Surabaya (ANTARA) - Papan putih di Posko Terpadu Kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menjadi magnet kuat bagi sejumlah orang yang terlihat bingung.
Sejumlah orang berjajar fokus melihat kertas putih dengan sederet daftar nama dengan wajah harap-harap cemas.
Kertas di papan itu berisi daftar nama penumpang KMP Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).
Seperti Ruswi (25) yang memilih tetap bertahan yang bukan sekadar untuk mencari informasi, tetapi membawa harapan keluarga agar Edi Sukamto, anak buah kapal (ABK), segera ditemukan.
Edi merupakan warga Dusun Brak Sari, Kemuning, Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang bekerja sebagai oiler atau kru kapal yang bertugas di bagian mesin.
Ia menjadi salah satu ABK KMP Virgo Transport 8 yang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin dilaporkan hilang kontak.
Bagi keluarga, menunggu kabar mengenai kapal tersebut menjadi harapan besar yang tetap dijaga dengan penuh sabar.
Komunikasi terakhir Edi dengan keluarga terjadi pada Sabtu (12/9/2026), sekitar waktu magrib. Setelah itu, tidak ada lagi pesan maupun kabar dari Edi.
“Lepas magrib, setelah itu tidak ada komunikasi sama sekali sampai hari ini,” kata Ruswi, saat ditemui di pelabuhan.
Tidak adanya komunikasi terasa berbeda bagi keluarga karena Edi selama ini dikenal rutin menghubungi mereka melalui pesan WhatsApp.
Keluarga kemudian mengetahui kabar hilangnya kapal melalui informasi yang beredar di media sosial. Sejak saat itu, harapan mereka bertumpu pada proses pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan.
Ruswi mengaku keluarganya telah pasrah dengan segala kemungkinan, meskipun hal itu bukan berarti berhenti berharap. Mereka masih menunggu satu kepastian tentang keberadaan Edi.
“Semoga diberi kekuatan dan dalam laut itu, dasar laut kan, semoga yang terbaik saja,” ucapnya.
Bagi keluarga Edi, ditemukan menjadi harapan utama. Jika masih selamat, tentu kepulangan Edi menjadi penantian yang paling diinginkan.
Hanya saja, apabila kemungkinan terburuk terjadi, keluarga tetap berharap jasadnya dapat ditemukan dan dibawa pulang.
Berbeda dengan Umi. Wajahnya terlihat sedih dan sempat menitikkan air mata, kala menceritakan sedang menantikan kabar suami dan adiknya.
"Belum ditemukan sampai sekarang. Saya ini masih nunggu info dari banjar (Banjarmasin)," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Suami Umi, Yusuf, merupakan sopir truk ekspedisi, yang dibantu adiknya bernama Adam sebagai kenek truk.
Dirinya hanya bisa melangitkan doa untuk menjaga asa agar kedua orang yang dicintainya ditemukan tim penyelamat.
"Harapannya suami saya sama adik saya cepat ditemukan. Pokoknya harus diupayakan selamat gitu," katanya, penuh harap.
Sementara Elvira, warga Tambaksari, Surabaya, terlihat bingung mencari data kakeknya Imam Suparno (66 tahun) yang masuk manivest KMP Virgo Transport 8.
Dia menceritakan kakeknya sempat diminta temannya untuk tidak naik kapal tersebut, karena waktunya terlalu mendesak.
"Temannya minta agar naik kapal pada keberangkatan berikutnya, tapi kakek memaksa naik kapal Virgo ini. Soalnya kebiasaan naik Virgo, katanya," tuturnya.
Dirinya berharap agar tim penyelamat bisa segera menemukan kakeknya dengan keadaan selamat.
Sesuatu yang tersisa adalah rangkaian doa, harapan, dan keinginan sederhana, para penumpang ditemukan dan keluarga memperoleh kepastian.
Di balik doa dari keluarga penumpang dan awak KMP Virgo Transport 8, tim penyelamat dari Basarnas hingga Senin (14/9/2026) pukul 09.00 WIB mengumumkan, korban kecelakaan KMP Virgo Transport 8 yang telah dievakuasi sebanyak 114 orang, dengan rincian 108 orang selamat, enam meninggal dunia, dan 124 lainnya masih dalam pencarian.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono memantau Posko Terpadu Kecelakaan kapal tersebut di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan menyapa keluarga korban sebagai upaya penguatan dan menjaga harapan.
Di tengah kunjungannya, Ketua Kelompok Fraksi Komisi VII DPR RI ini berharap PT Jasa Raharja segera memproses santunan bagi korban kecelakaan KMP tersebut.
"Saya titipkan kepada asuransi Jasa Raharja, cepat bergerak untuk segera memberikan santunan. Penumpang yang tidak ditemukan sudah masuk dalam manifes harus mendapatkan penggantian dari asuransi ini," kata anggota DPR RI Daerah Pemilihan Surabaya itu.
Bagi Bambang Haryo santunan itu tidak bisa menggantikan keluarga yang hilang, tetapi penyerahan hak tersebut menjadi salah satu tanda negara hadir dan memberi perhatian terhadap warga yang mengalami musibah.
Ia menegaskan korban yang telah tercatat dalam manifes harus mendapatkan hak asuransi, termasuk penumpang yang hingga kini belum ditemukan.
Hal itu, karena mereka telah membayar premi sebelum kecelakaan terjadi, sehingga sudah sepatutnya santunan segera diberikan ketika ada kejadian yang tidak diinginkan.
Dirinya juga berharap Jasa Raharja mempermudah proses pemberian santunan karena masyarakat telah membayar premi asuransi sebelum kecelakaan terjadi.
"Jasa Raharja tidak boleh mempersulit karena masyarakat membayar sebelum terjadi kejadian. Mereka sudah membayar," ujarnya.
Bambang Haryo juga meminta proses pencarian korban terus dilakukan secara maksimal, sehingga keluarga mendapatkan kepastian mengenai kondisi anggota keluarganya.
Bambang menilai keselamatan transportasi laut merupakan tanggung jawab bersama regulator, operator, pengelola pelabuhan, konsumen, hingga tim penyelamat.
Karena itu, edukasi keselamatan dan pengawasan terhadap muatan kapal perlu diperkuat untuk mencegah kejadian serupa.
Pewarta: Willi Irawan/Faizal Falakki
Editor: Erie Syahrizal
COPYRIGHT © ANTARA 2026