Jakarta (ANTARA) - Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UN-ESCAP) menegaskan bahwa ketahanan energi dan transisi menuju ekonomi rendah karbon bukan merupakan dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua jalur yang semakin mengarah pada tujuan yang sama.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal, UN-ESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana, saat berpidato di Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa.

“Salah satu pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah bahwa ketahanan energi dan transisi rendah karbon bukanlah tujuan yang saling bertentangan, melainkan semakin dipandang sebagai dua jalur yang menuju arah yang sama,” kata Alisjahbana.

Dirinya menyampaikan bahwa dengan mempercepat investasi di bidang energi terbarukan, efisiensi energi, elektrifikasi, infrastruktur yang tangguh, serta kerja sama regional, dunia dapat bersama-sama membangun perekonomian yang lebih aman, lebih kompetitif, dan lebih berkelanjutan.

Alisjahbana menguraikan bahwa ketahanan energi bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu ketersediaan, pasokan yang tidak terputus, dan keterjangkauan. Ketika salah satu dari pilar tersebut melemah, perekonomian akan terdampak, dunia usaha kehilangan kepercayaan, dan masyarakat rentan menanggung beban terbesar.

Oleh karena itu, lanjutnya, ketahanan energi bukan sekadar persoalan sektor energi. Ketahanan energi merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan ketahanan nasional.

“Pada saat yang sama, ketahanan energi juga merupakan barang publik regional dan global yang membutuhkan kerja sama berkelanjutan lintas batas, baik antarnegara maupun antarkawasan,” ucapnya.

Namun, Alisjahbana menekankan bahwa pemerintah tidak dapat menjalankan transisi energi bersih seorang diri. Peran sektor swasta dinilai penting untuk memperluas penggunaan energi terbarukan, elektrifikasi, dan pengembangan pasar karbon dalam mendukung transisi energi.

Kontribusi sektor swasta, katanya, dapat membantu memobilisasi modal swasta, mendorong pencapaian tujuan keberlanjutan perusahaan, serta mendukung pertumbuhan pasar energi bersih.

Di sisi lain, kerja sama regional juga dinilai semakin penting untuk memperkuat ketahanan energi. Negara-negara ASEAN telah menjalankan sejumlah inisiatif, antara lain ASEAN Power Grid, koordinasi pengelolaan cadangan minyak, mekanisme berbagi bahan bakar, dan pengadaan bersama.

“Dengan bekerja sama, pemerintah dapat membangun ketahanan kolektif dan memperkuat stabilitas pasar energi regional. Namun, yang jelas, pemerintah tidak dapat menjalankan transisi menuju energi bersih seorang diri,” ujarnya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PBB: Ketahanan energi dan transisi rendah karbon tidak bertentangan

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.