Jakarta (ANTARA) -
Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi ginjal dan hipertensi dr. Decsa Medika Hertanto, SpPD, KGH, FINASIM mengingatkan masyarakat yang rutin berolahraga agar tidak menganggap kebugaran fisik sebagai tanda bahwa tubuh sepenuhnya terbebas dari risiko penyakit.
“Sehat dan bugar itu ada dua hal yang berbeda,” kata Decsa dalam diskusi kesehatan yang digelar OMRON Healthcare Indonesia di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, seseorang yang mampu mencapai performa tertentu dalam olahraga dapat menjadi terlalu percaya diri terhadap kondisi kesehatannya. Padahal, kemampuan fisik saat berolahraga tidak selalu menggambarkan kondisi organ tubuh secara keseluruhan.
Decsa mengatakan orang yang aktif berolahraga tetap perlu mengetahui faktor risiko kesehatan, termasuk tekanan darah, riwayat keluarga, pola makan, kualitas tidur, dan tingkat stres.
“Sering kali kita yang bugar ini, kalau sudah bisa mencapai sesuatu di dunia olahraga, kita overconfident. Jadi merasa si paling sehat, si paling kuat,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat yang ingin meningkatkan intensitas olahraga untuk terlebih dahulu mengetahui kemampuan tubuh dan membangun fondasi kebugaran secara bertahap.
Menurut dokter lulusan Universitas Airlangga itu, seseorang juga sebaiknya tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai patokan untuk memaksakan kemampuan diri. Perbedaan kondisi tubuh membuat batas kemampuan setiap orang tidak sama.
“Know your limit. Jadi kita harus tahu limit, batasan kita ini sampai mana,” katanya.
Decsa juga menyarankan pegiat olahraga memperhatikan kondisi tubuh selama beraktivitas, termasuk detak jantung, bukan hanya mengejar pace atau capaian performa.
Ia menilai kebiasaan membandingkan performa melalui aplikasi olahraga dapat mendorong seseorang memaksakan diri tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh.
Decsa mengatakan olahraga tetap penting untuk menjaga kesehatan karena aktivitas fisik dapat membantu menjaga kebugaran jantung dan pembuluh darah. Namun, aktivitas tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.
Ia menekankan bahwa mengetahui kapan harus mengurangi intensitas atau berhenti berolahraga merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan.
“Bukan berarti tidak boleh. Wajib harus olahraga. Tapi kita harus tahu ‘know your limit’, tahu batasan. Tahu juga kemampuan, kapan harus berhenti dan bilang setop,” katanya.
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.