Pemprov Jateng sebutkan investasi Australia 350 juta dolar AS masuk Batang
Pemprov Jateng sebutkan investasi Australia 350 juta dolar AS masuk Batang
Senin, 3 Agustus 2026 19:23 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menerima audiensi Chairman PBT Stephen Wilmot, di Semarang, Senin (3/8/2026). ANTARA/HO-Pemprov Jateng
Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebutkan bahwa perusahaan asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT) berkomitmen menanamkan modal sekitar 350 juta dolar AS di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, di Semarang, Senin, menjelaskan investasi tersebut bergerak di sektor fasilitas produksi bahan prekursor katoda aktif atau precursor cathode active material (PCAM).
Ia memproyeksikan proyek investasi tersebut mampu menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja pada masa konstruksinya, dan pabrik tersebut rencananya akan dibangun mulai 2027.
Menurut dia, investasi tersebut sejalan dengan arah pengembangan energi terbarukan di Jateng, dan berharap hasil produksi pabrik tidak hanya ditujukan untuk ekspor, tetapi juga memenuhi kebutuhan pasar domestik.
"Kalau bisa, energi terbarukan seperti solar panel pemanfaatannya tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga digunakan di dalam negeri, khususnya di Jateng," katanya, saat menerima audiensi pimpinan PBT.
Diakuinya, pasar energi terbarukan dan kendaraan listrik di Jateng sangat potensial, sebab provinsi tersebut memiliki sekitar 38 juta penduduk yang tersebar di 35 kabupaten/kota.
Pemprov Jateng juga terus mendorong pemanfaatan panel surya pada gedung pemerintahan, serta menjajaki penggunaannya di kawasan waduk dan danau.
Ke depan, moda transportasi umum juga diarahkan beralih menggunakan kendaraan listrik.
"Kalau bisa, kebutuhan itu tidak hanya ditarik keluar, tetapi industri-industri kita juga mendapatkan pasokannya dari sana sehingga dapat menggerakkan industri di dalam negeri," katanya.
Sementara itu, Chairman PBT Stephen Wilmot mengatakan perusahaannya saat ini tengah mengerjakan tahap rekayasa atau "engineering" sebagai persiapan pembangunan pabrik yang diharapkan mulai tahun depan.
Setelah beroperasi, pabrik tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 200 pekerja tetap, belum termasuk tenaga kerja pada sektor pendukung, seperti logistik, angkutan, dan pengiriman.
Ia menegaskan PBT akan memprioritaskan tenaga kerja lokal, serta memberikan pendidikan dan pelatihan agar masyarakat setempat mempunyai keterampilan yang dibutuhkan industri baterai.
"Kami tidak ingin mendatangkan tenaga kerja dari negara lain. Kami ingin melatih masyarakat lokal agar dapat bekerja di pabrik kami," katanya.
Menurut dia, proyek di Jateng menjadi investasi terbesar yang pernah dilakukan PBT, dan skala pabrik tersebut diperkirakan lebih dari empat kali lipat dibandingkan fasilitas pemurnian milik perusahaan di Jerman.
Pabrik itu diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar 900 juta dolar AS per tahun, namun realisasinya akan bergantung pada perkembangan harga nikel.
PBT berencana menggunakan bahan baku nikel dari Indonesia untuk membangun rantai nilai industri baterai secara menyeluruh, dan material yang dihasilkan dapat digunakan untuk baterai bus, mobil, maupun sistem penyimpanan energi pada jaringan listrik.
"Kami ingin membangun seluruh rantai nilai kendaraan listrik, termasuk pengelolaan baterai yang telah mencapai akhir masa pakainya. Kami ingin melakukan daur ulang untuk memastikan tidak muncul persoalan lingkungan," katanya.
Baca juga: Peringati Hari Anak Nasional, KKN UIN Walisongo gelar budaya literasi
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.