Kabupaten Manokwari (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari, Papua Barat, mempercepat  penyusunan Peta Kerawanan Pangan atau food security and vulnerability atlas (FSVA) 2026 untuk mengidentifikasi wilayah yang rentan masalah ketersediaan, akses dan pemanfaatan bahan pangan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Manokwari Mukrianto di Manokwari, Rabu, mengatakan bahwa data yang diinput dari 14 distrik menggunakan rumus tertentu nantinya disinkronkan dengan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat.

“Data yang sudah terkumpul dihitung menggunakan rumus dalam aplikasi. Saat ini prosesnya masih berlangsung, dan kami terus berupaya agar cepat rampung,” ujarnya.

Menurut dia, ada sejumlah data pada peta FSVA 2023 dinilai masih relevan untuk digunakan kembali sebagai dasar penyusunan peta terbaru, sedangkan data yang mengalami perubahan akan diperbarui sesuai kondisi terkini di masing-masing wilayah.

Berdasarkan FSVA 2023 ada tiga distrik masuk prioritas dua yaitu, Distrik Warmare 60 persen, Distrik Masni dan Tanah Rubuh masing-masing 20 persen. Sementara prioritas tiga meliputi, Tanah Rubuh 33 persen, Manokwari Utara 12 persen, Masni dan Prafi 7 persen.

“Tidak ada distrik di Kabupaten Manokwari yang masuk prioritas kerawanan satu. Kalau Distrik Manokwari Selatan, masuk prioritas dua dengan persentase paling kecil yaitu 5 persen,” ujarnya.

Ia menjelaskan masuknya Distrik Prafi dalam kategori kerawanan pangan prioritas satu maupun dua karena tidak semua kampung merupakan kawasan pertanian, sehingga perlu diidentifikasi agar strategi intervensi lebih tepat sasaran.

Penyusunan peta FSVA membantu pemerintah daerah dalam merumuskan program yang lebih efektif, termasuk penyaluran bantuan sosial, pelayanan kesehatan, serta kegiatan peningkatan gizi masyarakat di daerah-daerah prioritas.

“Peta kerawanan pangan juga bermanfaat untuk mendukung upaya penurunan angka kemiskinan secara berkelanjutan,” ucap Mukrianto.

Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.