Pemkot manfaatkan 46 hektare lahan pertanian untuk program Palu Mapan
Kamis, 8 Oktober 2026 15:52 WIB
Arsip - Petani menyortir tomat sebelum dijual dari hasil panen pada program Palu Mandiri, Adaptif dan Stabilitas Pangan (Mapan) di lahan pertanian Kelurahan Kawatuna, Kota Palu, Sulteng, Selasa (6/10/2026). ANTARA/Moh Ridwan
Palu, Sulteng (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah, memanfaatkan 46 hektare lahan pertanian untuk pelaksanaan program Palu Mandiri, Adaptif dan Stabilitas Pangan (Mapan) sebagai upaya pengendalian inflasi daerah.
"Intervensi lewat program inovasi di bidang pertanian menyasar 46 kelurahan di ibu kota Sulawesi Tengah dengan melibatkan petani masing-masing wilayah," kata Koordinator Kelurahan Menanam Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu Asrul di Palu, Sulteng, Kamis.
Ia menjelaskan dari program Palu Mapan lima komoditas pertanian yang menjadi prioritas di tanam yakni cabai rawit, bawang merah, tomat, kangkung dan sawi hijau.
Yang mana masing-masing lahan telah dibagi, khusus tanaman bawang merah dialokasikan 9 hektare di sembilan wilayah, kemudian 10 hektare untuk tanaman cabai rawit di 10 wilayah, komoditas tomat, kangkung dan sawi hijau masing-masing dialokasikan 9 hektare.
"Saat ini sudah ada petani panen hasil program Palu Mapan, baik itu bawang merah, cabai maupun tomat. Salah satunya panen komoditas tomat di Kelurahan Kawatuna di atas lahan 6 ribu meter persegi pada Selasa (6/10/2026) diproyeksikan dengan panen empat hingga lima kali bisa menghasilkan produksi 7 ton dari 7 ribu pohon," ujarnya.
Ia mengemukakan hasil produksi petani diarahkan untuk membantu menjaga pasokan bahan pangan di daerah, karena tiga komoditas pertanian yakni cabai rawit bawang dan tomat memberikan andil terhadap inflasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi Kota Palu secara month to month (m-to-m) tercatat sebesar 0,17 persen, year to date (y-to-d) sebesar 2,82 persen, dan year on year (y-on-y) sebesar 2,80 persen.
"Dalam menggenjot produksi sub program Kelurahan Menanam tidak hanya melibatkan petani, tetapi juga dilakukan pendampingan oleh penyuluh pertanian di masing-masing wilayah supaya hasil produksi lebih maksimal," ucap Asrul.
Sebagaimana kebijakan Pemkot Palu, kata dia, Palu Mapan menjadi salah satu program prioritas daerah, yang mana pemerintah menyediakan bibit/benih kepada petani termasuk sarana produksi penunjang berupa pupuk, serta menghubungkan petani dengan pasar.
Selain itu program tersebut juga bisa fleksibel, dalam artian lahan pekarangan rumah yang terbatas dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman produktif (cabai, bawang merah dan tomat) menggunakan media tanam polybag, sedangkan untuk kangkung dan sawi hijau dapat menggunakan metode hirdropinik.
"Bertani tidak mesti di lahan luas, memanfaatkan lahan terbatas juga bisa dilakukan dan manfaatnya selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harus juga menghemat biaya belanja bahan pangan," kata dia.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026