Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah memperkuat ketahanan pangan Indonesia lewat percepatan pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir, yang juga menjamin ketersediaan ayam, telur, dan susu bagi kebutuhan nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pembangunan ekosistem itu sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industri peternakan nasional. Pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp17 triliun untuk pengembangan ekosistem peternakan di sejumlah wilayah.
Hal itu disampaikan Amran dalam kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9). Ia menjelaskan, dari anggaran tersebut, sebesar Rp2,2 triliun akan digunakan untuk pembangunan tahap awal di lima kawasan, masing-masing di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan," ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9).
Kawasan peternakan tersebut dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang menghasilkan produk peternakan, juga membangun rantai pasok mulai dari pakan, pembibitan atau DOC, budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu.
Integrasi ini sekaligus bertujuan memperkuat pasokan pangan bergizi bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah mendorong agar kebutuhan ayam, telur, dan susu dapat dipenuhi melalui penguatan produksi dalam negeri.
"Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu," tutur Amran.
Penguatan industri pakan menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem. Jagung yang merupakan bahan baku utama pakan akan difokuskan agar berasal dari sentra produksi di sekitar kawasan peternakan.
"Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti," kata Mentan.
Menurutnya, pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi jagung akan membuat rantai pasok lebih efisien dan menekan biaya logistik. Jagung tidak perlu dikirim ke luar wilayah untuk diolah menjadi pakan, kemudian dikirim kembali ke sentra peternakan.
"Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan," ujarnya.
Selain pabrik pakan, pemerintah juga membangun fasilitas pembibitan atau DOC untuk memperkuat ketersediaan bibit ayam di dalam negeri. Sehingga, kebutuhan DOC dapat dipenuhi lebih dekat dengan sentra produksi.
Sementara, pengembangan sapi perah diarahkan untuk memperkuat produksi susu nasional guna memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.
Amran menyatakan, pengembangan ayam, telur, dan susu yang kemudian turut dikonsumsi anak-anak merupakan investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
"Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas," ujarnya.
Salah satu kawasan pengembangan itu adalah Bone di Sulawesi Selatan, yang memiliki luas sekitar 150 hektare. Pembangunan area ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan rantai pasok peternakan, yang membuka aktivitas ekonomi baru di wilayah sekitar.
Mentan menekankan agar pembangunan ekosistem peternakan dilakukan dengan pendekatan terintegrasi, sehingga manfaatnya dapat ikut memperkuat pasar bahan baku, industri pengolahan, distribusi, hingga penyerapan produk peternakan.
"Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja," pungkas Amran
Dengan pembangunan ekosistem dari hulu hingga hilir, pemerintah berupaya membentuk rantai pasok peternakan yang lebih efisien, memperluas pasar bagi petani, memperkuat industri pakan dan pembibitan, serta meningkatkan kapasitas produksi ayam, telur, dan susu untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi nasional.
(rea/rir)