Warta Ekonomi, Jakarta -
Luiz Inacio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden Brasil setelah mengalahkan senator sayap kanan Flavio Bolsonaro dalam putaran kedua. Kemenangan tipis tersebut memastikan Lula meraih masa jabatan keempatnya yang tidak berlangsung secara berturut-turut.
Berdasarkan hasil resmi, Lula memperoleh 51,75 persen suara, sedangkan Flavio Bolsonaro meraih 48,25 persen. Hasil ini terbilang dramatis karena Flavio, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, sempat unggul pada putaran pertama dan percaya diri menghadapi hari pemungutan suara.
Kemenangan Lula sekaligus menjadi hambatan bagi gelombang politik konservatif yang meluas di Amerika Latin. Sejumlah negara, termasuk Argentina, Chili, Kolombia, dan Peru, sebelumnya beralih ke haluan kanan dengan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, perjalanan menuju penetapan hasil pemilu tidak berlangsung mulus. Kampanye diwarnai skandal dan saling tuduh, sementara pelaksanaan pemungutan suara sempat memicu kontroversi setelah Mahkamah Agung memperpanjang waktu pemilihan selama dua jam.
Perpanjangan tersebut dilakukan atas permintaan Lula yang melaporkan penghentian layanan bus di sejumlah kota. Kondisi itu dinilai menghambat warga untuk mendatangi tempat pemungutan suara dan menggunakan hak pilih mereka.
Flavio Bolsonaro juga sempat meminta tambahan waktu pemungutan suara di beberapa wilayah akibat hujan deras. Meski demikian, kubunya mengecam keputusan yang memperpanjang waktu pemilihan secara nasional.
Ketegangan turut terlihat selama proses penghitungan suara. Nikolas Ferreira, legislator pendukung Bolsonaro, menulis di platform X, "Entah kita menang, atau kita menang. Anggap saja ini peringatan," saat hasil pemungutan suara masih dihitung.
Baca Juga: Obama Sindir Trump soal Perang Iran, Singgung Kesepakatan Nuklir Tanpa Tembakan Rudal
Perdebatan tersebut mencerminkan perpecahan politik di Brasil, negara dengan populasi lebih dari 200 juta jiwa. Aurelio Junior (45), seorang dokter gigi, mengkritik perpanjangan waktu pemungutan suara dengan mengatakan, "Ini memalukan. Belum pernah ada kejadian seperti ini di Brasil, dan sekarang mereka malah mencetuskan ide untuk memperpanjang waktu pemilihan selama dua jam."
Sebaliknya, pendukung Lula, Jacqueline Maria Lima de Franca (34), pemilik usaha di Rio de Janeiro, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah yang wajar. Ia mengatakan, "sangat wajar... setiap orang seharusnya memiliki hak untuk memilih, dan hak itu selama ini terabaikan."
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy