ILUSTRASI. Pegadaian Jadi Pelopor Usaha Bulion di Indonesia, Bagaimana Proyeksi Investasi Emas di Tahun 2025? (Dok/Pegadaian)

Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pegadaian (Persero) menyampaikan total kelolaan emas terkait bullion bank telah melampaui target yang dicanangkan sepanjang tahun 2026 ini. 

Direktur Jaringan dan Operasi Pegadaian Eka Pebriansyah mengatakan, saat ini kelolaan emas Pegadaian telah melampaui 153 ton yang terdiri dari layanan Pinjaman Modal Kerja (PMK) Emas, trading atau perdagangan emas, deposito emas, hingga jasa titipan emas korporasi.

"Sebetulnya sudah melewati target akhir tahun kami. Jadi, target kami untuk emas sebesar 110 ton, tetapi kami sudah sampai 150-an ton," ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Bisnis Bullion Bank Makin Kinclong, BSI Kelola 22,5 Ton Emas Per Februari 2026

Eka menerangkan pencapaian tersebut tak terlepas dari tingginya animo masyarakat terhadap emas.

Dia merinci terdapat tren yang menanjak dari kinerja bullion bank Pegadaian pada awal tahun ini, tepatnya ketika emas sempat mencapai harga tertinggi di level Rp 3 juta lebih. 

"Memang terjadi lompatan pada awal tahun ini. Jadi, Januari 2026 sampai Mei 2026 itu terjadi peningkatan animo masyarakat untuk mau melakukan transaksi di bidang emas baik pembelian emas, tabungan emas, hingga cicilan emas," tuturnya.

Namun, Eka mengatakan tren pembelian emas saat ini terbilang landai karena faktor harga emas yang terbilang fluktuatif, sehingga masyarakat cenderung wait and see terlebih dahulu.

Dia menjelaskan tren perubahan harga emas tersebut juga tak terlepas dari kondisi geopolitik yang sedang terjadi. "Ketika kondisi seperti saat ini, masyarakat relatif wait and see," ungkapnya.

Baca Juga: Permintaan Emas Naik, Nasabah Bullion Bank BSI Melonjak 44% Sejak Awal 2026

Meski demikian, Eka meyakini bahwa prospek kinerja bullion bank akan terus meningkat ke depannya, dipicu minat masyarakat yang terbilang masih tinggi.

Selain itu, instrumen emas juga terkenal sebagai lindung nilai, termasuk ketahanannya terhadap inflasi.

Dengan demikian, Eka optimistis masyarakat masih akan melirik emas sebagai aset yang perlu dimiliki ke depannya. Dia juga bilang bahwa emas bisa diperuntukkan sebagai investasi jangka panjang dan berpotensi harganya akan terus naik.

"Emas ini tahan inflasi. Untuk investasi jangka panjang, emas adalah instrumen yang paling bagus. Kalau jangka pendek untuk mencari keuntungan mungkin enggak pas juga. Kalau untuk jangka panjang, harga emas dari tahun ke tahun berdasarkan sejarah Pegadaian, itu akan naik," ucapnya.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Pembiayaan Emas di Bank Syariah

Apabila masyarakat memutuskan membeli emas untuk investasi, Eka menyebut saat ini menjadi momentum paling pas untuk membeli emas. 

Sebagai informasi, Pegadaian sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjalankan kegiatan bisnis bullion per 23 Desember 2024. Selain Pegadaian, ada juga Bank Syariah Indonesia (BSI) yang mendapatkan izin menjalankan kegiatan bullion.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag