Liputan6.com, Jakarta - Deretan panel surya di lahan seluas sekitar 0,8 hektare di Pulau Sembur, Kelurahan Galang Baru, Batam sebagai pulau terdepan yang berbatasan dengan Singapura, kini memasuki fase yang lebih menentukan.
Setelah pembangunannya rampung dan mulai beroperasi sejak 17 Agustus 2026, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 megawatt peak (MWp) itu tak lagi sekadar diuji sebagai infrastruktur energi.
Deputi Pengembangan Usaha Kementerian Koperasi, Panel Barus mengatakan, PLTS Pulau Sembur telah selesai dibangun dan kini memasuki tahap pemanfaatan produktif.
"PLTS 1 megawatt ini sudah selesai dibangun bahkan sudah beroperasi sejak 17 Agustus kemarin. Sekarang listrik sudah nyala di Pulau Sembur,” kata Panel saat kunjungan ke Pulau Sembur, Galang Baru, Batam, Senin (21/9/2026).
Menurut Panel, PLTS Pulau Sembur ditempatkan sebagai proyek percontohan dalam agenda pengembangan energi surya pemerintah, termasuk dalam konteks program PLTS 100 gigawatt yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto.
"PLTS 1 megawatt yang kita buat di Sembur ini adalah sebuah percontohan atas program besar dari Bapak Presiden, yaitu PLTS 100 gigawatt,” ujar dia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354127/original/039659800_1790008580-1001112059.jpg)
Perbesar
Namun, setelah panel berdiri dan listrik menyala, tantangan berikutnya justru lebih kompleks memastikan energi tersebut benar-benar menghasilkan aktivitas ekonomi.
Konsep yang digunakan dalam pengembangan PLTS Pulau Sembur merupakan productive use of energy. Artinya, listrik tidak berhenti sebagai sumber penerangan, tetapi diarahkan menjadi penggerak kegiatan produksi masyarakat.
Hal ini menjadi penting karena sekitar 90 persen masyarakat Pulau Sembur disebut menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan.
Karena itu, listrik PLTS diarahkan untuk menopang rantai usaha nelayan, mulai dari mesin es berkapasitas 4 ton per hari, cold storage berkapasitas 5 ton, air bersih, hingga distribusi hasil tangkapan.
Seluruh aktivitas tersebut nantinya diarahkan terhubung dengan Koperasi Kelurahan Merah Putih Galang Baru. Panel Barus mengatakan koperasi diproyeksikan tidak hanya mengelola fasilitas energi, tetapi juga menjalankan sejumlah unit usaha.
Mulai dari PLTS, pabrik es, cold storage, air bersih, SPBUN atau stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan, hingga pengembangan usaha perikanan tangkap dan budidaya melalui keramba apung.
“Sehingga, aktivitas ekonominya jadi berjalan, tumbuh, produktivitas naik, dan itu semua butuh listrik,” kata Panel.
Dengan skema tersebut, PLTS diharapkan menjadi bagian awal dari rantai ekonomi yang lebih panjang, listrik menggerakkan fasilitas produksi, fasilitas mendukung nelayan, hasil tangkapan masuk ke koperasi, kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354125/original/045698100_1790008578-1001112040.jpg)
Perbesar
Di tempat Yang sama Direktur Utama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, mengatakan ukuran keberhasilan proyek justru berada pada manfaat yang diterima masyarakat.
“Yang penting adalah listrik itu membawa manfaat. Dalam hal ini adalah yang kami sebut productive use of electricity. Jadi, bagaimana listrik ini membuat usaha dan juga kesejahteraan masyarakat meningkat,” kata John.
Menurut dia, perubahan mulai terlihat pada aktivitas nelayan setelah fasilitas pendukung tersedia. Mesin es sudah digunakan, sedangkan cold storage mulai menampung hasil tangkapan nelayan.
“Para nelayan sekarang bisa menangkap ikan lebih banyak, berani menangkap ikan lebih banyak. Kalaupun berlebih, bisa disimpan,” ujar dia.
Kondisi ini berpotensi mengubah pola ekonomi nelayan. Selama ini, keterbatasan penyimpanan membuat hasil tangkapan harus segera dijual. Dengan fasilitas pendingin, ikan dapat disimpan lebih lama sebelum dipasarkan.
Menurutnya PNRE bersama Kementerian Koperasi membuka peluang pengembangan hilirisasi produk perikanan, mulai dari pengalengan ikan hingga berbagai produk olahan. “Mungkin suatu saat nanti ada pengalengan ikan, atau produk-produk lainnya, kerupuk ikan,” kata John.
Paparan proyek mencatat adanya potensi pengurangan konsumsi bahan bakar minyak sekitar 877 liter per hari atau sekitar 320 ribu liter per tahun. Jika dihitung berdasarkan asumsi dalam materi proyek, nilai penghematan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp3,5 miliar hingga Rp5 miliar per tahun. Namun, angka tersebut masih merupakan estimasi dalam paparan proyek dan bukan realisasi penghematan yang telah terverifikasi.
Proyek juga mencatat potensi penciptaan sekitar 18-28 lapangan kerja langsung serta dukungan terhadap aktivitas ekonomi sekitar 50-100 <50100> nelayan dan anggota koperasi. Angka-angka tersebut menjadi bagian dari target ekonomi yang harus dibuktikan setelah PLTS beroperasi.
PNRE dan Kementerian Koperasi merencanakan pengembangan perahu listrik atau electric boat yang dapat digunakan untuk mendukung transportasi anak sekolah. Selama ini, siswa Pulau Sembur yang hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA harus menyeberang ke wilayah Galang. Persoalan biaya dan akses transportasi menjadi salah satu tantangan. Dengan adanya sumber listrik dan baterai, perahu listrik nantinya dirancang dapat melakukan pengisian daya di kawasan PLTS.
“Perahu sekolahnya belum ada. Nanti perahu sekolah inilah yang pakai listrik yang bisa mungkin memberikan pelayanan gratis bagi anak-anak sekolah sehingga tidak terputus sekolah di SMA,” kata John.
Rencana tersebut masih berada pada tahap pengembangan, sehingga manfaatnya belum dapat disebut sebagai capaian proyek saat ini.
Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), Hengky Witarsa, menilai proyek Pulau Sembur memiliki dimensi yang lebih luas dibanding sekadar penyediaan listrik. “Ini bukan hanya mengadakan listrik, tapi juga melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk menaikkan nilai ekonomi dari masyarakat lokal,” ujar Hengky.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6