Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan pentingnya peran guru dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman, termasuk mencegah perilaku kekerasan melalui keteladanan, toleransi, dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya menjalankan fungsi sebagai agen pembelajaran (agent of learning), namun juga harus berperan sebagai agen peradaban (agent of civilization) yang menjadi teladan bagi peserta didik dalam membangun hubungan sosial.
“Guru tidak sekadar menjadi agent of learning yang melakukan transfer of knowledge, values, and skills, tetapi mereka adalah role model, figur sentral yang bisa digugu dan ditiru oleh murid-muridnya,” kata Mendikdasmen Mu'ti di Jakarta, Jumat.
Hal itu disampaikan dalam Webinar Internasional Pendidikan Bermutu Untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman secara daring.
Ia menjelaskan budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik sekolah, namun juga oleh nilai dan perilaku seluruh warga sekolah dalam memperlakukan orang lain.
Karena itu, pihaknya senantiasa berkomitmen untuk terus membangun budaya sekolah yang mencerminkan sikap toleran, terbuka, serta mampu menerima keberadaan mereka yang berbeda.
"Hal ini menjadi prasyarat atau keharusan untuk menciptakan sekolah yang aman dan nyaman, sehingga dapat menumbuhkan kepribadian yang terbuka," ujarnya.
Mu'ti mengatakan bahwa sikap toleransi perlu dibangun secara otentik, bukan sekadar membiarkan adanya perbedaan.
Ia menjelaskan authentic tolerance atau toleransi otentik mencakup kemampuan meyakini kebenaran agama masing-masing, memahami perbedaan, menerima mereka yang berbeda, saling menghormati, hingga mampu bekerja sama dengan kelompok yang memiliki keyakinan berbeda.
Menurut dia, kemampuan tersebut penting ditanamkan di sekolah karena peserta didik hidup dalam lingkungan sosial yang beragam.
"Program dan forum seperti ini penting agar kita lebih mengenal orang lain yang berbeda, serta menghormati dan menerimanya dengan ketulusan dan sikap dewasa. Sebab, meskipun ada perbedaan, kita juga memiliki banyak persamaan di antara kita," katanya.
Selain toleransi, Mendikdasmen Mu'ti menilai peserta didik juga perlu memiliki keterampilan sosial (social skills) untuk berinteraksi secara sehat dengan orang lain.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep learning to live together atau belajar untuk hidup bersama, yang menurutnya menjadi bagian penting dalam proses pendidikan sehingga mendorong penguatan pluralisme positif di lingkungan pendidikan.
Melalui konsep tersebut, kata Mu'ti, peserta didik tidak hanya didorong untuk teguh menjalankan keyakinannya masing-masing, tetapi juga mampu memberikan ruang dan memfasilitasi mereka yang berbeda.
"Perbedaan tidak menjadi pemisah, melainkan menjadi kekayaan yang memungkinkan kita untuk saling bekerja sama," ujarnya.
Mu'ti pun menegaskan penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman juga membutuhkan keterlibatan ekosistem yang lebih luas, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lingkungan digital.
Menurut dia, perilaku kekerasan yang muncul pada anak dapat dipengaruhi berbagai lingkungan di luar sekolah, termasuk keluarga, masyarakat, serta konten yang dikonsumsi melalui media massa maupun media sosial.
"Upaya menciptakan sekolah yang aman dan nyaman tidak berhenti di sekolah saja, tetapi juga memerlukan ekosistem yang mendukung di masyarakat dan keluarga," katanya.
Ia mengatakan interaksi yang sehat antara anak dengan teman sebaya maupun orang dewasa dapat membentuk kebiasaan untuk saling menghormati dan menerima.
"Semakin banyak anak-anak berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dalam suasana yang saling memuliakan, mereka akan memiliki perilaku baik dengan sincerity to accept and accommodate others," kata Mu'ti.
Lebih lanjut, ia juga menambahkan guru memiliki posisi strategis dalam membentuk hidden curriculum di sekolah melalui praktik dan pengalaman yang dialami peserta didik setiap hari.
Lingkungan sekolah, menurut dia, dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar menerapkan nilai toleransi, keterbukaan, dan kerja sama, bukan hanya memahami nilai tersebut secara teoritis.
Hal itu sejalan dengan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menempatkan pengalaman dan praktik pendidikan sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
"Substansi pendidikan adalah membangun peradaban dan karakter, sehingga manusia memiliki sikap utama serta komitmen untuk saling memuliakan," katanya.
Dengan demikian, ia menilai guru sebagai figur sentral dalam membentuk sekolah sebagai ruang perjumpaan bagi peserta didik yang berbeda latar belakang.
"Guru dapat menciptakan lingkungan sekolah sebagai meeting point dan melting point, proses di mana mereka yang berbeda bertemu di sekolah sebagai rumah bersama, lalu dibentuk secara edukatif dan alamiah untuk memiliki sikap toleran, terbuka, serta siap bekerja sama," ujarnya.
Ia berharap forum dalam rangka memperingati Hari Guru Sedunia tersebut dapat memperluas wawasan dan pengalaman para pemangku kepentingan pendidikan dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.