Kalau nelayan kita lemah, laut kita yang luas dikuasai oleh nelayan yang kuat
Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) -
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan penguatan kemampuan ekonomi nelayan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi laut Indonesia yang luas sekaligus mencegah kekayaan perikanan nasional lebih banyak dimanfaatkan oleh nelayan asing.
“Kalau nelayan kita lemah, laut kita yang luas dikuasai oleh nelayan yang kuat. Karena itu, keberpihakan kepada nelayan harus diperkuat agar mereka mampu meningkatkan kesejahteraan dan memanfaatkan potensi laut Indonesia,” katanya dalam Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, Jawa Timur, Minggu.
Zulkifli mengatakan nilai tukar nelayan Indonesia yang berada pada angka 103 menunjukkan kondisi ekonomi sebagian nelayan masih rentan bahkan tergolong desil satu atau miskin.
Hal itu membuat nelayan memerlukan bantuan dari pemerintah mulai dari beras hingga uang tunai agar mereka tetap bisa makan dan menyekolahkan anaknya.
Lemahnya kondisi ekonomi nelayan ini, kata dia, juga memengaruhi daya tawar mereka ketika menjual hasil tangkapan sehingga ikan yang diperoleh dengan susah payah kerap dilepas dengan harga murah karena tidak tersedia fasilitas penyimpanan yang memadai.
“Nelayan Indonesia yang rajin itu dapat ikan, begitu ditawarkan harganya murah, dia tetap menjual karena kalau tidak dijual ikannya busuk,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Zulkifli menilai kondisi tersebut perlu dibenahi agar potensi perikanan Indonesia yang besar dapat memberikan manfaat ekonomi lebih optimal bagi nelayan dalam negeri, bukan hanya menghasilkan tangkapan tanpa diikuti peningkatan pendapatan.
"Kalau nelayan kita lemah, laut kita yang luas dikuasai oleh nelayan yang kuat. Siapa nelayan yang kuat? Nelayan yang kuat dari Thailand, dari Vietnam, dari Tiongkok, dari Jepang," kata Zulkifli.
Bahkan, ujar dia, Menteri Kelautan dan Perikanan pernah menyampaikan perkiraan kerugian akibat pencurian ikan mencapai Rp250 triliun per tahun.
Kerugian itu lah yang menurut Zulkifli menjadi salah satu alasan penting untuk memperkuat kemampuan nelayan nasional dalam memanfaatkan sumber daya laut.
Untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, pemerintah mendorong penyediaan fasilitas pendukung usaha termasuk balai lelang ikan, pabrik es, penyimpanan berpendingin, stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan, serta akses pembiayaan dengan bunga KUR sebesar delapan persen.
Presiden Prabowo Subianto juga menargetkan nilai tukar nelayan meningkat dari 103 menjadi 120 hingga 2027 sehingga pendapatan nelayan diharapkan semakin mampu menopang kebutuhan keluarga dan pengembangan usaha.
Baca juga: Menko Pangan: Tak impor beras bukti ekonomi kerakyatan terwujud
Baca juga: Zulhas: Pembangunan KNMP sebagai upaya capai NTN 120 pada 2027
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.