Jakarta -
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya berupaya memadamkan api, tetapi juga mencari cara agar lahan gambut tetap basah. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca untuk membantu mendatangkan hujan ke wilayah yang membutuhkan air. Sementara untuk jangka panjang, sekat kanal dapat membantu menahan air agar gambut tidak cepat mengering.
Direktur Penanganan Darurat Wilayah III Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nelwan Harahap menjelaskan, pendekatan yang disebut sebagai panen hujan dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan hujan yang dipantau bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), tim menyemai bahan tertentu ke awan yang dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan hujan. Tujuannya agar hujan dapat dimanfaatkan untuk membasahi wilayah yang membutuhkan air, termasuk lahan gambut yang terdampak kekeringan dan kebakaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Begitu awannya cukup potensial untuk kelembapan, langsung kita siram, kita modifikasi cuaca dan jatuh di tempat yang tepat yang kita butuhkan," kata Nelwan, ditemui usai diskusi 'Sinergi Kebijakan dan Aksi Cepat Tanggap Bencana Karhutla' di Amanaia Satrio, Jakarta Selatan, Rabu (21/10) lalu.
Direktur Penanganan Darurat Wilayah III Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nelwan Harahap Foto: Rachmatunnisa/detikINET
Menurut Nelwan, hujan yang turun secara alami belum tentu jatuh di kawasan yang sedang membutuhkan air. Pergerakan awan dan arah angin dapat membuat hujan turun di lokasi berbeda dari sasaran penanganan.
"Nah, kalau kita sebut dengan istilah panen hujan itu tadi, kita menjatuhkan hujan di tempat yang kita inginkan ketika potensi bibit awannya itu mencukupi," ujarnya.
Cara kerja panen hujan
Istilah panen hujan dalam konteks ini merujuk pada upaya memanfaatkan potensi hujan melalui OMC, bukan menciptakan hujan dari langit yang cerah tanpa awan potensial.
BMKG menjelaskan, pelaksanaan OMC didasarkan pada pemantauan kondisi atmosfer, termasuk pergerakan awan, kelembapan, arah angin, serta data radar cuaca dan satelit. Ketika ditemukan awan yang memenuhi kriteria, pesawat dapat melakukan penyemaian dengan bahan seperti natrium klorida (NaCl) atau garam.
Dalam proses penyemaian awan, partikel garam membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan. Ketika butiran air berkembang dan kondisi atmosfer mendukung, hujan berpeluang turun.
BMKG juga menegaskan bahwa efektivitas OMC bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai. Jika pertumbuhan awan hujan rendah, penyemaian tidak dapat dilakukan secara efektif. Karena itu, operasi harus menyesuaikan kondisi atmosfer yang berubah-ubah. Karenanya, tim memantau kondisi awan bersama BMKG secara real time.
"Setiap jam kita lihat, begitu ada potensi awan, kita langsung ukur berapa apa kelembapannya dan kalau sudah mencukupi, kita langsung lakukan modifikasi cuaca," katanya.
Hujan yang dihasilkan dari OMC kemudian diharapkan membantu membasahi lahan terbakar, menambah cadangan air, maupun mengisi sekat kanal dan waduk sebagai bagian dari upaya penanganan kekeringan. Namun, jumlah dan lokasi hujan yang benar-benar turun tetap dipengaruhi kondisi atmosfer. OMC bukan jaminan bahwa hujan akan jatuh tepat di setiap titik kebakaran.
Pembasahan dan sekat kanal gambut
Pembasahan gambut penting karena kebakaran di ekosistem ini tidak selalu berupa api yang terlihat menyala di permukaan. Ketika gambut mengering, bahan organik di dalamnya dapat terbakar dan bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Pemadaman perlu dilanjutkan dengan pendinginan dan pembasahan gambut agar bara tidak kembali menyala.
"Upaya kita pemadaman dulu, setelah pemadaman, pendinginan. Setelah pendinginan apa? Perendaman, pembasahan. Karena hanya dengan membasahi gambut ini kita bisa mencegah terjadinya kebakaran lagi," ujarnya.
Karakteristik gambut membuat penanganannya berbeda dari kebakaran vegetasi di permukaan. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah melalui lapisan bahan organik yang mengering, dan bagian yang terbakar tidak selalu terlihat dari luar.
Karena itu, hujan yang membasahi permukaan belum tentu otomatis memadamkan seluruh bara di bawah tanah. Petugas tetap perlu memastikan area yang terbakar telah didinginkan dan dibasahi dengan memadai.
Upaya pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan hujan yang datang saat kebakaran berlangsung. Di sinilah pengelolaan tata air gambut, termasuk pembangunan sekat kanal, berperan.
Sekat kanal merupakan struktur yang dipasang pada kanal drainase buatan untuk menahan aliran air agar tidak cepat keluar dari kawasan gambut. Dengan menahan air lebih lama, sekat kanal membantu meningkatkan daya simpan air dan mengurangi penurunan muka air di lahan gambut di sekitarnya.
Fungsi tersebut dijelaskan dalam peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai pemulihan ekosistem gambut. Prinsipnya adalah menahan dan menampung air selama mungkin di dalam wilayah kesatuan hidrologi gambut agar lahan di sekitarnya tetap basah.
Nelwan membandingkan fungsi kanal di kawasan permukiman dengan kanal di lahan gambut. Di kawasan permukiman, saluran umumnya dirancang untuk mengalirkan air secepat mungkin. Sebaliknya, di kawasan gambut, air perlu ditahan agar tidak cepat terkuras.
"Di lahan gambut, justru sekat kanal itu fungsinya kita menahan air itu selama mungkin tidak keluar dari kawasan," kata Nelwan.
Ia menjelaskan, sekat kanal merupakan bagian dari upaya mengelola air sebelum kebakaran terjadi, bukan hanya ketika api sudah muncul. Dengan mempertahankan kelembapan gambut, risiko lahan menjadi sangat kering dan mudah terbakar diharapkan dapat ditekan.
Penanganan dari hulu
Menurut Nelwan, upaya pengelolaan gambut perlu dilakukan dari hulu. Artinya, pemerintah tidak hanya menambah sumber daya saat kebakaran terjadi, tetapi juga menjaga agar kondisi lahan tidak semakin rentan terhadap api ketika musim kering datang.
"Bagaimana gambut ini kalau dia sudah kering dan tidak tidak punya alur pembasahan yang memadai, tidak ada upaya-upaya untuk mensuplai air di sana kan gitu, itu kan sama aja kita membiarkan dia menjadi sumber kebakaran setiap saat, kapan pun terjadi kekeringan," ujarnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pemulihan ekosistem gambut yang mencakup pembasahan kembali (rewetting), pemulihan vegetasi, dan penguatan pengelolaan kawasan.
Dokumen teknis Kementerian Kehutanan mengenai rehabilitasi areal gambut bekas terbakar juga menempatkan pengelolaan tata air sebagai salah satu bagian dari pemulihan, bersama revegetasi dan penguatan kelembagaan masyarakat.
Dengan demikian, OMC dan sekat kanal memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi. OMC dapat membantu menambah pasokan air melalui hujan ketika kondisi atmosfer mendukung, sedangkan sekat kanal membantu mempertahankan air di kawasan gambut agar lahan tidak cepat mengering.
Keduanya tetap harus berjalan bersama upaya pencegahan, patroli, pemadaman darat, dan pemeriksaan ulang setelah api dipadamkan. Sebab, keberhasilan penanganan karhutla gambut bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga lahan agar tidak kembali menjadi bahan bakar ketika kekeringan datang.
(rns/fay)
TAGS
LIHAT LAINNYA