Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim stok beras nasional dalam kondisi aman di tengah ancaman El Nino ekstrem. Pemerintah memperkirakan ketersediaan beras mencukupi kebutuhan nasional hingga 10 bulan ke depan.

Amran mengatakan ancaman El Nino ekstrem menjadi salah satu tantangan terhadap ketahanan pangan. Menurut dia, fenomena tersebut disebut sebagai El Nino "Godzilla" dan menjadi salah satu kondisi terberat berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Di tengah goncangan dunia, krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Ini terjadi di belahan dunia, bahkan ada El Nino yang sangat ekstrem. El Nino Godzilla. Ini terberat katanya, menurut BMKG," kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (15/9).

Untuk mengantisipasi dampak El Nino, pemerintah melakukan sejumlah langkah, mulai dari pembangunan irigasi, embung, pompa air, optimalisasi lahan sawah dan rawa, hingga program cetak sawah.

Berbagai upaya itu disebutnya untuk menjaga produksi beras nasional. Saat ini, pemerintah mencatat standing crop atau tanaman padi yang masih berada di lahan mencapai sekitar 3,8 juta hektare dengan potensi produksi sekitar 10 juta ton.

Selain itu, Amran memperkirakan stok beras yang berada di masyarakat, termasuk hotel, rumah, restoran, dan kafe mencapai lebih dari 10 juta ton. Sementara stok beras yang berada di Perum Bulog sekitar 5 juta ton.

"Totalnya 25-26 juta ton. Kebutuhan per bulan itu 2,5-2,6 juta ton per bulan," ujarnya.

Dengan perhitungan itu, Amran memperkirakan stok beras nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan atau sekitar Juni 2027.

Kondisi stok beras nasional yang diklaim aman juga memungkinkan Indonesia melakukan ekspor beras. Dia menyebut Indonesia telah mengekspor beras ke Malaysia dan berencana mengirim beras ke sejumlah negara lainnya melalui Bulog. Pemerintah juga telah mengirimkan 10 ribu ton beras ke Palestina.

"Bukan saja stok kita aman, tapi kita sudah ekspor ke Malaysia. Dan ini sejarah baru untuk Republik Indonesia. Dan beberapa negara lagi, melalui Bulog, akan kita ekspor beras kita," ujar Amran.

Pemerintah Tambah SPHP 1 Juta Ton

Di sisi lain, Amran mengatakan pemerintah tetap perlu menjaga harga beras di tengah adanya kenaikan harga. Pemerintah akan mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada 33,4 juta rumah tangga.

Selain bantuan pangan, pemerintah juga menambah penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton.

"Yang kedua adalah SPHP. Kita tambah 1 juta ton. Ini yang kemarin tinggal sedikit, kita tambah," katanya.

Menurut Amran, tambahan SPHP tersebut akan digunakan untuk operasi pasar guna menahan kenaikan harga beras. Dia menyebut terdapat sekitar 116 juta petani padi yang juga perlu dijaga dari tekanan harga. 

"Sementara itu petani kita jaga harganya supaya jangan turun drastis. Konsumen 286 juta, kita jaga juga harganya. Jangan sampai tinggi, terlalu tinggi," ujar Amran.