AKURAT.CO PDI Perjuangan mengkritik penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang setiap tahun.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menilai kegagalan menyelesaikan persoalan tersebut bukan hanya berdampak kepada masyarakat, tetapi juga mencoreng citra Indonesia di mata negara tetangga.
Menurutnya, karhutla yang belum tertangani secara tuntas menjadi bukti lemahnya antisipasi pemerintah terhadap bencana yang seharusnya dapat diperkirakan.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi evaluasi serius terhadap kapasitas mitigasi dan koordinasi pemerintah.
"Kami datang saat ini kan di tengah penderitaan, tidak hanya rakyat Kalimantan dan Sumatera, atas kebakaran hutan yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan oleh pemerintah. Padahal suatu kejadian-kejadian yang berulang. Ini adalah suatu tamparan terhadap wajah politik kekuasaan kita, terhadap wajah politik pemerintahan kita karena tidak mampu terhadap menyelesaikan persoalan yang datang setiap tahun," jelas Hasto di Malang Selatan, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Super El Nino Bikin Karhutla Luar Biasa, Manfaatkan AI untuk Deteksi Dini
Menurutnya, dampak karhutla tidak berhenti di dalam negeri. Kabut asap yang melintasi perbatasan turut memengaruhi masyarakat di negara tetangga, sehingga penanganan yang tidak efektif berpotensi merusak kepercayaan terhadap kemampuan Indonesia mengatasi persoalan lingkungan.
"Kemudian tidak hanya warga Kalimantan, Sumatera dan sekitarnya yang menderita. Bahkan Singapura, Malaysia, Brunei," ujarnya.
Hasto juga menyoroti kurangnya langkah antisipasi menghadapi ancaman El Nino ekstrem. Padahal, sejumlah pakar telah mengingatkan potensi kekeringan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut.
"Banyak pakar yang sudah mengingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi El Nino ekstrem yang berimplikasi pada lahan-lahan gambut yang berpotensi untuk menciptakan suatu titik-titik api sebagai penyebab juga kebakaran di beberapa wilayah. Tapi PDI Perjuangan melihat langkah-langkah antisipasi, koordinasi, dan mitigasi yang dilakukan itu sangat kurang," jelasnya.
Hasto menilai kejadian berulang tersebut menunjukkan perlunya perubahan pendekatan pemerintah. Dari sekadar memadamkan api menjadi mencegah kerusakan hutan sejak awal.