Padang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) memperkuat literasi masyarakat melalui Festival Literasi Daerah Sumbar 2026 di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dengan mengangkat tema "Peranan Literasi dalam Menjaga Alam dan Melestarikan Budaya" yang mampu berpikir kritis dan berinovasi ditengah perkembangan teknologi saat ini.

"Perkembangan teknologi harus kita manfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan literasi yang kuat agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menghasilkan karya dan inovasi yang tetap berlandaskan nilai budaya dan kearifan lokal," kata Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah di Padang, Selasa.

Ia mengatakan gerakan literasi tidak sebatas kemampuan membaca buku dan bukan semata-mata urusan perpustakaan saja, tetapi merupakan bagian dari upaya menyiapkan masyarakat Sumbar menghadapi perubahan.

Tema yang diangkat pada festival literasi tahun ini relevan dengan arah pembangunan Sumbar karena alam dan budaya merupakan kekayaan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

"Literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat membentuk pola pikir dan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perkembangan zaman. Yang kita bangun melalui gerakan literasi ini adalah masyarakat yang memiliki bekal pengetahuan untuk menghadapi tantangan dan perubahan di masa mendatang. Dan upaya meningkatkan literasi juga haru berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian budaya sebagai warisan untuk generasi berikutnya," ujarnya.

Sementara Ketua Festival Literasi Daerah Provinsi Sumbar 2026 Jumaidi mengatakan festival tersebut menjadi wabah kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat gerakan literasi di daerah.

"Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan pemerintah, perpustakaan, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, media dan masyarakat.Rangkaian kegiatan meliputi bimbingan teknis literasi, kepenulisan berbasis konten budaya lokal, lomba perpustakaan desa/nagari, lomba bertutur, pameran dan gelar karya literasi, bazar buku dan UMKM, serta sejumlah layanan bagi masyarakat," kata dia.

Ia mengatakan peningkatan minat masyarakat mengakses perpustakaan menunjukkan semakin tumbuhnya kesadaran akan pentingnya literasi di Sumbar. Berdasarkan data Goodstats dan Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Sumbar tercatat mengalami peningkatan pada kunjungan masyarakat ke perpustakaan sebesar 17,75 persen.

"Kunjungan fisik masyarakat ke Perpustakaan Daerah meningkat dari 60.693 pengunjung pada 2024 menjadi sekitar 67.000 pengunjung pada 2025," ujarnya.

Sejalan dengan itu, Bunda Literasi Sumbar Harneli Bahar mengatakan literasi bukan hanya program, tetapi harus tumbuh menjadi kebiasaan, kebutuhan dan akhirnya menjadi budaya masyarakat.

Ia mengatakan literasi mencakup kemampuan memahami, berpikir kritis, menilai informasi secara bijak, mengenali lingkungan, memahami budaya serta menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan tindakan yang bermanfaat.

"Literasi harus dijadikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak cukup hanya membaca dan memperoleh informasi, tetapi masyarakat juga perlu memahami apa yang dibaca, mampu menyaring informasi, mengenali lingkungan dan budayanya serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan," ujarnya.