Pendekatan tersebut menjadi bagian dari program MoveNow Unity in Motion yang dijalankan Allianz Indonesia bersama ASA Foundation. Program yang merupakan bagian dari MoveNow Impact Fund 2025–2027 ini mengandalkan penguatan kapasitas guru agar metode olahraga dan pembelajaran partisipatif dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah.

Baca Juga: Pramono Akui Belum Semua Halte TransJakarta Ramah Disabilitas

Baca Juga: Peduli Disabilitas, Bank IBK Indonesia Beri Alat Bantu Mobilitas

Mengapa Olahraga Inklusif Penting bagi Siswa Penyandang Disabilitas?

Olahraga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung. Ketika mengikuti permainan kelompok, misalnya, siswa berkesempatan memahami instruksi, berkomunikasi dengan teman, mengikuti aturan, dan menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah.

Bagi siswa penyandang disabilitas, kesempatan tersebut perlu didukung oleh lingkungan yang memungkinkan mereka berpartisipasi sesuai kebutuhan masing-masing. Kegiatan yang hanya mengumpulkan siswa tanpa mempertimbangkan aksesibilitas belum tentu memberikan pengalaman belajar yang inklusif.

Perbedaan ini penting karena partisipasi tidak selalu berarti setiap siswa harus melakukan aktivitas dengan cara yang sama. Penyesuaian aturan permainan, cara menyampaikan instruksi, atau pembagian peran dapat membantu siswa terlibat tanpa menghilangkan tujuan pembelajaran.

Olahraga inklusif juga membuka ruang bagi siswa untuk membangun hubungan sosial. Mereka dapat belajar bekerja sama, menyampaikan kebutuhan, menghargai perbedaan, dan memahami bahwa setiap anggota kelompok memiliki kontribusi yang berarti.

Manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis hanya karena kegiatan olahraga diselenggarakan. Peran guru, desain aktivitas, dukungan yang sesuai, dan kesempatan berpartisipasi menjadi faktor penting yang menentukan kualitas pengalaman belajar siswa.

Bagaimana Olahraga Membantu Membangun Kemandirian Siswa Disabilitas?

Kemandirian sering kali dipahami sebagai kemampuan melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Dalam pendidikan inklusif, pengertian tersebut perlu dilihat secara lebih luas, termasuk kemampuan membuat pilihan, menyampaikan keinginan, mengambil keputusan sederhana, dan berpartisipasi dengan dukungan yang dibutuhkan.

Kegiatan olahraga dapat menyediakan kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut. Siswa, misalnya, dapat belajar memilih peran dalam permainan, menentukan strategi bersama kelompok, mengikuti tahapan kegiatan, atau menyampaikan ketika membutuhkan penyesuaian.

Pengalaman seperti ini membantu siswa menghadapi situasi sosial yang tidak selalu sama. Mereka memperoleh kesempatan untuk mencoba, memahami konsekuensi dari pilihan, dan berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan belajar yang terarah.

Kepercayaan diri juga berkaitan dengan kesempatan untuk berpartisipasi. Ketika siswa diberi ruang untuk menyelesaikan tugas sesuai kemampuannya dan kontribusinya dihargai, mereka memiliki kesempatan untuk merasakan bahwa dirinya merupakan bagian penting dari kelompok.

Namun, peningkatan kemandirian tidak bisa disimpulkan hanya dari keikutsertaan dalam satu kegiatan. Perubahan tersebut perlu dilihat melalui pengamatan dan evaluasi yang berkelanjutan, termasuk apakah siswa semakin aktif mengambil bagian dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.

Dengan demikian, tujuan olahraga inklusif bukan sekadar membuat siswa bergerak bersama. Kegiatan tersebut juga perlu membuka kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kehidupan sosial dan proses belajar.

