Tanjungpandan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, optimis alat atraktor cumi-cumi yang ditenggelamkan sebanyak 30 unit oleh PT Timah di perairan Sungai Padang, Sijuk, Belitung dapat meningkatkan tangkapan nelayan cumi setempat.
‎
‎"Saya optimis alat atraktor cumi-cumi yang telah ditenggelamkan dapat meningkatkan populasi dan tangkapan cumi-cumi oleh nelayan cumi," kata Kepala Dinas Perikanan Belitung, Ade Winarko di Tanjungpandan, Sabtu.
‎
‎Dinas Perikanan Belitung mengapresiasi sinergi dan kepedulian PT Timah dalam menjaga kelestarian sumber daya kelautan dengan menenggelamkan atraktor cumi di perairan Sungai Padang.
‎
‎Ia mengatakan, penenggelaman atraktor cumi-cumi ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Timah kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bekayo Desa Sungai Padang.
‎
‎Menurutnya, atraktor cumi-cumi adalah alat yang dibuat untuk menarik cumi-cumi agar datang dan memijah di area tersebut.
‎
‎"Fungsi dan tujuan alat ini dibuat untuk memulihkan dan meningkatkan populasi cumi di perairan dengan cara menyediakan media pemijahan atau tempat penempelan telur cumi," ujarnya.
‎
‎Ia merincikan, sebanyak 30 unit atraktor cumi-cumi kini telah terpasang di perairan Sungai Padang.
‎
‎"Kami berharap pemasangan atraktor cumi-cumi ini agar populasi cumi-cumi di perairan Sungai Padang tetap terjaga. Dengan begitu, hasil tangkapan dan kesejahteraan nelayan lokal dapat terus meningkat," katanya.
‎
‎Ade Winarko menjelaskan, cumi-cumi merupakan salah satu komoditas hasil laut unggulan dan cukup potensial di daerah itu.
‎
‎Dikatakan, data produksi tangkapan cumi-cumi di Kabupaten Belitung pada tahun 2025 tercatat sebanyak 3.314 ton.
‎
‎"Cumi-cumi sebagai salah satu komoditas unggulan nelayan lokal, upaya preventif, dan proaktif sangat diperlukan agar tren hasil tangkapan tidak mengalami penurunan ke depan," ujarnya.

Pewarta: Kasmono
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.