Ambon (ANTARA) - Maluku Coffee Week (MCW) yang dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 8 November 2026 menjadi upaya memperkenalkan potensi kopi lokal sekaligus membangun kolaborasi antarpelaku industri kopi di Maluku yang selama ini dinilai belum terhubung secara optimal.
Show Director Maluku Coffee Week, Otham Amir di Ambon, Minggu, mengatakan kegiatan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang, termasuk penelusuran potensi kopi dan tradisi minum kopi yang berkembang di berbagai wilayah Maluku.
“Kalau kita bicara soal rasa, Maluku punya sejarah. Kapal-kapal datang dari jauh untuk mencari tempat-tempat di mana rasa itu tumbuh. Namun, kalau melihat kondisi sekarang, justru kita yang belum banyak mendapat perhatian,” katanya.
Ia menjelaskan, potensi sumber daya alam Maluku perlu diperkenalkan lebih luas agar kopi daerah tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mendapat tempat dalam perkembangan industri kopi nasional.
Menurutnya, selama ini pembicaraan mengenai kopi di kawasan Indonesia timur kerap lebih banyak menyoroti daerah lain, sementara Maluku memiliki kekayaan varietas dan tradisi yang berpotensi menjadi identitas tersendiri.
Karena itu, Maluku Coffee Week diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali potensi tersebut sekaligus membangun kesadaran bahwa Maluku tidak hanya dikenal melalui rempah-rempah, tetapi juga memiliki sejarah dan budaya kopi.
Dari sisi persiapan, penyelenggaraan kegiatan itu telah memasuki tahap teknis, mulai dari penyusunan struktur pelaksanaan hingga pembagian peran. Penyelenggara juga mulai mengunjungi sejumlah kedai kopi untuk menyampaikan gagasan dan tujuan kegiatan kepada para pelaku usaha.
Ia mengakui, salah satu tantangan yang dihadapi adalah belum terbangunnya komunikasi dan kebersamaan yang kuat di antara kedai kopi di Maluku.
“Padahal, sejumlah pelaku usaha memiliki harapan yang sama untuk memiliki ruang pertemuan dan kegiatan bersama,” ujarnya.
Untuk penyelenggaraan perdana, Maluku Coffee Week tidak menargetkan capaian besar dari sisi industri maupun komersial. Fokus utamanya adalah mempertemukan para pelaku kopi, membangun komunikasi, dan menyamakan arah pengembangan kopi Maluku ke depan.
“Harapan teman-teman untuk tahun pertama ini sederhana, yang penting kita bertemu dulu, merayakan bersama, kemudian memikirkan konsep apa yang akan dibuat berikutnya. Kita perlu seirama dulu,” harapnya.
Sementara itu, Project Manager Maluku Coffe Week Rifandi Ichsan mengatakan, Maluku Coffee Week akan mengangkat empat elemen utama, yakni literasi, kebudayaan, musik, dan lingkungan. Keempat elemen tersebut dipilih karena dinilai memiliki keterkaitan dengan kopi dan dapat menjadi pendekatan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Musik, misalnya, dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman menikmati kopi di kedai,” kata Rifandi.
Melalui perpaduan tersebut, penyelenggara ingin mendekatkan masyarakat dengan kopi melalui aktivitas yang mereka sukai, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap produk kopi lokal.
Dalam pelaksanaannya, Maluku Coffee Week akan menghadirkan tiga kategori kopi, yakni kopi tradisional, kopi modern, dan coffee street. Ketiganya diharapkan dapat mewakili keragaman cara masyarakat menikmati dan mengembangkan kopi di Maluku.
Penyelenggara menilai, keterlibatan ketiga kategori tersebut menjadi langkah penting untuk mempertemukan pelaku kopi yang selama ini belum banyak memiliki kesempatan berkumpul dalam satu kegiatan.
Selain membangun kolaborasi, kegiatan itu juga akan memperkenalkan sejumlah varietas kopi Maluku, termasuk kopi liberika dari Pulau Seram dan kopi robusta dari Namsina, Pulau Buru.
Keterlibatan petani dari berbagai daerah menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan kopi lokal.
Meski memiliki potensi varietas dan wilayah penghasil kopi, pengembangan komoditas tersebut masih menghadapi tantangan, terutama dalam proses produksi.
Sebagian petani masih menggunakan metode tradisional dan belum terbiasa memanfaatkan mesin pengolahan untuk menjaga kualitas produk.
Menurut penyelenggara, pengembangan kopi Maluku karena itu tidak cukup dilakukan melalui promosi, tetapi juga perlu disertai upaya membangun ekosistem yang melibatkan petani, barista, pemilik kedai, komunitas, dan pelaku industri lainnya.
Ia optimistis kopi Maluku memiliki peluang bersaing di tingkat nasional apabila para pelakunya bersedia memulai langkah bersama melalui ruang kolaborasi yang berkelanjutan.
Selain memperkenalkan kopi, upaya pengembangan juga telah dilakukan melalui penanaman di sejumlah wilayah, termasuk kawasan kaki Gunung Banda dan beberapa lokasi di Seram Bagian Timur.
Melalui Maluku Coffee Week, penyelenggara berharap semakin banyak masyarakat mengenal dan mencintai kopi lokal, sehingga ketertarikan tersebut dapat berlanjut pada peningkatan kunjungan ke kedai kopi serta tumbuhnya dukungan terhadap petani dan pelaku usaha kopi di Maluku.
Pewarta: Winda Herman
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.