Liputan6.com, Jakarta - PT MRT Jakarta tengah menyiapkan konsep placemaking dalam revitalisasi kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta menyebut, placemaking merupakan bagian dari strategi MRT untuk menghidupkan kawasan melalui ruang publik, komunitas, aktivitas, serta identitas yang kuat.
Menurutnya, sebuah kawasan tidak cukup hanya dibuat bagus secara fisik. Kawasan juga harus memiliki karakter yang membuat masyarakat merasa nyaman, tertarik datang, dan memiliki keterikatan dengan tempat tersebut.
“Placemaking ini sebetulnya kata kuncinya a sense of place-nya. Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema, dan harus inklusif, bisa untuk siapa pun,” kata Samuel dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026.
Samuel bilang, karakter heritage kawasan Kota Tua akan menjadi fondasi dalam pengembangan placemaking tersebut. Kawasan Glodok dan Petak Sembilan misalnya memiliki karakter tersendiri, mulai dari bangunan peninggalan Belanda hingga aktivitas perdagangan elektronik yang telah lama dikenal masyarakat.
“Kalau bangunan Belanda, memang di sana banyak bangunan Belanda, cuma kan dari dulu tuh belum pernah jadi fokus utama,” ucapnya.
Identitas yang sudah ada tersebut akan tetap dipertahankan dalam proses revitalisasi. Menurut Samuel, MRT Jakarta juga melihat potensi untuk menghidupkan kembali karakter perdagangan elektronik di kawasan tersebut sebagai bagian dari pengalaman yang ditawarkan Kota Tua.
Dia menilai pengalaman berinteraksi secara langsung dengan produk elektronik masih memiliki daya tarik di tengah perkembangan digital. Aktivitas seperti mencoba perangkat sebelum membeli dapat menjadi bagian dari karakter kawasan.
“Kalau mau beli sound system, mau nyoba suaranya dulu, nah ini yang kembali ke humanity tadi,” ujarnya.