Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, Bayangkan sebuah kampung padat yang dihuni oleh ribuan keluarga. Setiap pagi, truk logistik mendatangi kampung itu membawa pasokan beras, sayur, buah, kacang-kacangan, dan beragam bahan pangan segar. Penduduk kampung hidup tenteram karena bahan makanan selalu tersedia melimpah di atas meja.

Lalu suatu ketika, truk logistik itu makin jarang melintas. Penduduk tak langsung mati kelaparan. Mereka menggeledah sisa-sisa makanan. Begitu sisa makanan itu habis, mereka berburu sumber lain. Saat situasi kian memburuk, mereka mulai membongkar dinding dan tiang kayu rumah sendiri untuk mereka jadikan kayu bakar.

Kira-kira seperti itulah gambaran nyata yang ditemukan para ilmuwan pada triliunan mikroba penghuni usus manusia tatkala pasokan makanan dari luar mendadak seret. Tentu saja, mikroba usus tidak membawa kapak atau gergaji. Namun mereka memiliki kemampuan metabolisme dahsyat.

Kemampuan ciptaan Tuhan itulah yang membuat jalannya cerita kian menarik. Bayangkan, menurut temuan penelitian, tatkala serat dan bahan pangan yang sulit manusia cerna makin sedikit, sebagian bakteri usus dapat beralih memangsa protein yang berasal dari jaringan tubuh kita sendiri.

Temuan ilmiah tersebut lahir dari riset mendalam Jenna E. AbuSalim, Joshua D. Rabinowitz, dan kolega mereka di Princeton University serta Ludwig Institute for Cancer Research. Hasil penelitian itu terbit dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 11 Agustus 2026.

Penelitian bertajuk Digestion-resistant proteins support the healthy metabolite profiles associated with plant-based diets yang versi daringnya terbit 27 Juli 2026), itu mengubah cara pandang kita terhadap fungsi serat. Selama ini, ahli gizi memuji serat karena ampuh melancarkan buang air besar.

Bahkan, serat selama ini dikatakan memberi rasa kenyang lebih lama, serta menopang kesehatan metabolik. Namun riset AbuSalim membuktikan fungsi vital lain yang tak kalah krusial. Yaitu bahwa, serat menyediakan jatah makanan utama bagi mikroba usus sehingga mereka tak perlu lagi memburu sumber makanan dari dinding tubuh kita.

Di dalam rongga usus besar, hidup komunitas mikroba raksasa. Mereka bukanlah penumpang gelap yang pasif. Mereka melahap beragam sisa makanan yang lolos dari proses pencernaan manusia. Sebagai imbalannya, mereka memproduksi beragam senyawa aktif yang memengaruhi seluruh sistem kesehatan tubuh kita.

Hubungan antara manusia dan mikroba usus sejatinya sangatlah presisi. Kita menyuplai mereka makanan. Mereka mengolahnya di pabrik pencernaan. Lalu hasil olahan itu memengaruhi fungsi organ tubuh kita. Namun, bisa terjadi bencana tatkala menu makanan yang sampai ke usus besar berubah drastis.

Tubuh manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk mencerna makanan. Namun, sistem itu tidaklah sempurna. Sebagian komponen makanan, terutama serat kasar dan protein spesifik dari tumbuh-tumbuhan, gagal tercerna secara tuntas di usus halus. Bahan-bahan sisa inilah yang akhirnya meluncur menuju usus besar.

Di sanalah mikroba usus mendapat giliran untuk melahap santapan. Dalam riset PNAS tersebut, AbuSalim dan Rabinowitz memberikan perhatian khusus pada jenis protein tumbuhan yang tahan terhadap enzim pencernaan manusia (digestion-resistant proteins).

Dalam rilis resmi Ludwig Institute, AbuSalim menyebut kelompok ini sebagai proteins imitating fiber atau Prif. Sederhananya, ini adalah protein yang gagal kita serap sehingga terus meluncur dan menjadi menu utama mikroba usus.

Dan keberadaan protein semacam itu ternyata memegang peranan sangat vital! Para peneliti menemukan bahwa serat dan protein tahan cerna saling bahu-membahu mengarahkan metabolisme mikroba. Kombinasi keduanya mendorong mikroba memproduksi lebih banyak senyawa sehat dan menekan radikal berbahaya.

Di sinilah alur ceritanya menjadi kian seru. Para peneliti tak cuma menghitung jenis bakteri yang mendiami usus, melainkan melacak secara jeli, dari mana asalnya bahan makanan yang ditelan bakteri? Untuk itu, mereka memanfaatkan teknik canggih bernama stable isotope tracing.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.