Senin, 26 Oktober 2026 - 10:52 WIB
Jakarta, VIVA- Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia, Moeldoko, menyinggung kemungkinan pencabutan fasilitas bebas ganjil-genap bagi mobil listrik di Jakarta. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dipertimbangkan kembali apabila populasi kendaraan listrik sudah mencapai sekitar 30 persen.
Baca Juga
Moeldoko menilai, saat ini jumlah kendaraan listrik masih perlu didorong agar semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM). Karena itu, fasilitas nonfiskal, seperti pengecualian aturan ganjil-genap, masih dinilai relevan dalam mendukung penggunaan kendaraan listrik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, ketika jumlah kendaraan listrik semakin besar, kebijakan tersebut perlu dievaluasi dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas.
Baca Juga
“Untuk ganjil-genap, mungkin, saran saya, kita perlu pertimbangkan kalau populasi EV itu kira-kira sudah mulai di atas 30 persen, maka pemberlakuan ganjil-genap itu perlu dicabut,” ujar Moeldoko di Jakarta belum lama ini.
Ia menjelaskan, populasi kendaraan listrik saat ini dinilai masih belum cukup besar untuk menghilangkan kebutuhan terhadap insentif tersebut. Menurutnya, dukungan perlu tetap diberikan sampai penggunaan kendaraan listrik mencapai tingkat yang dianggap lebih stabil.
Baca Juga
Meski demikian, angka 30 persen yang disebut Moeldoko merupakan usulan atau pandangannya mengenai waktu evaluasi kebijakan. Angka tersebut bukan ketentuan resmi mengenai pencabutan fasilitas bebas ganjil-genap.
Insentif Mobil Listrik Masih Dibutuhkan
Selain membahas ganjil-genap, Moeldoko menilai insentif kendaraan listrik masih diperlukan untuk mendorong pertumbuhan pasar. Menurutnya, peningkatan penjualan kendaraan listrik belum menjadi alasan untuk langsung menghentikan seluruh bentuk dukungan pemerintah.
Ia berpandangan, insentif masih perlu diberikan hingga adopsi kendaraan listrik mencapai tingkat yang lebih stabil, yang dalam pernyataannya dikaitkan dengan angka sekitar 30 persen.
Di sisi lain, Moeldoko melihat masyarakat mulai mempertimbangkan aspek ekonomi ketika memilih kendaraan listrik. Pengeluaran untuk penggunaan kendaraan sehari-hari menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan konsumen.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan membeli mobil listrik tidak hanya bergantung pada insentif pemerintah, tetapi juga perhitungan biaya kepemilikan dan operasional kendaraan.
Meski begitu, kebijakan insentif tetap perlu mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk dampaknya terhadap lalu lintas perkotaan. Pengecualian ganjil-genap dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam mendorong adopsi kendaraan listrik, tetapi pertumbuhan jumlah kendaraan juga perlu diperhatikan.
Halaman Selanjutnya
Evaluasi Bebas Ganjil-Genap Jadi Tantangan