Peneliti Australia bidik makanan ultraolahan dan minuman berpemanis
Canberra (ANTARA) - Sebuah program penelitian baru akan mengkaji kebijakan yang bertujuan mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan dan minuman manis di Australia karena obesitas dan penyakit kronis terkait diet memberikan tekanan yang semakin besar pada sistem kesehatan.
Program lima tahun ini, yang didanai oleh Hibah Peneliti Dewan Riset Kesehatan dan Medis Nasional, akan menghasilkan bukti untuk menginformasikan keputusan kebijakan terkait ketersediaan dan pemasaran makanan dan minuman tersebut secara luas, menurut pernyataan yang dirilis Rabu oleh Institut Riset Kesehatan dan Medis Australia Selatan.
Dua dari tiga orang dewasa Australia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, sementara makanan ultraolahan dan minuman berpemanis menyumbang 42 persen dari pola makan warga Australia, ungkap pernyataan tersebut.
"Banyak produk ini dirancang, dipasarkan, dan dikemas sedemikian rupa sehingga mendorong konsumsi berlebihan," kata Profesor Caroline Miller, direktur pusat kebijakan kesehatan institut penelitian tersebut, seraya mengatakan bahwa lingkungan pangan saat ini menyulitkan masyarakat untuk membuat pilihan berdasarkan informasi yang memadai, sehingga menegaskan perlunya kebijakan yang mendukung pilihan yang lebih sehat.
Salah satu fokus utama penelitian tersebut adalah mengevaluasi efektivitas label peringatan pada bagian depan kemasan dalam mengurangi konsumsi produk berkadar gula tinggi, yang dapat membantu masyarakat "lebih memahami apa yang mereka konsumsi dan mendorong pilihan yang lebih sehat," kata Miller.
Program tersebut juga akan menyediakan data terkini mengenai pola konsumsi masyarakat Australia serta pandangan publik terhadap kemungkinan kebijakan yang dapat diterapkan, termasuk pelabelan, regulasi, dan intervensi lainnya, kata para peneliti, seraya menambahkan bahwa mereka akan bekerja sama erat dengan pembuat kebijakan untuk memastikan hasil penelitian dapat dituangkan menjadi rekomendasi praktis berbasis bukti.
Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.