Jakarta -

Semua orang tentu ingin anak-anaknya bahagia dan merasa dicintai. Tak heran bila orang tua berusaha memberikan yang terbaik, mulai dari mendidik, melindungi, hingga mengarahkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan yang dilakukan dengan niat mendidik justru bisa memberi dampak sebaliknya, Bunda. Alih-alih membuat anak merasa aman, kebiasaan tersebut justru bisa membuat mereka tertekan atau justru menjauh dari orang tuanya.

"Ketika orang tua menghilangkan ketidaknyamanan terlalu cepat, anak-anak tidak pernah mengembangkan keterampilan untuk mengatasi masalah," kata psikolog klinis Dr. Daniel J. Moran kepada Newsweek.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebiasaan atau perilaku yang bermaksud baik tersebut atak hanya membuat anak merasa tak nyaman. Seiring waktu, hal itu bisa menyebabkan kecemasan pada anak, toleransi terhadap frustrasi yang rendah, dan bahkan ketergantungan pada orang tua hingga dewasa.

Menurut direktur eksekutif Diverse Learners and Whole Child Supports, L'Taundra Everhart, media sosial dapat memperparah tekanan. Ketika anak lain tampaknya berhasil di dunia maya, orang tua merasa bahwa kesulitan anak mereka mencerminkan kegagalan mereka sendiri.

"Tekanan itu mendorong perilaku yang berlebihan meskipun niatnya baik," ungkap Everhart, dilansir She Knows.

Psikolog Dr. Samantha Whiten punya pendapat serupa. Menurutnya, banyak orang tua melakukan perilaku atau kebiasaan tertentu ke anaknya karena pengalaman masa kecil mereka sendiri.

"Mereka ingin melakukan hal-hal yang berbeda dari yang dilakukan orang tua mereka, tetapi hal itu bisa berujung terlalu jauh ke arah yang berlawanan," kata Whiten.

Melansir dari beberapa sumber, berikut tujuh kebiasaan orang tua yang bisa menjadi bumerang buruk bagi anak:

1. Melindungi anak dari setiap kegagalan, kekecewaan, atau kesulitan

Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya menderita. Banyak orang tua melindungi anak ketika menderita dengan dalih tidak mau melihat anaknya kesulitan atau gagal.

Padahal, anggapan tersebut bisa menjadi sebuah kesalahan dalam pengasuhan, Bunda. Pada saat kita terburu-buru untuk memperbaiki setiap masalah yang dihadapi anak, maka pada dasarnya kita mengirimkan pesan bahwa mereka tidak dapat mengatasi kesulitan hidup yang tak terhindarkan.

Melindungi anak dari kegagalan, sama saja menciptakan ketidakberdayaan dan rasa takut yang akan mengikuti anak hingga usia dewasa. Anak yang tidak pernah mengalami kegagalan atau tidak pernah bisa mengatasinya akan menjadi pribadi yang mudah mengalami gangguan mental bila mengalami keterpurukan.

2. Memuji segala hal yang dilakukan anak, tanpa memandang usaha atau pencapaian

Tentu saja, penting untuk memuji anak-anak untuk memberikannya motivasi. Tetapi, perlu ada keseimbangan atau batasan. Jangan memuji anak dalam segala hal tanpa memandang usaha atau pencapaiannya, Bunda.

Menurut pakar pengasuhan anak dan psikolog Dr. Jim Taylorm, pujian yang tidak bermakna ini dapat menimbulkan banyak kerugian. Dikutip dari laman A Conscious Rethink, pujian yang berlebihan dan sering kali tidak beralasan bisa berisiko mengajarkan anak-anak bahwa nilai diri mereka berasal dari validasi eksternal daripada prestasi yang sebenarnya.

Respons anak terhadap pujian yang terus-menerus ini biasanya terbagi menjadi dua. Pertama, mereka menjadi sepenuhnya bergantung pada pengakuan orang lain untuk merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Kedua, mereka belajar untuk mengabaikan pujian sepenuhnya karena jelas tidak berarti ketika semuanya mendapatkan respons antusias yang sama. Kedua hasil tersebut tidak bermanfaat bagi anak di masa depan.

