Sorong (ANTARA) - Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Papua Barat Daya (PBD) meningkatkan kapasitas pengelola dan pelaku pariwisata dalam menghadapi kondisi darurat melalui pelatihan keamanan pariwisata.

Sekretaris Disparekraf Papua Barat Daya Irman Murafer di Sorong, Jumat, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari program peningkatan keamanan pariwisata yang dilaksanakan melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan didelegasikan kepada pemerintah daerah.

"Ini merupakan program peningkatan keamanan pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui alokasi dana TP atau penugasan kepada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya," katanya.

Ia menjelaskan pelatihan itu terdiri atas materi dan praktik lapangan yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sorong selama tiga jam serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) selama sembilan jam.

"Materi teori diberikan selama enam jam pada hari pertama, kemudian hari kedua dilanjutkan dengan praktik lapangan selama enam jam yang berfokus pada aspek keamanan wisata," ujar dia.

Dalam praktik lapangan, peserta mengikuti simulasi penyelamatan korban tenggelam di kawasan Pantai Suprau, Kota Sorong. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai penanganan awal terhadap korban setelah berhasil dievakuasi dari laut, lanjutnya.

"Selain penanganan korban tenggelam, pelatihan mencakup simulasi pertolongan terhadap korban pingsan dan korban yang mengalami patah tulang," katanya.

Irman mengatakan kemampuan tersebut penting dimiliki pengelola destinasi wisata, terutama kawasan wisata pesisir, karena kecelakaan atau kondisi darurat dapat terjadi sewaktu-waktu.

"Tujuan utamanya adalah memperkuat kemampuan para pengelola tempat wisata, khususnya dalam merespons secara cepat ketika menghadapi kejadian darurat atau bencana di lokasi wisata," katanya.

Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan yang berasal dari berbagai unsur, antara lain pengelola objek wisata di kawasan pesisir Tanjung Kasuari dan Suprau, asosiasi pariwisata, perguruan tinggi, relawan tanggap bencana, serta pengelola desa wisata.

Irman berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di masing-masing destinasi wisata sehingga pengelola tidak hanya mampu mengembangkan potensi pariwisata, tetapi juga siap memberikan pertolongan awal ketika terjadi kondisi darurat.

"Pelatihan ini sangat berguna, terutama bagi para pengelola desa wisata, agar mereka memiliki kesiapsiagaan dan kemampuan menghadapi situasi darurat di destinasi masing-masing," ujar dia.

Pewarta: Yuvensius Lasa Banafanu
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.