Jakarta (ANTARA) - Berdiam diri terdengar mudah dilakukan. Namun bagi seorang ibu rumah tangga yang juga seorang wirausaha, berdiam diri menjadi bagian tersulit dari sesi terapi hutan yang diikutinya.
"Awalnya ada sedikit rasa tidak terbiasa, karena saya selalu hidup dalam ritme cepat yang membuat diam terasa seperti tidak melakukan apa pun," ujar Wira, seorang ibu rumah tangga berusia 33 tahun, saat diwawancarai Xinhua setelah mengikuti sesi terapi hutan di Kebun Raya Bogor pada Agustus lalu.
Pengalaman memperlambat ritme hidup seperti inilah yang ditawarkan terapi hutan atau forest therapy, sebuah praktik yang berakar dari shinrin-yoku atau mandi hutan di Jepang. Di negeri asalnya, mandi hutan telah dipraktikkan sebagai upaya kesehatan sejak tahun 1980-an.
Menurut situs web resmi Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), praktik ini kini menjadi bagian penting dari layanan kesehatan preventif di Jepang, dan sejumlah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa aktivitas ini dapat memperbaiki kualitas tidur, suasana hati, dan kemampuan untuk fokus, serta menurunkan tingkat stres.
Dari sisi ilmiah, efek positif terapi hutan antara lain dikaitkan dengan fitonsida, senyawa volatil alami yang dihasilkan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, dan tekanan lingkungan.
Guru Besar IPB University Prof. Siti Badriyah Rushayati dalam orasi ilmiahnya pada 27 Juni lalu, seperti dikutip situs web resmi IPB, menjelaskan bahwa paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami (natural killer cells) yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Paparan fitonsida secara teratur juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental, katanya.
Di Indonesia, praktik ini mulai dikenal luas dan banyak diterapkan sebagai opsi wisata kebugaran. Di taman-taman dan kawasan hutan, peserta diajak untuk berdiam diri sejenak dan merasakan alam dengan seluruh pancaindra.
Mereka dipandu untuk berjalan tanpa alas kaki secara perlahan, berbaring di atas rumput, mendengarkan suara alam, dan menghirup aroma dedaunan serta merasakan tekstur objek-objek alam yang ada di sekitarnya. Tujuannya untuk berpijak pada momen saat ini dan memungkinkan tubuh pulih secara alami.
Dalam momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, upaya sederhana untuk merawat kesehatan mental menjadi kian relevan, khususnya bagi masyarakat modern yang kerap mengalami stres dan burnout akibat ritme hidup serba cepat dan tekanan hidup yang tinggi.
Tantangan menjaga kesehatan mental juga tidak hanya dihadapi orang dewasa. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia periode 2025-2026 mendeteksi gangguan kecemasan (anxiety disorder) pada 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak, serta gejala depresi pada 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak, dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining. Data ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental sejak usia anak-anak.
Elemen terpenting dari terapi hutan adalah melatih kesadaran penuh atau mindfulness. Luh Surini Yulia Savitri, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dalam sebuah artikel bertanggal 28 Maret 2024 di situs web resmi fakultas tersebut menjelaskan bahwa mindfulness merupakan kesadaran individu untuk ada "di sini dan saat ini".
Dia juga merujuk pada Jon Kabat-Zinn, profesor asal Amerika Serikat, yang mengartikan mindfulness sebagai kesadaran dari waktu ke waktu yang tidak menghakimi apa yang ada di pikiran dan perasaan diri sendiri maupun orang lain.
Kesulitan inilah yang diakui Wira dialaminya selama mengikuti sesi terapi. "Tantangan terbesar adalah melepaskan kebutuhan untuk selalu berpikir dan melakukan sesuatu," ungkapnya.
"Saya terbiasa memikirkan banyak kemungkinan dan mempersiapkan banyak hal. Dalam kegiatan seperti ini, saya belajar tidak semua hal perlu dianalisis. Ada kalanya kita cukup hadir, merasakan, dan membiarkan sesuatu berlangsung tanpa harus segera mencari makna atau solusinya," ujar ibu yang memiliki seorang anak usia prasekolah itu.
Praktisi sekaligus dosen psikologi di Universitas Gunadarma, Dr. Hendro Prabowo, yang telah bertahun-tahun menerapkan terapi hutan sebagai metode komplementernya dalam membantu menangani berbagai masalah psikologis, mengakui bahwa tantangan terbesar dalam terapi ini adalah memandu peserta yang cenderung berpikir berlebihan atau overthinking.
Kebiasaan menganalisis secara berlebihan membuat peserta kerap kesulitan untuk benar-benar hadir di alam dan merasakan manfaat terapi secara maksimal, ujarnya.
Untuk membantu peserta menyadari perubahan pada diri mereka setelah mengikuti terapi, Hendro menggunakan metode visual yang disebut pain drawing. Sebelum sesi dimulai, peserta menerima gambar anatomi tubuh manusia, menandai bagian tubuh yang terasa sakit, lalu memberi skala pada rasa sakit tersebut. Di akhir sesi, mereka menilai ulang gambar yang sama.
Menurut Hendro, perbandingan ini memungkinkan peserta untuk melihat efek langsung dari terapi terhadap keluhan fisik yang mereka rasakan.
Selain itu, menurut Hendro, berjalan perlahan tanpa alas kaki dapat membantu melancarkan peredaran darah dan meredam stres. Menurut dia, saat kaki bersentuhan langsung dengan tanah, elektron bebas dari permukaan bumi akan mengalir ke dalam tubuh dan bertindak sebagai antioksidan alami penangkal radikal bebas. Sirkulasi darah yang membaik secara bertahap dapat membantu mengurangi keluhan nyeri fisik akibat stres dan penyumbatan aliran darah, jelasnya lebih lanjut.
Menurut Hendro, berbeda dari hiking yang menguras tenaga serta menempuh jalur menanjak dan menurun, terapi hutan sebaiknya dilakukan di medan yang datar dan hanya melibatkan aktivitas fisik ringan. Udara yang sejuk, tingkat kebisingan yang rendah, keberadaan pohon-pohon rindang, serta aliran sungai yang aman untuk disusuri juga menjadi elemen penting.
Pandangan senada disampaikan Prof. Siti. Menurutnya, dalam terapi hutan seluruh pancaindra harus dapat menyatu dengan alam. "Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi pun tidak akan berjalan optimal," ujarnya, seperti dikutip situs web resmi IPB.
Ke depan, sosialisasi dan edukasi yang lebih luas kepada publik, serta bertambahnya jumlah pemandu terlatih, diharapkan dapat membuka akses terapi hutan bagi lebih banyak orang. Hendro berharap terapi ini dapat semakin banyak diperkenalkan kepada kelompok lansia, pekerja yang memiliki gaya hidup kurang sehat akibat stres, hingga remaja yang mengalami kecanduan gawai sebagai langkah kesehatan preventif.
Dia juga berharap, seiring tumbuhnya kesadaran akan manfaat hutan bagi kesehatan fisik dan mental, masyarakat akan semakin peduli terhadap keberlanjutan ekosistem hutan, yang pada gilirannya dapat mendorong pelestarian lingkungan serta tata kota yang lebih hijau dan sehat.
Bagi Wira, sesi terapi di tengah alam terbuka itu meninggalkan pemahaman baru tentang arti ketenangan. "Setelah mengikuti terapi ini, saya menyadari bahwa ketenangan bukan berarti hidup sedang tidak memiliki masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap hadir dan tidak kehilangan diri sendiri di tengah berbagai hal yang sedang terjadi," ujarnya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.