Strategi Allianz dan ASA Foundation Memperkuat Peran Guru SLB

Allianz Indonesia bersama ASA Foundation mengembangkan program MoveNow Unity in Motion melalui pendekatan Training of Trainers (ToT). Model ini menempatkan guru sebagai pihak yang tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga diharapkan mampu menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran di sekolah masing-masing.

Dalam dua siklus pelaksanaan, sebanyak 50 guru dari 23 Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Jabodetabek mengikuti pelatihan, implementasi kegiatan di sekolah, dan pendampingan.

Para guru mendapatkan pembekalan mengenai metode olahraga inklusif dan pembelajaran partisipatif. Program tersebut juga mengintegrasikan literasi keuangan dan keterampilan hidup agar kegiatan belajar tidak terbatas pada aktivitas fisik.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan inklusif tidak harus berhenti pada penyelenggaraan acara bagi siswa. Penguatan kapasitas tenaga pendidik dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas penerapan metode pembelajaran di luar kegiatan pelatihan.

Ketua Yayasan Allianz Peduli, Ni Made Daryanti, menekankan pentingnya posisi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berpartisipasi.

“Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Melalui MoveNow Unity in Motion, kami memperkuat kapasitas guru agar dapat memanfaatkan olahraga sebagai sarana untuk membangun kepercayaan diri, keterampilan sosial, dan kemandirian siswa penyandang disabilitas. Dengan metode yang dapat terus diterapkan dan dikembangkan di sekolah, manfaat program diharapkan menjangkau lebih banyak siswa secara berkelanjutan,” ujar Ni Made Daryanti melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 21 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut menempatkan guru sebagai salah satu penggerak utama keberlanjutan program. Pelatihan diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga membantu guru mengadaptasi metode sesuai kebutuhan siswa di lingkungan sekolah.

Meski demikian, keberlanjutan tetap membutuhkan tindak lanjut. Keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh jumlah guru yang hadir, tetapi juga oleh konsistensi penerapan metode, dukungan sekolah, dan evaluasi terhadap pengalaman belajar siswa setelah program berakhir.

Apa Makna 2.286 Siswa yang Dijangkau Program?

Program MoveNow Unity in Motion dilaporkan telah menjangkau 2.286 siswa penyandang disabilitas. Angka tersebut menunjukkan skala jangkauan program melalui penguatan kapasitas guru dan penerapan kegiatan di sekolah.

Dalam konteks pendidikan inklusif, jangkauan menjadi salah satu indikator penting karena pengetahuan yang dimiliki guru dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan belajar. Guru yang mampu menyesuaikan metode dengan kebutuhan siswa berpotensi membuka kesempatan partisipasi bagi lebih banyak peserta didik.

Meski demikian, angka jangkauan perlu dibedakan dari hasil atau dampak program. Jumlah siswa yang dijangkau tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh siswa mengalami peningkatan kepercayaan diri, keterampilan sosial, atau kemandirian.

Untuk mengetahui perubahan tersebut, diperlukan indikator yang lebih spesifik. Contohnya adalah pengamatan terhadap keterlibatan siswa dalam aktivitas kelompok, kemampuan mengikuti instruksi yang sesuai, kesempatan menyampaikan pilihan, dan konsistensi partisipasi dalam kegiatan sekolah.

Data semacam itu dapat membantu menjelaskan bukan hanya berapa banyak siswa yang tersentuh program, melainkan juga bagaimana pengalaman belajar mereka berubah. Informasi mengenai evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan akan memperkuat penilaian terhadap manfaat program.

Selain siswa yang dijangkau melalui rangkaian program, lebih dari 80 karyawan Allianz Indonesia turut terlibat sebagai relawan. Mereka mendukung guru dan siswa dalam berbagai kegiatan pembelajaran sepanjang pelaksanaan program.

Keterlibatan relawan menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan, tetapi kontribusinya terhadap hasil belajar tetap perlu dinilai secara terpisah. Jumlah relawan menunjukkan partisipasi karyawan, sedangkan perubahan pada siswa memerlukan indikator yang sesuai dengan tujuan pendidikan.