Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan rencana pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan ekonomi Iran kemungkinan akan meniadakan kebutuhan operasi militer AS besar-besaran terhadap Iran.

Hal itu disampaikan Scott Bessent kepada CNBC pada Kamis, 20 Agustus 2026. "Jika kita memberikan tekanan ekonomi maksimal, maka kemungkinan besar tidak akan terjadi eskalasi konflik bersenjata skala besar,” kata Bessent dalam wawancara eksklusif dengan Squawk on the Street.

Komentar Scott Bessent menyusul pernyataan Presiden Donald Trump di Truth Social kalau AS berencana untuk menghancurkan ekonomi Iran dengan menjatuhkan sanksi berat terhadap negara manapun yang memberikan segala jenis bantuan kepada Teheran.

"Ini akan menjadi HARI-H EKONOMI, dan kita membutuhkan semua Sekutu kita untuk berdiri bersama Amerika Serikat untuk mengisolasi dan mengalahkan ancaman Iran,” tulis Trump dalam unggahan Rabu malam.

Pengumuman itu disampaikan ketika perang melawan Iran mendekati enam bulan tanpa ada tanda-tanda AS akan segera meraih kemenangan diplomatik atau militer.

Harga minyak naik setelah wawancara CNBC dengan Bessent. Ia bersumpah AS akan menciptakan "isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia” terhadap Iran.

Dia mengatakan, akan mengadakan konferensi pers pada Senin untuk membicarakan detil rencana.

Dalam pratinjau rencana tersebut, ia mengatakan AS akan memberi tahu semua sekutunya. "Anda bersama kami atau melawan kami," ujar dia.

Bessent Yakin Iran Terpuruk Karena AS

Suara Senat Amerika Serikat mengonfirmasi Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan AS dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. (Foto dok. Associated Press/Ben Curtis)

Perbesar

Suara Senat Amerika Serikat mengonfirmasi Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan AS dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. (Foto dok. Associated Press/Ben Curtis)

"Jika Anda bersikeras melakukan bisnis dengan Iran, baik mentransfer uang, membeli minyak, atau melakukan transfer kapal, maka Departemen Keuangan dan pemerintah AS akan mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaganya untuk menindak Anda," kata Bessent.

"Sudah saatnya sekutu kita dan seluruh dunia mengambil keputusan," ia menambahkan.

Ia juga mengesampingkan skeptisisme awal terhadap rencana tersebut. Bessent berargumen kampanye tekanan ekonomi ini akan berjalan beriringan dengan blokade laut AS yang sedang berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Oman.

"Ini adalah pukulan ganda. Kita memiliki blokade, dan akan menerapkan sanksi terberat dalam sejarah,” katanya.

"Kita akan meruntuhkan rezim ini," ujar dia.

Trump telah mengklaim berulang kali AS telah menghancurkan militer dan ekonomi Iran, dan ia bersikeras dalam unggahan Truth Social-nya pada Rabu malam bahwa Teheran terpojokkan.

Ekonomi Iran

Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)

Perbesar

Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)

Memang produk domestik bruto (PDB) Iran diyakini menyusut di tengah perang, sementara inflasi di negara itu melonjak ke tingkat tertinggi. Namun, beberapa ahli mengingatkan agar tidak berasumsi bahwa ekonomi Iran akan segera runtuh.

Iran juga terus memanfaatkan kemampuannya untuk mengacaukan Selat Hormuz, jalur air yang menjadi pusat perdagangan minyak dunia sebanyak 20% sebelum perang dimulai.

Pelayaran kapal tanker melalui selat tersebut tetap sangat berkurang meskipun tekanan dari AS dan kekuatan regional lainnya meningkat. Uni Emirat Arab mengatakan pada Rabu bahwa mereka akan menghentikan semua perdagangan dengan Iran setelah menghadapi serangan rudal balistik baru.

“Memperkuat kebijakan yang gagal hanya akan membuahkan kekalahan dan permusuhan dari rakyat Iran,” kata Menteri Luar Negeri, Iran Abbas Araghchi, di X sebagai tanggapan atas ancaman terbaru Trump.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6