asiawebawards.com
  • 2026-08-19 11:28:32 +0000 UTC

    Aug 19, 2026

    Modal Ventura RI Hadapi Tantangan Baru, Startup Tak Cukup Kejar Valuasi

    Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir mengatakan forum tersebut menjadi ruang untuk membahas penguatan industri modal ventura dan perannya dalam pengembangan startup di Indonesia.

    “Modal ventura memiliki peran yang penting dalam mengembangkan startup di Indonesia karena startup pada tahap awal sering membutuhkan modal yang besar, tetapi belum memenuhi persyaratan pembiayaan bank,” ujarnya dalam Talk Show Saatnya Perkuat Modal Ventura yang difasilitasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo), Rabu (19/8/2026).

    Baca Juga: PWI: Pers Harus Lindungi Masyarakat, Gencarkan Edukasi Bedakan Pinjol Legal dan Ilegal!

    Persoalan pembiayaan menjadi penting karena karakteristik startup tahap awal berbeda dengan perusahaan yang telah memiliki arus kas dan aset yang memadai.

    Startup umumnya membutuhkan modal untuk pengembangan produk, ekspansi pasar, perekrutan sumber daya manusia, hingga penguatan teknologi sebelum mampu menghasilkan pendapatan yang stabil.

    Karena itu, modal ventura memiliki ruang yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh perbankan. Skema tersebut memungkinkan pembiayaan diarahkan kepada perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi meski belum memiliki rekam jejak keuangan seperti perusahaan konvensional.

    Di tengah kebutuhan tersebut, kinerja industri modal ventura menunjukkan pertumbuhan yang relatif terbatas.

    OJK mencatat pembiayaan modal ventura pada Mei 2026 mencapai Rp16,36 triliun. Nilainya hanya tumbuh 0,09% secara tahunan, membaik tipis setelah pada April 2026 pembiayaan modal ventura masih terkontraksi 0,87% secara tahunan.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan industri modal ventura bukan semata-mata soal ketersediaan dana. Industri juga perlu memastikan pembiayaan yang disalurkan mampu menghasilkan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.

    Kondisi itu sejalan dengan arah kebijakan OJK melalui Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perusahaan Modal Ventura 2024-2028.

    Dalam roadmap tersebut, OJK menempatkan penguatan industri modal ventura sebagai bagian dari upaya menciptakan industri yang sehat, berintegritas, berorientasi pada pembiayaan ventura untuk UMKM, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

    OJK juga mengidentifikasi sejumlah tantangan industri, mulai dari permodalan, sumber pendanaan, dukungan terhadap UMKM rintisan dan perusahaan rintisan, dana ventura, daya saing perusahaan modal ventura hingga jumlah perusahaan modal ventura.

    Dalam perkembangannya, fungsi perusahaan modal ventura tidak lagi sebatas menyediakan pendanaan kepada startup.

    Ada setidaknya tujuh fungsi yang dapat dimainkan, yakni menyediakan modal pada fase awal, membiayai ekspansi atau scaling-up, memberikan keahlian bisnis dan pendampingan, membuka jaringan bisnis, meningkatkan kredibilitas startup, mendorong inovasi dan transformasi digital, serta membantu membangun jalur exit dan ekosistem investasi.

    Baca Juga: PWI Pusat Gandeng AFPI, Bahas Pindar hingga Perlindungan Publik Lewat Workshop Jurnalistik

    Dengan demikian, modal yang masuk seharusnya diikuti dengan peningkatan kapasitas perusahaan penerima dana.

    “Modal ventura bukan hanya ‘uang untuk startup.’ Peran idealnya adalah membangun modal + kemampuan manajerial + jaringan + tata kelola,” demikian materi diskusi PWI.

    Perspektif tersebut menjadi semakin relevan ketika model pendanaan startup mengalami perubahan. Perusahaan rintisan tidak cukup hanya menunjukkan pertumbuhan pengguna atau kenaikan valuasi.

    Investor juga semakin memperhatikan unit economics, efisiensi biaya, tata kelola, manajemen risiko, dan jalur menuju profitabilitas.

    Perubahan orientasi itu membuat perusahaan modal ventura dituntut tidak hanya berperan sebagai penyedia dana, tetapi juga sebagai mitra strategis bagi perusahaan yang dibiayainya.

