Sebagian orangutan bahkan bertahan di area perkebunan yang hanya menyisakan pepohonan. Mama Lifa dan anaknya, Lifa, misalnya, ditemukan terisolasi di antara pohon akasia pada lahan sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Ketapang.

Sementara itu, Mama Man dan anaknya, Man, dievakuasi dari Desa Tempurukan, Ketapang, pada 3 September 2026 setelah kebakaran mendekati habitat mereka. Empat orangutan lainnya, yakni Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta dua jantan remaja Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kayong Utara, sehari setelahnya.

Direktur Operasional YIARI Argitoeranting mengatakan pemilihan lokasi pelepasliaran harus mempertimbangkan ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, dan keterhubungan dengan kawasan hutan lainnya. Karena itu Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis.

Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare tersebut memiliki tutupan hutan primer dan sekunder serta terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung dalam lanskap Arabella–Schwaner. Berdasarkan survei pada 2023 kawasan itu merupakan habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.

"Translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih berlangsung dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang tersisa," ujar Argitoeranting.

CEO YIARI Karmele Llano Sánchez menambahkan sejumlah orangutan terdampak karhutla lainnya masih menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lain. Mereka membutuhkan waktu untuk pulih sebelum dapat dipindahkan ke habitat alami yang aman dan sesuai.

Kepala KPH Ketapang Utara Ya' Suharnoto berharap translokasi diikuti patroli pengamanan kawasan secara rutin, sosialisasi kepada masyarakat, serta penanaman pohon penghasil bunga dan buah sebagai sumber pakan.

"Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung keberlangsungan hidup orangutan setelah dilepasliarkan dan menjaga habitatnya dari ancaman berikutnya," kata Ya' Suharnoto.