asiawebawards.com
  • 2026-08-15 05:30:00 +0000 UTC

    Aug 15, 2026

    Meradjoet Sendja, Kolaborasi PARFI 56 dan Dompet Dhuafa Rajut Kembali Nilai Kebangsaan

    Bagikan:

    JAKARTA – Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) 56 berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa menghadirkan orkestrasi kebangsaan “Meradjoet Sendja” sebagai puncak program Bakti Seniman Nusantara – Social Funds of Art & Culture.

    Pertunjukan yang diproduseri sekaligus disutradarai aktris dan seniman Olivia Zalianty itu akan digelar pada Rabu, 26 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

    “Meradjoet Sendja” mengangkat semangat perjuangan para pendiri bangsa dan nilai-nilai kebangsaan untuk diwariskan kepada generasi penerus. Pertunjukan tersebut juga menjadi refleksi tentang pentingnya menjaga ingatan terhadap sejarah, pemikiran, serta perjuangan tokoh-tokoh bangsa.

    Olivia Zalianty mengatakan, pertunjukan tersebut merupakan panggilan hati untuk menyambungkan kembali benang-benang perjuangan yang selama ini terpisah.

    “Saya ingin penonton merasakan bahwa nilai-nilai para pendiri bangsa dan seniman masih hidup dan perlu dibawa ke masa depan. Ini adalah persembahan cinta saya dan suami saya, KGPH Ndaru Kusumo, untuk Republik Indonesia,” ujar Olivia.

    Menurut Olivia, penggunaan ejaan kuno “Sendja” dalam judul pertunjukan memiliki makna artistik sekaligus emosional. Ejaan tersebut digunakan untuk menghadirkan nuansa visual dan suasana era awal kemerdekaan Indonesia.

    “Meradjoet” dimaknai sebagai upaya menyambungkan kembali benang-benang pemikiran yang terpisah. Sementara “Sendja” memiliki dua lapis makna, yakni fase penghujung kehidupan para tokoh dan seniman serta senja sebagai pintu menuju hari baru.

    Dengan demikian, “Meradjoet Sendja” dimaknai sebagai upaya merajut kembali ingatan, gagasan, dan perjuangan agar tidak tenggelam bersama senja, melainkan diteruskan kepada generasi berikutnya.

    BACA JUGA:


    Kolaborasi PARFI 56 dan Dompet Dhuafa

    Ketua Umum PARFI 56 sekaligus Produser Eksekutif “Meradjoet Sendja”, Marcella Zalianty, mengatakan pertunjukan tersebut merupakan perwujudan visi PARFI 56 dalam menjalankan program Bakti Seniman Nusantara melalui kolaborasi dengan Dompet Dhuafa.

    “PARFI hadir bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai penggerak utama untuk memastikan bahwa seniman dan pekerja film, baik yang senior maupun yang muda, memiliki ruang untuk berkarya dan dihormati,” kata Marcella.

    Menurut dia, “Meradjoet Sendja” menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap profesi dan bangsa perlu diperjuangkan secara bersama-sama.

    “‘Meradjoet Sendja’ adalah bukti bahwa cinta pada profesi dan bangsa harus diperjuangkan bersama, tidak sendiri-sendiri. Kami ingin mempersatukan semua unsur film dan seni dalam semangat kebangsaan,” ujarnya.

    Marcella menambahkan, kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya bagi para pekerja seni, tetapi juga bagi kemajuan kebudayaan Indonesia dan pemberdayaan masyarakat.

    Ia menilai budaya dan kemanusiaan merupakan elemen penting dalam memperkuat identitas bangsa. Karena itu, “Meradjoet Sendja” diharapkan menjadi jawaban atas keprihatinan terhadap kondisi para seniman senior Indonesia sekaligus menjadi ruang regenerasi bagi talenta muda.

    Hadirkan Aktor, Penyanyi, dan 200 Paduan Suara

    Orkestrasi kebangsaan “Meradjoet Sendja” akan menghadirkan sejumlah aktor dan aktris profesional, antara lain Arswendy Bening Swara, Tanta Ginting, Fryda Lucyana, Isyana Sarasvati, Lutfi Ardiansyah, Edopaha, Jane Callista, Shanna Shannon, dan Ridho Rokhanah.

    Pertunjukan tersebut juga didukung tim artistik berpengalaman serta sekitar 200 anggota paduan suara yang akan mengiringi rangkaian acara.

    “Meradjoet Sendja” akan terbagi dalam empat babak yang mengangkat narasi sejarah dan kebangsaan.

    Babak pertama bertajuk “Fajar Nusantara”, yang menggambarkan kelahiran alam Nusantara serta dialog antara Soekarno dan Mohammad Hatta.

    Babak kedua, “Tanah Pengasingan”, mengisahkan perenungan Hatta, Sutan Sjahrir, dan Soekarno selama masa pembuangan yang kemudian dikaitkan dengan lahirnya gagasan Pancasila.

    Selanjutnya, babak ketiga “Bahasa Keberanian” menampilkan monolog Siti Soendari mengenai keputusan penting dalam penggunaan bahasa Indonesia.

    Sementara babak keempat, “Pertemuan Satu Malam”, menyajikan pertemuan Soekarno dan Tan Malaka dengan dua jalan perjuangan yang berbeda. Bagian ini ditutup dengan monolog Soekarno pada masa senja kehidupannya.

    Pada bagian finale, sekitar 500 pelajar akan memenuhi auditorium dan menyanyikan lagu “Pancasila” secara bersama-sama. Momen tersebut menjadi simbol estafet nilai-nilai kebangsaan dari generasi terdahulu kepada generasi penerus.

    Arswendy Bening Swara: Jangan Lupakan Sejarah

    Salah satu aktor senior yang terlibat, Arswendy Bening Swara, mengatakan dirinya tertarik bergabung karena nilai-nilai kebangsaan yang diusung dalam pertunjukan tersebut.

    Arswendy telah berkecimpung di dunia perfilman sejak 1985 dan aktif di Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya sejak 1982.

    Menurut Arswendy, “Meradjoet Sendja” menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan sejarah dan perjuangan para pendiri bangsa.

    “‘Meradjoet Sendja’ adalah pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah dan perjuangan para pendiri bangsa,” ujar Arswendy.

    Sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Arswendy juga turut berbagi pengalaman kepada para talenta muda yang terlibat dalam pertunjukan tersebut.

    Ia menekankan pentingnya membangun karakter tokoh melalui akting yang natural dan tidak terlihat seperti sedang berakting. Filosofi tersebut, menurutnya, diperoleh dari pengalaman panjangnya di dunia teater dan perfilman, termasuk pengalaman internasional di Marrakech International Film Festival.

    “Peran tokoh sejarah di atas panggung adalah tantangan besar karena kita harus menghidupkan kembali nilai-nilai dan semangat mereka di hadapan generasi masa kini,” katanya.

    Melalui “Meradjoet Sendja”, PARFI 56 dan Dompet Dhuafa berharap seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga menjadi medium untuk merawat ingatan sejarah, memperkuat nilai kebangsaan, serta mempertemukan generasi senior dan muda dalam semangat mencintai Indonesia.

    Add VOI as a Preferred Source

    Follow VOI news updates across Google.

    +

    2026-08-15 05:30:00 +0000 UTC