2025 hingga Januari 2026, PT IMIP menggelar 10 sesi pelatihan kepemimpinan. Melibatkan 57 perempuan dari berbagai jenjang. Pesertanya datang dari crew dan junior staff hingga foreman, supervisor, bahkan General Manager.

Programnya beragam, dari Front Line Leader, Strategic Leadership, Direct Engaging Leadership hingga Collaborative Empowering Leadership. “Ada seorang perempuan di level General Manager yang ikut dalam program kepemimpinan tingkat lanjut, menunjukkan bahwa pengembangan ini berjalan dari bawah sekaligus dari atas secara bersamaan,” pungkasnya.

Pintu pengembangan juga dibuka melalui pelatihan teknis, termasuk sertifikasi K3 dan pengoperasian alat berat.

Data pekerja perempuan di kawasan PT IMIP. Grafik : Kecerdasan buatan (Ai)

Namun membuka pintu pekerjaan dan jenjang karier belum cukup. Ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting. Rasa aman.

Upaya pencegahan juga dilakukan. Februari dan Maret 2026, IMHC menggelar kampanye Workplace Sexual Harassment yang diikuti 72 peserta.

Perlindungan terhadap pekerja perempuan juga diperkuat melalui kebijakan ketenagakerjaan, fasilitas ruang laktasi, transportasi dengan ruang khusus perempuan, serta sanksi terhadap pelecehan seksual yang diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama.

“Yang lebih penting, perempuan diberi akses ke pelatihan teknis yang sama dengan rekan laki-lakinya. Tidak ada pekerjaan yang kami tutup akses bagi perempuan, selama mereka memenuhi kompetensi dan standar keselamatan yang dipersyaratkan,” kata Emilia.

IMIP juga memiliki layanan kesehatan mental dengan nama IMIP Mental Health Center (IMHC), unit yang beroperasi sejak 2024 di Klinik 2, Lantai 2, Poli Psikologi. Layanan itu dapat diakses seluruh karyawan dengan menunjukkan kartu identitas.

Direktur Komunikasi PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Emilia Bassar. Foto : ANTARA/HO (Dokumentasi PT IMIP)


Namun cerita perempuan di Morowali tidak berhenti di dalam kawasan industri. Denyut pertumbuhan juga mengalir ke luar pagar melalui masyarakat dan pelaku usaha di lingkar kawasan.

Geliat usaha perempuan juga tumbuh mengikuti aktivitas kawasan. Di lingkar kawasan Bahodopi tercatat 7.643 UMKM, dengan sekitar 26 persen bergerak di sektor kuliner. “Ini adalah cermin nyata dari efek pengganda kehadiran kawasan ini pada ekonomi perempuan local,” tutur Emilia.

Pemberdayaan perempuan di sekitar kawasan IMIP juga tidak berhenti di ruang pelatihan. Keterampilan didorong menemukan jalannya menuju pasar.

Kelompok ecoprint di Desa Matansala dan Bahomakmur, misalnya, mendapat pendampingan mulai dari membuat produk hingga memasarkannya. Di sektor pariwisata, perempuan juga dilibatkan melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), termasuk dalam pengelolaan Wisata Mangrove Padabaho.

Di titik ini, industri mulai bertemu dengan denyut ekonomi masyarakat. Produk perempuan mendapat ruang untuk dijual, pelaku kuliner menemukan pasar dari aktivitas ribuan pekerja, sementara usaha kecil perlahan tumbuh mengikuti arus kawasan.

Jalur yang sama dibuka bagi kelompok tani Desa Le-Le. Tak hanya mendapat pembinaan budidaya, hasil pertanian mereka diserap langsung oleh Central Kitchen kawasan dengan pengiriman empat hingga lima kali setiap bulan. Sejak 2023, pendapatan gabungan dua kelompok tani itu telah melampaui Rp1 miliar. “Keterampilan tanpa pasar bisa kembali menjadi sekadar keterampilan,” ujar Emilia.

Data yang disampaikan Emilia menunjukkan pertumbuhan ekonomi Morowali meningkat dari 5,54 persen sebelum perkembangan IMIP menjadi 24,19 persen setelahnya. PDRB per kapita juga disebut meningkat dari sekitar Rp126 juta menjadi Rp1 miliar pada periode 2016 hingga 2024.

“Bayangkan seperti apa lompatan itu jika semakin banyak perempuan yang tidak hanya bekerja di kawasan, tapi juga memimpin, membangun usaha, dan mendidik generasi berikutnya,” kata Emilia.

Ia membayangkan Morowali tidak berhenti sebagai pusat industri nikel. Kabupaten itu, menurutnya, memiliki peluang menjadi model transformasi kawasan berbasis kesetaraan di Indonesia Timur.

Ia menggambarkan harmoni itu melalui wajah-wajah yang hidup di sekitar kawasan.

“Ada perempuan dari Makassar yang mengoperasikan crane. Ada putri terbaik Morowali yang kini memimpin tim produksi. Ada komunitas petani yang memasok sayuran ke dapur kawasan. Itu yang saya sebut harmoni. Industri yang tumbuh, tapi tidak tumbuh sendirian,” ujar Emilia.

Di sanalah Emilia melihat makna harmoni. Kawasan IMIP yang mempertemukan puluhan ribu pekerja dari berbagai daerah, dengan bahasa, budaya dan pengalaman yang berbeda. Di luar kawasan, ada petani, pelaku UMKM dan masyarakat desa yang ikut bergerak mengikuti pertumbuhan industri.

Sebab industri yang berkelanjutan bukan hanya tentang seberapa besar ia tumbuh, tetapi tentang seberapa banyak orang yang ikut tumbuh bersamanya.

Dan di Morowali, perempuan perlahan bukan lagi penonton. Mereka ikut menuliskan ceritanya.

Kawasan Industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Foto : ANTARA/HO (Dokumentasi PT.IMIP)

Oleh Rangga Musabar
Editor: Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026