Jakarta (ANTARA) - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan Kota Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu daerah dengan ekosistem kreatif yang telah diakui UNESCO sebagai Kota Kreatif bidang Media Arts yang dapat mengembangkan talenta dan ekosistem kreatif yang berdampak pada kesejahteraan.

Ia menegaskan ekosistem ekonomi kreatif di daerah yang dilakukan melalui komunitas dan dukungan berbagai pihak harus berperan dalam memberikan dampak ekonomi bagi masyarakatnya khususnya pelaku kreatif.

“Kota Malang memiliki talenta dan ekosistem kreatif yang luar biasa. Dukungan dari akademisi, pemerintah daerah, komunitas, dan media juga luar biasa. Ketika semua dipadukan dengan inovasi, kreativitas, dan teknologi, potensi tersebut akan memberi nilai tambah, berdampak pada ekonomi masyarakat, serta membuka lapangan pekerjaan,” kata Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.

Meski begitu, ia mengatakan kota Malang perlu terus menjaga regenerasi talenta dan memastikan pusat kreatif Malang Creative Center (MCC) menjadi ekosistem yang hidup yang melahirkan kreativitas, kewirausahaan, lapangan kerja, serta dampak ekonomi bagi masyarakat.

Riefky juga mengapresiasi Festival Mbois 11 bertema “Malang Menyala” yang menjadi ruang bertemunya ide, talenta, pasar, dan investasi, agar karya kreatif tidak hanya sebagai pameran namun dapat dikomersialisasikan.

“Festival seperti Mbois menjadi ruang bertemunya ide, talenta, pasar, dan investasi, agar karya tidak berhenti setelah festival, tetapi terus dikembangkan, dilindungi KI (Kekayaan Intelektual)-nya, dan dikomersialisasikan,” katanya.

Menteri Ekraf meninjau sejumlah agenda Festival Mbois 11, di antaranya Pameran Muraloka Informasi 100 Tahun Gajayana, potensi lima kekayaan intelektual lokal, Media Art Exhibition karya akademisi DKV dan Seni Rupa, serta area sportainment dan bus digitalisasi ekonomi kreatif.

Festival Mbois 11 yang diinisiasi Malang Creative Fusion (MCF) berlangsung pada 21–23 Agustus 2026. Gelaran ini menargetkan lebih dari 20.000 pengunjung, 500 pelaku kreatif, 300 business matching, serta potensi nilai transaksi ekonomi mencapai Rp50 hingga Rp150 miliar.

Festival yang berlangsung selama tiga hari tersebut menghadirkan lima klaster utama, yaitu Sound of Malang Menyala, Made by Arema, Malang Sportainment, Malang Creative Connect, dan Malang Media Art Experience.

Ketua Pelaksana Festival Mbois 11, Gedeon Soerja, mengatakan kehadiran Menteri Ekraf menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan ekosistem kreatif di Kota Malang.

“Salah satu kebanggaan buat kami, event kami didatangi oleh Pak Menteri Ekraf. Terkait pameran kami juga menonjolkan 21 subsektor Ekraf dan harapannya Festival Mbois 11 ini menjadi wadah integrasi antarkomunitas dan pemangku kepentingan untuk memperkuat posisi Malang sebagai Living Media City,” kata Gedeon.

Sebagai Creative Impact Platform, Festival Mbois 11 turut memperkuat jejaring antarkota kreatif sekaligus menjadi bagian dari Road to World Conference on Creative Economy (WCCE).

Dukungan ini berlandaskan pada Perpres Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rindekraf 2026–2045, yang menyebut pemerintah pusat dan daerah harus berkolaborasi dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif melalui berbagai program, mulai dari penguatan riset, pendidikan, pembiayaan, infrastruktur, pemasaran, insentif, hingga fasilitasi dan konservasi kekayaan intelektual.

Pewarta: Fitra Ashari
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.