Pemkab Solok salurkan 12 ton benih bawang putih untuk swasembada
Solok (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat menyalurkan 12 ton benih bawang putih kepada kelompok tani sebagai upaya memperkuat produksi nasional dan mendukung target swasembada bawang putih pada 2028 melalui pengembangan sentra budidaya di daerah setempat.
Kepala Bidang Tanaman Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Solok Yeni Rahmi di Solok, Kamis mengatakan 12 ton benih bawang putih tersebut diserahkan kepada 30 kelompok tani untuk pengembangan lahan seluas 15 hektare sebagai bagian dari upaya mendukung target swasembada bawang putih nasional pada 2028.
Ia juga mengatakan program tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Pertanian untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih yang hingga kini masih mendominasi pemenuhan kebutuhan nasional.
"Target pemerintah pada 2028 adalah nol impor bawang putih. Karena itu daerah didorong meningkatkan produksi agar kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dari hasil petani sendiri," katanya.
Ia mengatakan benih yang disalurkan merupakan varietas Lumbu Hijau yang dinilai sesuai untuk dikembangkan di Kabupaten Solok.
Selain penyerahan bantuan benih, petani juga memperoleh bantuan sarana produksi berupa pupuk organik, pupuk anorganik, pestisida, mulsa plastik, dan kapur dolomit guna mendukung keberhasilan budidaya.
Menurut dia, seluruh bantuan tersebut diberikan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi yang ditanggung petani. Pemerintah juga akan memberikan pendampingan teknis selama proses budidaya agar hasil panen sesuai dengan target yang ditetapkan.
Dia menjelaskan sebagian hasil panen dari program tersebut akan diarahkan menjadi benih bersertifikat. Benih yang dihasilkan nantinya akan melalui proses pengawasan, sertifikasi, dan pelabelan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Sumbar sebelum dipasarkan kepada petani.
Di samping itu, ia juga mengakui bahwa sebelumnya luas tanam dan produksi bawang putih di Kabupaten Solok mengalami penurunan setelah sempat berkembang pesat pada 2017–2019.
Hal itu disebabkan oleh kondisi pasar yang belum mampu menyerap hasil panen secara optimal menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya minat petani untuk membudidayakan komoditas tersebut.
Menurut dia, penurunan produksi terutama dipengaruhi oleh sulitnya petani bersaing dengan bawang putih impor yang menguasai pasar domestik. Kondisi tersebut menyebabkan harga hasil panen kurang kompetitif sehingga minat petani untuk menanam bawang putih ikut menurun.
Untuk itu, pemerintah berupaya membangkitkan kembali semangat petani untuk membudidayakan bawang putih melalui penguatan pembinaan, pendampingan, serta penyediaan benih dan teknologi budidaya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan produksi bawang putih lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Pemerintah Kabupaten Solok mengoptimalkan program pengembangan benih, pembinaan, dan pendampingan budidaya untuk membangkitkan kembali minat petani menanam bawang putih.
Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi sehingga memenuhi kebutuhan benih di Sumatera Barat dan provinsi lain, sekaligus mendukung target pemerintah menuju swasembada bawang putih pada 2028.