3. Jangan pernah membiarkan anak merasa bosan atau tidak nyaman

Bagi orang tua, mendengarkan anak mengeluh bosan adalah salah satu hal yang paling menjengkelkan. Banyak orang tua mungkin langsung memberikan anaknya perangkat elektronik atau langsung mengajak mereka melakukan aktivitas yang rumit begitu mereka bilang bosan.

Namun, para ahli perkembangan anak mengatakan bahwa orang tua yang langsung memberikan hiburan begitu anak-anak mengeluh bosan telah merampas sesuatu yang penting dari mereka, yaitu pengalaman untuk menghasilkan ide sendiri dan menemukan motivasi internal.

Kebosanan adalah saat anak-anak belajar untuk menghadapi perasaan tidak nyaman, dan menemukan solusi mereka sendiri daripada mengharapkan stimulasi eksternal terus-menerus. Sebagai orang tua, kita dapat menambah masalah baru karena terburu-buru menghilangkan setiap ketidaknyamanan kecil yang dirasakan anak.

4. Menghindari percakapan sulit tentang isu-isu dunia nyata untuk menjaga kepolosan anak

Di zaman modern ini, anak-anak sering kali dapat merasakan ketegangan yang dialami orang dewasa. Mereka memiliki akses ke berita dan informasi yang tidak dapat kita lindungi, Bunda.

Banyak orang tua menghindari percakapan tentang berita atau isu-isu karena ingin menjaga kepolosan anak-anaknya. Padahal, memulai percakapan tentang isu-isu ini membuat mereka terhindar dari kecemasan dan informasi yang salah.

5. Memberikan penghargaan dengan hadiah atau uang

Banyak orang tua memberikan penghargaan dengan hadiah atau uang saat anaknya membuat prestasi atau berperilaku baik. Padahal, hadiah ini dapat merugikan di kemudian hari karena mengajarkan anak-anak bahwa kontribusi dan kesopanan dasar adalah layanan luar biasa yang harus diberi penghargaan.

Anak-anak akan belajar mengharapkan imbalan eksternal untuk perilaku yang seharusnya berasal dari kepuasan internal, atau untuk hal-hal yang merupakan bagian normal dan wajar dari kehidupan orang dewasa. Mereka menjadi orang-orang yang terus-menerus menghitung apa yang akan mereka dapatkan dari melakukan sesuatu, alih-alih memahami bahwa kontribusi, kesopanan, dan prestasi sering kali memberikan imbalan tersendiri melalui peningkatan hubungan dan pertumbuhan pribadi.

6. Memberikan alasan untuk perilaku buruk yang dilakukan anak

Sering kali perilaku anak adalah cara mereka mencoba mengomunikasikan kebutuhan atau keinginan yang belum terpenuhi. Saat anak berperilaku buruk, banyak orang tua mencoba mencari alasan untuk melupakannya alih-alih mengatasinya.

Padahal, tugas utama orang tua adalah mengajari anak-anaknya cara mengomunikasikan kebutuhan atau keinginan tersebut dengan cara yang berbeda. Pada akhirnya, itu bisa membantu mereka mencari cara untuk memastikan kebutuhan tersebut sudah terpenuhi sebelum menjadi terlalu berat. Anak juga bisa menangani ketidaknyamanan karena keinginan mereka tidak selalu terpenuhi.

7. Memperlakukan anak seolah-olah mereka lebih dewasa dari usianya

Banyak orang tua terjebak dalam perangkap 'menerapkan logika orang dewasa' pada perilaku anak-anak. Kita lupa bahwa otak mereka benar-benar baru matang saat berusia sekitar 30 tahun, dan kita mengharapkan mereka mampu menanggapi situasi dengan keterampilan yang belum bisa mereka kembangkan.

Sebagai contoh, Bunda menegur Si Kecil yang berusia empat tahun karena perilaku impulsif atau kurang perhatian, atau mengharapkan remaja memiliki kendali emosi setingkat orang dewasa. Perilaku ini bisa membuat anak sulit mempersiapkan otak mereka untuk belajar.

Terlebih lagi, ketika orang tua menafsirkan perilaku perkembangan normal sebagai pembangkangan daripada respons yang sesuai dengan usia, mereka kehilangan kesempatan untuk memberikan bimbingan yang tepat yang sesuai dengan kemampuan anak yang sebenarnya.

Demikian tujuh kebiasaan orang tua yang bisa menjadi bumerang buruk bagi anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)