Kamis, 24 September 2026 - 12:00 WIB
VIVA –PT Pertamina (Persero) resmi menutup rangkaian program Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026 pada 23 September 2026 di Auditorium MyPertamina, Universitas Pertamina, Jakarta, setelah digelar selama lebih dari 4 bulan sejak kick-off pada 21 Mei 2026 lalu di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Baca Juga
Seremonial penutupan rangkaian PGTC 2026 dimulai dengan digelarnya Grand Final Energy Debate Championship (EDC), serta Awarding bagi pemenang EDC dan pemenang Energynovation Ideas Competition (EIC) yang babak finalnya sudah digelar sehari sebelumnya di venue yang sama.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Grand Final dan Awarding ini menjadi momentum pertemuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang telah melewati rangkaian kompetisi, pembelajaran, dan berbagai aktivitas PGTC 2026 untuk menunjukkan gagasan serta inovasi mereka di bidang energi.
Baca Juga
Tidak hanya menjadi panggung kompetisi, hari puncak PGTC 2026 juga menjadi ruang untuk memperlihatkan perjalanan program yang telah berlangsung sejak Kick Off hingga rangkaian Roadshow di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dalam sambutannya mengatakan PGTC adalah jembatan antara ilmu pengetahuan dan tantangan nyata industri energi.
Baca Juga
"Saya masih ingat saat membuka PGTC di ITB bulan Mei lalu, saya titipkan pesan sederhana: stay curious, stay courageous. Hari ini saya tidak lagi hanya melihat rasa ingin tahu, tapi melihat bukti nyata keberanian adik-adik semua. Selama berbulan-bulan kalian belajar, berdebat, meneliti, menguji ide, dan menyempurnakan gagasan. Inilah makna dari Move Faster, Impact Further," ujar Simon.
Simon juga menekankan pentingnya keberanian generasi muda untuk mengembangkan gagasan dan inovasi. “Tantangan energi Indonesia membutuhkan kontribusi bersama, termasuk generasi muda,” jelas Simon.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng., mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang telah memberikan sumbangsih pikiran dan ide inovatif dalam menjawab tantangan ketahanan energi masa depan.
"Adik-adik dilatih berpikir kritis, membangun argumen berbasis bukti, sekaligus berani menguji gagasan di hadapan publik. Melalui EIC, adik-adik ditantang melangkah lebih jauh, tidak hanya memahami persoalan energi, tetapi ikut menawarkan solusi. Inilah makna sebenarnya dari Dikti Saintek Berdampak atau Kampus Berdampak, bergeser dari sekadar menghasilkan keluaran menuju menghasilkan dampak," ujar Khairul Munadi.
Halaman Selanjutnya
Khairul Munadi menambahkan, Indonesia membutuhkan generasi baru yang melihat energi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan multidimensi, dari teknologi, ekonomi, lingkungan, hingga keberlanjutan.