    Dinamika industri startup dalam lima tahun terakhir turut mengubah ekspektasi terhadap perusahaan rintisan.

    Pertumbuhan pengguna dan valuasi yang tinggi tidak otomatis menunjukkan sebuah bisnis memiliki fundamental yang kuat.

    Startup yang mampu bertahan dalam jangka panjang tetap membutuhkan model bisnis yang jelas, struktur biaya yang terkendali, tata kelola yang memadai, serta kemampuan menghasilkan arus pendapatan.

    Karena itu, strategi investasi modal ventura juga semakin berkaitan dengan kemampuan investor menilai kualitas bisnis dan memberikan pendampingan setelah investasi dilakukan.

    Kondisi ini membuat hubungan antara startup dan modal ventura menjadi lebih panjang. Setelah dana disalurkan, perusahaan modal ventura perlu memastikan manajemen mampu menggunakan modal secara produktif dan mengembangkan bisnis dengan risiko yang terukur.

    Pada tahap ini, kualitas tata kelola menjadi bagian penting dari keberlanjutan industri.

    Dalam ekosistem tersebut, OJK memiliki posisi berbeda dengan perusahaan modal ventura.

    OJK tidak memberikan modal langsung kepada startup. Peran otoritas adalah membangun kerangka regulasi, melakukan pengawasan, meningkatkan tata kelola industri, sekaligus menciptakan lingkungan yang memungkinkan perusahaan modal ventura berkembang secara sehat.

    Roadmap OJK 2024-2028 menetapkan empat pilar pengembangan industri, yakni tata kelola dan kelembagaan, edukasi dan literasi, pengembangan ekosistem, serta pengaturan, pengawasan dan perizinan.

    Arah tersebut menunjukkan bahwa penguatan modal ventura tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai pembiayaan. Kualitas pelaku industri dan tata kelola juga menjadi bagian dari agenda pengembangan.

    Dalam pengawasan sektor PVML, OJK juga terus melakukan penegakan kepatuhan. Pada Juni 2026, OJK menjatuhkan sanksi administratif kepada dua perusahaan modal ventura atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku maupun hasil pengawasan dan tindak lanjut pemeriksaan.

    Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan industri harus berjalan beriringan dengan penguatan kepatuhan dan manajemen risiko.

    Dengan kondisi tersebut, tantangan industri modal ventura ke depan bukan hanya meningkatkan jumlah investasi.

    Tantangannya adalah menciptakan ekosistem yang mampu mempertemukan startup dengan sumber pendanaan yang sesuai berdasarkan tahap perkembangan bisnisnya.

    Startup tahap awal membutuhkan modal untuk membangun produk dan pasar. Setelah memasuki fase pertumbuhan, kebutuhan berubah menjadi pendanaan untuk ekspansi, peningkatan kapasitas produksi, penguatan sumber daya manusia, dan pengembangan teknologi.

    Pada fase yang lebih matang, perusahaan membutuhkan akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih besar sekaligus jalur keluar bagi investor atau exit strategy.

    Rangkaian tersebut membutuhkan ekosistem yang saling terhubung antara startup, perusahaan modal ventura, investor, regulator, lembaga keuangan, hingga pasar modal.

    Oleh karena itu, keberhasilan industri modal ventura tidak semata-mata dapat diukur dari besarnya dana yang disalurkan. Indikator lain yang tidak kalah penting adalah seberapa jauh pembiayaan tersebut mampu meningkatkan produktivitas perusahaan, memperkuat tata kelola, menciptakan lapangan kerja, dan membawa startup menuju bisnis yang berkelanjutan.

    Bagi startup, perubahan ini berarti akses terhadap modal akan semakin terkait dengan kualitas bisnis. Sementara bagi perusahaan modal ventura, tantangannya adalah membuktikan bahwa modal yang ditanamkan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.

    Pada akhirnya, penguatan industri modal ventura akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh ekosistem mengubah pola pendanaan dari sekadar mengejar pertumbuhan cepat menjadi investasi yang menghasilkan perusahaan dengan fundamental dan tata kelola yang lebih kuat.

    2026-08-19 11:28:32 +0000 UTC