Sukadana (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kayong Utara (KKU), Kalimantan Barat, mengoptimalkan Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (POKJA BSAN) guna memperkuat upaya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah, termasuk perundungan, kekerasan verbal, dan diskriminasi terhadap peserta didik.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kayong Utara Erwin Sudrajat mengatakan POKJA BSAN harus berperan sejak tahap pencegahan dengan mampu mengenali berbagai potensi risiko di lingkungan pendidikan, bukan hanya bertindak ketika kasus kekerasan telah terjadi.

"POKJA BSAN harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, bukan hanya bergerak ketika persoalan sudah terjadi," ujar Erwin di Sukadana, Senin.

Menurut dia, upaya menciptakan sekolah yang aman dan nyaman membutuhkan sistem kerja yang jelas, mulai dari pemetaan potensi risiko, penguatan pencegahan, koordinasi antarpihak hingga mekanisme respons dan rujukan apabila terjadi persoalan.

Ia juga meminta kepentingan terbaik anak menjadi dasar dalam setiap keputusan dan langkah yang diambil POKJA BSAN. Suara anak, kata dia, perlu didengar untuk mengetahui pengalaman mereka selama berada di lingkungan sekolah.

"Setiap pihak perlu mendengar suara anak dan memahami pengalaman mereka di sekolah, termasuk anak penyandang disabilitas dan kelompok anak yang lebih rentan mengalami kekerasan atau diskriminasi," katanya.

Erwin menyebut bentuk persoalan yang perlu menjadi perhatian antara lain perundungan, kekerasan verbal, pengucilan karena perbedaan, hingga munculnya rasa takut pada anak untuk menyampaikan pendapat.

Oleh karena itu, pendekatan kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) perlu menjadi bagian dari pelaksanaan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sehingga seluruh anak memperoleh lingkungan belajar yang aman dan mendapatkan perlakuan yang setara.

Ia menegaskan perlindungan anak membutuhkan kerja bersama karena pemerintah tidak dapat menangani persoalan tersebut secara sendiri. Kolaborasi perlu melibatkan satuan pendidikan, aparat penegak hukum, layanan kesehatan, organisasi profesi, masyarakat, orang tua, dan anak.

Erwin berharap POKJA BSAN tidak hanya aktif dalam rapat, tetapi juga menjalankan fungsi koordinasi, pemecahan masalah, serta membangun sistem perlindungan anak yang dapat diterapkan hingga lingkungan sekolah.

"Mari kita bangun POKJA BSAN yang bukan hanya aktif dalam rapat, tetapi aktif dalam koordinasi, aktif dalam pemecahan masalah, aktif dalam membangun sistem, dan aktif memastikan bahwa kebijakan benar-benar sampai pada lingkungan sekolah," katanya.

Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.