Pontianak (ANTARA) - PT Mayawana Persada menyerahkan dukungan sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (2/9).

Dukungan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi antara pemerintah dan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dalam memperkuat kesiapsiagaan serta kapasitas penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Sarana yang diserahkan terdiri atas enam set mesin pompa air, enam unit selang pemadam berukuran 1,5 inci x 20 meter, dan enam nozzle sebagai peralatan pendukung pemadaman di lapangan.

Selain itu, perusahaan menyerahkan 50 dus susu sapi kaleng siap minum serta vitamin C untuk mendukung kebutuhan personel yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Penyerahan bantuan tersebut menindaklanjuti pertemuan Kementerian Kehutanan bersama perusahaan pemegang PBPH pada Selasa (1/9). Dalam pertemuan itu, pemerintah mengimbau pemegang PBPH untuk bergotong royong memperkuat upaya penanganan karhutla yang saat ini menjadi perhatian nasional.

Direktur PT Mayawana Persada Iwan Budiman, S.Hut., mengatakan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama karena risiko dan dampak kebakaran tidak mengenal batas administratif maupun wilayah pengelolaan.

“Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan kesiapsiagaan dan kerja bersama. Ketika pemerintah mengajak para pemegang PBPH untuk bergotong royong memperkuat penanganan di lapangan, kami memandang hal tersebut sebagai tanggung jawab bersama yang perlu segera direspons. Dukungan peralatan ini kami harapkan dapat menambah kapasitas tim dalam melakukan penanganan secara cepat dan efektif ketika dibutuhkan,” ujar Iwan.

Menurut Iwan, dukungan kepada DLHK Kalimantan Barat juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghadapi risiko karhutla.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat Ir. H. Adi Yani, M.H., mengapresiasi dukungan yang diberikan PT Mayawana Persada.

Menurutnya, pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dan kesiapsiagaan bersama, baik dalam pencegahan maupun penanganan di lapangan. Dukungan sarana dan prasarana dari PT Mayawana Persada ini tentu akan menambah kapasitas yang tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat respons pengendalian karhutla di Kalimantan Barat,” ujar Adi Yani.

Ia juga mengimbau perusahaan pemegang PBPH dan perkebunan kelapa sawit untuk mengambil peran dalam upaya pemadaman karhutla.

“Melalui momentum ini, saya mengimbau para perusahaan PBPH dan perkebunan kelapa sawit untuk mengambil perannya dalam upaya pemadaman karhutla,” katanya.

Adi Yani menambahkan, dukungan dari perusahaan PBPH diharapkan tidak berhenti pada penyerahan peralatan, tetapi menjadi bagian dari kerja bersama yang berkelanjutan.

“Yang paling penting adalah bagaimana seluruh sumber daya yang kita miliki dapat saling mendukung. Pemerintah, dunia usaha, KPH, masyarakat, dan berbagai pihak di lapangan memiliki perannya masing-masing. Dengan koordinasi yang baik, upaya deteksi dini dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko meluasnya kebakaran dapat kita tekan bersama,” lanjutnya.
 

PT Mayawana Persada menyerahkan dukungan sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Rabu (2/9/2026). (ANTARA/Sucia Lucinda)


Memperkuat Kesiapsiagaan di Lapangan

Selain mendukung upaya bersama pemerintah, Mayawana menjalankan sistem pencegahan dan penanganan karhutla di wilayah operasional perusahaan yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Kesiapsiagaan tersebut dilakukan melalui pemantauan titik panas (hotspot), patroli lapangan, pemanfaatan drone dan sarana pemantauan, kesiapan personel pemadam, serta pemeliharaan sumber air yang dapat digunakan dalam proses pemadaman.

Mayawana saat ini memiliki tujuh regu inti beserta regu pendukung dengan total 170 personel yang tersebar di delapan posko pemadam.

Kesiapan lapangan juga didukung menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air (water point) yang tersebar di empat sektor operasional.

Pemantauan dilakukan siang dan malam. Ketika ditemukan titik api, tim melakukan verifikasi lapangan dan penanganan sesuai kondisi. Setelah api dapat dikendalikan, proses dilanjutkan dengan pendinginan dan pemantauan area untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Iwan mengatakan pengalaman menghadapi risiko karhutla menunjukkan pentingnya membangun sistem yang tidak hanya bekerja ketika kebakaran terjadi, tetapi telah dimulai sejak tahap pencegahan dan kesiapsiagaan.

“Yang perlu terus kita bangun adalah kesiapan sebelum kejadian. Mulai dari pemantauan, ketersediaan personel dan peralatan, sumber air, hingga koordinasi ketika ditemukan titik api. Bantuan yang kami serahkan hari ini merupakan salah satu kontribusi Mayawana untuk memperkuat kesiapan bersama tersebut,” tutup Iwan.

Melalui dukungan sarana pemadaman kepada DLHK Provinsi Kalimantan Barat, Mayawana berharap kolaborasi pemerintah dan pemegang PBPH dapat terus diperkuat, baik dalam pencegahan, kesiapsiagaan maupun penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Pewarta: Sucia Lucinda
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.