asiawebawards.com
  • 2026-07-21 12:59:31 +0000 UTC

    Jul 21, 2026

    Megawati Kenang 30 Tahun Kudatuli: Saya Sedih, Tapi Enggak Menangis

    Jakarta, CNN Indonesia --

    Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri kembali mengenang peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang dikenal Kudatuli sebagai peristiwa yang tidak ia mengerti hingga saat ini.

    Megawati hadir dalam pameran memperingati 30 tahun peristiwa tersebut di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).

    ADVERTISEMENT

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    "Saya sendiri sampai hari ini tidak mengerti? Meskipun dalam batin saya mengerti," kata Megawati dalam pidatonya usai berkeliling melihat sejumlah foto dokumentasi pameran peristiwa tersebut.

    Padahal, menurut Megawati, kantor PDIP (dulu PDI) di Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat sebagai kantor sah yang diberikan negara. Kantor tersebut bersebelahan dengan PPP.

    "Tempatnya saja sah. Itu diberikan oleh negara, bersebelahan dengan PPP. Jadi saya tuh suka heran, kenapa kok diserang ya?" ujarnya.

    Presiden kelima RI itu mengaku lebih heran, karena penyerangan juga termasuk dilakukan oleh aparat negara.

    "Dan serangnya itu juga bukan dari luar, dari aparat kita. Saya suka marah-marah loh," katanya.

    Kini, Megawati mengenang Kudatuli sebagai simbol ketidakadilan. Selain sebagai partai yang sah, dia heran penyerangan juga dilakukan hanya karena PDI kala itu menang pemilu.

    "Lah tempatnya aja sah. Saya didukung juga sah. Tapi kenapa karena saya yang menang lalu kok saya dibeginikan?" Katanya.

    Megawati menegaskan bahwa dirinya bukan provokator. Dia bilang dirinya adalah orang yang memiliki harga diri. Megawati mengaku kerap sedih jika mengenang peristiwa tersebut.

    "Saya sedih loh. Tapi saya enggak menangis. Karena buat saya menangis tuh cengeng. Tapi di dalam hati saya, saya perih sekali," ujar Megawati.

    Kudatuli hingga kini dikenang sebagai sejarah kelam di akhir kepemimpinan Presiden kedua RI, Soeharto. Peristiwa itu dipicu oleh dualisme kepemimpinan PDI antara Megawati dan Soerjadi sebagai proksi pemerintah.

    Soeharto yang gusar dengan popularitas Megawati di PDI, menggelar kongres tandingan di Medan pada Juni 1996, dan menetapkan Soerjadi sebagai ketua umum.

    Namun, Megawati sebagai ketua umum yang sah menolak kongres tersebut dan mempertahankan kantor partai.

    Sebulan usai kongres itulah, Kudatuli kemudian pecah. Soerjadi mengerahkan massa pendukungnya dibantu pemerintah dan aparat militer untuk mengambil alih kantor partai.

    Temuan Komnas HAM, sebanyak lima orang meninggal selama kerusuhan. Sementara, 149 cedera, 23 orang hilang, dan 136 ditahan.

    (thr/fra)

    Add

    as a preferred
    source on Google

    [Gambas:Video CNN]

    2026-07-21 12:59:31 +0000 UTC