Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyampaikan Kawasan Industri (KI) di Jabodetabek-Karawang berpotensi menjadi pusat pengembangan komponen elektronika, mengingat industri nasional didukung oleh ekosistem manufaktur yang matang, kekayaan sumber daya, serta besarnya pasar domestik.

“Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia merupakan pasar elektronika konsumen terbesar di ASEAN. Kita juga memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, serta sumber daya kobalt, tembaga, dan timah sebagai bahan baku komponen strategis. Ditambah dengan ekosistem manufaktur yang matang, kawasan industri Jabodetabek–Karawang berpotensi menjadi pusat pengembangan industri komponen elektronika,” kata Sarmuji dalam keterangannya dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat.

Potensi tersebut menurutnya perlu dioptimalkan melalui penguatan keterlibatan industri kecil menengah (IKM) dalam rantai pasok industri elektronika dan kelistrikan nasional.

Menurut dia, peluang itu semakin terbuka seiring meningkatnya kebutuhan komponen elektronika global akibat perkembangan kendaraan listrik, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan internet untuk segala (internet of things/IoT).

Riset McKinsey Global Institute memproyeksikan nilai pasar komponen elektronika dunia melampaui 1 triliun dolar AS pada 2030. Sementara itu, permintaan komponen untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan pada 2023–2030 diperkirakan tumbuh tiga kali lipat dibandingkan konsumsi elektronika konvensional.

Sarmuji menekankan, penguatan rantai pasok domestik menjadi penting karena sejumlah IKM telah mampu memproduksi komponen seperti printed circuit board assembly (PCBA), wire harness, konektor, copper braid, panel listrik, serta sistem proteksi dan distribusi daya.

Baca juga: Genjot TKDN, Kemenperin jodohkan IKM elektronik dengan produsen besar

Baca juga: Kemenperin "jodohkan" BUMN dengan IKM elektronik dan telekomunikasi

Namun, Sarmuji menjelaskan, IKM masih menghadapi kendala berupa keterbatasan akses pasar formal, kepastian penyerapan produk, sertifikasi internasional, dan pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Di sinilah peran pemerintah tidak hanya terbatas pada pelatihan dan sertifikasi, tetapi juga mempertemukan IKM dengan industri besar serta mendorong terwujudnya kemitraan yang terstruktur, adil, dan berjangka panjang,” ujar Sarmuji.

Sebagai upaya konkret, Kementerian Perindustrian menggelar Forum Diskusi Kemitraan IKM Komponen Elektronika dan Kelistrikan dengan Industri Besar/BUMN pada 12 Oktober 2026, Jakarta untuk menjajaki kerja sama dan memperkuat integrasi rantai pasok nasional.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita menyebutkan, jumlah IKM industri komputer, barang elektronika, dan optik mencapai 5.816 unit usaha pada 2025, meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan 2021. Adapun IKM industri peralatan listrik tercatat sebanyak 781 unit usaha.

Reni menambahkan, transisi energi, elektrifikasi, digitalisasi, serta kebijakan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) membuka peluang bagi IKM untuk memasok komponen kendaraan listrik, pembangkit listrik tenaga surya, dan infrastruktur digital.

Sementara itu, Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Kemenperin Emma Natalia mendorong industri besar dan BUMN memberikan akses kepada IKM sebagai pemasok formal, disertai kepastian kontrak, transfer pengetahuan teknis, dan peningkatan standar kualitas.

Baca juga: Menperin minta IKM sektor otomotif bersiapkan masuk tren mobil listrik

Baca juga: IKM otomotif lakukan diversifikasi produk antisipasi peralihan ke EV

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.