Pemerintah mulai merekonstruksi Rumah Proklamasi
Pemerintah mulai merekonstruksi Rumah Proklamasi
Rabu, 5 Agustus 2026 19:46 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam bincang santai bersama awak media di Jakarta, Rabu (5/8/2026). ANTARA/HO-Kementerian Kebudayaan
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan memulai pembangunan ulang rumah yang menjadi tempat pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta Pusat agar sama persis seperti bangunan asli.
"Kita akan bangun kembali, persis sama, tetapi tidak dengan selasarnya," kata Fadli dalam bincang santai di Jakarta, Rabu.
Adapun rumah tersebut menjadi tempat Soekarno bersama Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, namun bangunan itu dirobohkan pada era Presiden Soekarno sekitar bulan Agustus 1960.
Bangunan yang rata dengan tanah itu akhirnya diganti dengan Tugu Petir serta Gedung Pola.
Rencananya, di lokasi tersebut tidak hanya dibangun bangunan yang sama persis atau replika namun juga akan difungsikan sebagai museum yang dinamakan museum proklamasi yang berisikan mengenai proses penyusunan naskah proklamasi, foto hingga momen pembacaan Proklamasi Kemerdekaan.
Selain itu, akan dihadirkan atraksi untuk menarik kunjungan masyarakat seperti ruang imersif, sehingga pemahaman mengenai sejarah kian mendalam didukung dengan suasana yang disesuaikan dengan era masa pembacaan naskah proklamasi.
Adapun rekonstruksi bangunan bersejarah itu ditargetkan dapat selesai pada akhir tahun ini dengan melibatkan arsitektur, tokoh sejarah sehingga menghadirkan bangunan yang simetris.
Upaya ini sekaligus menjadi langkah pemerintah membangkitkan memori bangsa, membangkitkan sejarah Indonesia agar senantiasa diingat, dikenang dan dipahami oleh generasi muda.
Menbud menjelaskan bahwa museum menjadi bagian dari pusat edukasi hingga ruang budaya.
Salah satu inisiatif yang telah dilakukan Kementerian Kebudayaan agar kunjungan museum meningkat adalah dengan meluncurkan museum passport, yakni paspor yang bisa dicap dengan beragam stempel unik di museum yang berada di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan.
"Dalam waktu singkat, 20.000 buku paspor museum itu terjual, itu dijual bukan dibagi-bagi gratis ya. Kalau tidak salah sampai 83.000 harganya. Tapi ternyata gen Z kita luar biasa antusiasme kepada museum," katanya.
Karenanya, ia berharap museum dapat terus mengikuti perkembangan masa kini.
Pewarta : Sinta Ambarwati
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026