Jakarta, CNBC Indonesia - Ada mitos yang mengatakan bahwa punya paha besar menjadi pertanda seseorang bakal berumur panjang. Seperti apa faktanya?

Meski sejumlah penelitian menemukan kaitan antara ukuran paha dan risiko kematian dini, kondisi kesehatan seseorang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan besar atau kecilnya lingkar paha.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University dr Yunita Aryani, MSi, MH menjelaskan, sejumlah penelitian memang menemukan lingkar paha yang sangat kecil berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini yang lebih tinggi. Namun, temuan tersebut tidak berarti semakin besar ukuran paha, semakin panjang pula usia seseorang.

"Lingkar paha yang terlalu kecil merupakan salah satu penanda rendahnya massa otot, status gizi yang kurang baik atau kondisi kesehatan tertentu. Hal ini akan berkaitan dengan peningkatan tentunya dengan risiko penyakit dan kematian," ujar Yunita dalam keterangannya dikutip dari IPB University, Jumat (28/8/2026).

Salah satu penelitian kohort yang diterbitkan dalam British Medical Journal (BMJ) menemukan, lingkar paha yang kecil berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan kematian dini, baik pada laki-laki maupun perempuan. Namun, penelitian tersebut juga menemukan adanya efek ambang batas.

Artinya, setelah mencapai ukuran tertentu, paha yang semakin besar tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan tambahan atau membuat seseorang hidup lebih lama.

Yunita menjelaskan, ukuran lingkar paha terbentuk dari berbagai komponen tubuh, mulai dari tulang, massa otot, lemak subkutan, cairan hingga jaringan lainnya. Sehingga, dua orang dengan ukuran lingkar paha yang sama belum tentu mempunyai kondisi kesehatan yang serupa.

"Menilai derajat kesehatan seseorang hanya dengan melihat jumlah massa otot saja tidak cukup. Kekuatan dan fungsi otot sering kali memberikan informasi yang lebih bermakna daripada ukuran semata," katanya.

Otot rangka, termasuk otot pada paha, kata ia, memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh. Otot berperan dalam penggunaan glukosa, sensitivitas insulin dan pengendalian gula darah.

Selain itu, otot berperan dalam mobilitas dan keseimbangan serta menjadi cadangan protein ketika tubuh menghadapi penyakit atau stres metabolik. Dengan demikian, kualitas dan fungsi otot menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan sekadar melihat besarnya paha.

Yunita juga menyoroti perbedaan karakteristik lemak pada paha dan bokong dengan lemak visceral, yakni lemak yang berada di sekitar organ dalam tubuh. Lemak visceral, jelas ia, lebih aktif secara metabolik dan berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, gangguan kolesterol, hipertensi hingga penyakit kardiovaskular.

Oleh sebab itu, lingkar paha tidak bisa digunakan sebagai indikator tunggal untuk menentukan sehat atau tidaknya seseorang. Kondisi kesehatan secara keseluruhan dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, kesehatan mental, faktor genetik, lingkungan hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala.

"Jadi, bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya," ujar Yunita.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak langsung merasa lebih sehat hanya karena memiliki ukuran paha yang besar. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah komposisi tubuh, khususnya massa otot, serta bagaimana otot tersebut berfungsi.

"Ingat bukan besarnya paha, namun massa otot yang terbentuk dari besarnya paha," katanya.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]