Menkraf: Ekonomi kreatif mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional
Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) -
Menteri Ekonomi Kreatif (Menkraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan sektor ekonomi kreatif (ekraf) telah menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus memperkuat daya saing produk lokal dengan pengembangannya dimulai dari daerah.
"Kalau budaya itu adalah hulunya, maka ketika turunannya diberikan sentuhan inovasi, teknologi, dan kreativitas, di situlah lahir ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif ini bukan akan, tetapi telah menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah," katanya dalam Jatim Media Summit 2026, di Surabaya, Kamis.
Menurut dia, Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekonomi kreatif karena didukung kekayaan budaya, sumber daya manusia, dan ekosistem usaha kreatif yang terus berkembang.
Ia mengatakan arah pembangunan ekonomi kreatif juga sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Baca juga: Menekraf sebut generasi muda jadi pendorong ekosistem ekraf digital
"Kita ingin mengembangkan lapangan kerja berkualitas. Ada kata 'berkualitas' karena dibutuhkan keterampilan atau skill. Kalau pegiat ekonomi kreatif hanya membuka lapangan kerja saja, nanti akan berhenti di level UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah)," ujarnya.
Oleh sebab itu, lanjutnya, pelaku ekonomi kreatif perlu meningkatkan kapasitas melalui penguasaan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) agar mampu meningkatkan produktivitas, inovasi, serta daya saing industri kreatif.
"Yang kita butuhkan adalah tambahan skill, terutama kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital dan AI sehingga industri kreatif bisa berkembang semakin baik," katanya.
Selain peningkatan kompetensi sumber daya manusia, Teuku menilai hilirisasi juga perlu diterapkan pada sektor ekonomi kreatif sehingga tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan.
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.